January 24, 2012

Pelangi di Ujung Jemari

 
Hidup memang tak selalu maju ke depan, sesekali menoleh ke belakang atau menempuh segenap kelokan...

UNTAIAN kata-kata puitis tak padu itu mengawali hidupku pagi ini. Dering alarm ponsel, bising menyadarkan mimpi tak sempurna tadi malam. Masih berat sebenarnya kepalaku, oleh masalah kantor, keluarga, juga kamu. “Ya, kamu,” sergahku. Penyegar sekaligus beban dalam hidupku kini. Mantan terindah sewaktu kuliah dulu hadir kembali sejak pertemuan tak sengaja dua minggu lalu, lewat jejaring sosial. Benar. Lewat Facebook.

“Rasanya cukup menyesal aku membuat akun itu,” gumamku.
 

 “Mengapa dengan aku?” jawabmu balik bertanya.

Secara tiba-tiba kau datang. Tiada yang mengundangmu sebenarnya. Tak jua aku. Kisah kita juga telah berakhir lama menurutku. Aku telah putuskan tali itu. Sudah silam hingga aku lupa tepatnya kapan. Tak terelakkan kau memang spesial bagiku, tapi dulu. Sebelum aku menikahi Shinta, gadis kota kembang yang mungkin dikirimkan Tuhan tuk menghapus sepiku. Sepi keluargaku lebih tepatnya.

“Apa bedanya?” lanjutmu.

“Beda. Dia tak benar-benar kupilih saat itu. Dia perempuan pilihan ibu. Tapi aku tak menolaknya ketika kami dipertemukan. Sebab tak ada pilihan lain. Aku tak punya calon. Sedang ibu mendesakku untuk segera menikah,” jelasku panjang.

“Pepatah Jawa memang rasanya kurang klik dengan kisahku ini. Ya. Mungkin harus diganti: ‘Wiwiting tresna jalaran ora ana sing liya’ bukan ‘jalaran saka kulina’.”

Tak seharusnya aku menceritakan itu semua. Ini keluargaku yang sah. Yang penuh harmoni nan rasa cinta. Tak pantas aku menurunkan citranya. Citra istriku khususnya.

“Tak apa, aku tak akan banyak berkomentar kok. Hanya berusaha menjadi pendengar setia. Aku juga tak ingin tahu banyak soal keluargamu. Keluarga kecil bersama wanita ibumu. Yang kau agung-agungkan itu. Namun, bukankah sepi, dingin, dan hampa yang kau rasa?” angkatmu.

“Aku tak tahu. Aku bingung menjelaskan ini semua. Hatiku gundah antara dua pilihan,” gerutuku.

“Ayolah Van. Ini mudah. Tak serumit kisah Romeo-Juliet atau juga romansa Napoleon-Josephina. Kau lelaki. Kau tinggal pilih saja,” katamu kemudian.

“Tak semudah itu. Aku juga tak seburuk itu kepada seorang wanita, apalagi istriku sendiri. Sangat biadab rasanya. Aku tak sanggup,” ujarku seraya menolak.

“Lalu?”

“Apa?”

Andai saja kau bukan suami sah Shinta Lusiana. Pasti kau sudah bahagia jadi pendampingku kini. Mengusir sepi, menghangatkan hati yang kadangkala beku, menemani tidurku, membicarakan soal masa depan, menentukan jumlah anak-anak kita, serta mana yang terdahulu, anak lelaki ataukah perempuan.

“Sudah, kubur saja semua imajinasimu itu...”

“Bukankah hidup berawal dari mimpi?” lanjutmu.

Ya. Mimpi indah. Mimpi di mana tak seorang pun akan terluka. Mimpi yang membuat semuanya tersenyum mesra. Tak ada tangis, air mata, juga deru derita.

Sudah. Bangun saja dari ini semua.

“Bukankah kau sudah cukup bahagia seperti ini?”

“Ya... Tapi aku ingin lebih. Ingin selalu hadir kapan pun saat kau membuka mata,” katamu seraya memohon.

“Dasar pelindur, pemimpi ulung. Mana mungkin kita bisa bersama seperti dulu. Bergandengan tangan ke mana saja, berbincang ketika ingin mencurahkan semua, menelepon saat salah satu gundah atau bertemu meski harus mencuri waktu kuliah.”

Kenangan indah itu sudah lapuk. Termakan rayap-rayap kehidupan baru. Tak juga bisa kembali, meski hati sebenarnya ingin beralih. Sebagaimana abu kertas yang tak mungkin lagi menjadi kertas. Tetap hitam dan selamanya takkan jadi putih. Terjaga keruh atau semakin bertambah keruh hubungan kita ini.
***
           
SIANG ini. Cukup cerah untuk musim penghujan di kota sejuk ini. Langit juga tersenyum menyapa. Kau berkabar ingin bersua denganku. Tak biasanya kau yang menghampiri. Kau datang ke kotaku dengan sejuta harap lagi kerinduan. Aku bisa rasakan itu meski kau tak mengurainya dalam kata-kata. Kau menyewa sebuah kamar hotel dan menungguku datang ke ruangan itu. Terdiam sendiri. Sunyi hati yang tak bisa seorang pun membohongi.

Sudah beberapa jam kami mengobrol. Banyak cerita baru yang kau lontarkan begitu saja. Tak canggung lagi seperti waktu itu, di mana sesekali kita diam dan hanya saling memandang. Cerita tentang keseharianmu dan berbagai komposisi tambahannya. Kadangkala menyenangkan, sementara yang lain mengharu biru.

“Benang kehidupan memang terkadang kusut,” tambahku.

Kau tersenyum.

“Seringkali harus susah dahulu sebelum kau temui bahagia.”

Senyum itu menyeruak lagi. Bukan senyum bahagia atau suka cita. Lebih tepatnya topeng tuk tutupi segala kebimbangan. Kalut hatimu juga bisa kurasa. Cukup tragis. Tapi kau tak sadar akan hal itu.

Segera kau membuang muka ke arah jendela. Mengarahkan perhatian ke arah keramaian publik yang tak pernah tidur di luar sana. Mengeluarkan sebatang rokok mentol dari balik sakumu. Menyalakan dengan pemantik milikku yang tak sengaja kuletakkan di dekatmu. Menghisap dalam. Lalu menghembuskan asap ke langit-langit ruangan hingga membentuk beberapa semu lingkaran. Aroma tembakau juga santer tercium. Kulihat jemarimu sangat piawai memutar-mutarkan putung yang masih menyala itu sembari memberi jeda sebelum kau hisap lagi. Bibir indahmu juga tak tampak hitam karena nikotin. Mungkin juga tertutupi lipstik merah menyala itu.

Kami terdiam. Kamar itu tak bersuara. Hanya asap yang bergema menyuarakan kebimbangan kita.

“Kau masih suka menulis?” tanyaku memecah sepi.

Kau mengangguk.

“Tapi, mana karya-karya terbarumu? Kau berhenti sampai di puisi itu,” tanyaku ingin tahu.

“Aku mengarang berdasar interpretasi realita hidup. Dan ceritaku masih tetap di tempat ini. Berhenti. Belum maju. Lembar baru juga belum terbuka. Aku tak punya inspirasi segar lagi.”

“Apa maksudmu? Puisi itu tentang kita?”

Kau menunduk lesu. Entah malu atau leher itu sudah tak sanggup lagi menopang beban masalah di kepala mungilmu.

Aku masih ingat bebarapa kalimatnya:
            sepi merangkai arti
            sendiri
            dalam sunyi
            harap berganti
            tuk lalui emosi
            secerca menghampiri
            binar simfoni
            berpasang cintai elegi
            berarti
            namun terurai mati
            hingga nanti
            terpatri

“Sudah. Cukup. Aku tak mau dengar lagi. Aku letih akan semua ini,” pintamu.

Tak lama. Air mata itu akhirnya menetes. Makin deras. Hingga wajah itu kini terbasahi. Kau memelukku seketika. Merebahkan kepalamu di dadaku yang lumayan luas bidangnya ini.

Suasana menjadi dingin. Diam. Hanya gemericik isak tangis yang mengurai segala kerumitan.

“Menangislah sejadi-jadinya!  Setelahnya kau akan merasa lega. Mungkin bersama air mata itu mengalir pula segala beban masalah kita.”

Kau tak mengiraukan. Terus menangis...

Luapan emosi itu terhenti. Air mukamu juga sudah berubah. Hanya sisa bekas tangis yang masih tertinggal di pipimu yang merona. Aku mengusapnya dengan tangan ini. Dengan perasaan layaknya sepasang merpati memadu kasih. Kau sangat cantik. Bahkan saat menangis, kau sangat cantik. Aku terkesan.

“Apa rasanya sekarang?” tanyaku.

“Aku merasa ringan. Pundakku tak kaku lagi. Seperti ada yang menopang dari belakang. Sayapku juga mungkin telah terlengkapi. Aku bisa terbang kini,” jawabmu.

“Itulah peran kita. Peranmu juga peranku dalam sandiwara ini...”

“Peran?”

“Ya. Kita bak pemain drama roman picisan yang sedang pentas. Penuh cerita, makna, dan penghayatan. Mimik dan skenario juga amat sempurna. Nyaris tanpa cacat.”

“Itu karena kita bermain dalam cerita dan peran yang sesungguhnya. Tak ada kemunafikan. Kita suci. Tak ada noda dalam diri kita.”

“Noda? Bukankah kita berperan di atas kebohongan terbesar? Bukankah kita selalu mengenakan topeng tuk tutupi semua? Apa kau lupa?” tanyaku.

“Aku tak lupa. Berlagak pelupa mungkin lebih baik. Berharap bisa lupa dan tak ingat lagi,” balasmu.
***

AKU kembali ke rumah seperti biasa. Tak ada yang berbeda. Shinta juga tampak tak curiga. Masih menebar senyum dan binar dari ujung matanya. Mungkin karena dia lugu atau aku yang terlampau lihai menutupi sebongkah peristiwa. Terkadang aku merasa bersalah pada Shinta, pada diriku, pada semua. Aku malu.

Kuperhatikan Shinta, seksama, menyeduh secangkir kopi panas untukku yang termenung menanti di ruang tengah. Memandang langit dari balik pintu kaca yang mulai mendung dan tak bersahabat. Semendung hati ini. Kulihat istriku sangat cantik, baik pula. Tak pantas aku menduakannya.

Kusesali dan terus seperti itu. Terkadang aku merasa tak benar-benar menjadi lelaki. Pecundang ulung. Pecundang bermuka dua.

Terlintas dalam benakku, aku harus pindah dari kota ini. Lari dari kenyataan untuk membangun kenyataan lain yang baru. Yang kami tahu apa maksud serta akhir ceritanya. Tekatku sudah bulat. Aku harus melakukan ini. Menghilang demi kebahagiaan yang sempat hilang tergadaikan.

Aku berbicara serius dengan Shinta.

“Kita harus pindah. Tak ada yang kita cari di kota ini lagi. Terlalu banyak kerikil tajam di sini. Kau tak keberatan kan dengan semua keputusanku?”

“Aku... Aku terserah kamu. Aku ikut saja... Jika itu yang terbaik...”
***

KAMI pindah ke kota kecil beratus kilometer menjauh dari tempat itu. Ke sebuah pemukiman yang cukup tenang serta asri. Dengan motivasi dan ekspektasi baru. Hidup baru. Cerita terdahulu. Bersamamu. Bersama keluarga kecil ini yang suatu hari pasti tumbuh besar. Kutitipkan message-Facebook terakhir dariku untuk Rena tanda perpisahan kita, esok dan selamanya. Kututup pula akun itu bersama cerita yang telah mematri beberapa romansa.

Aku bukan di sana. Tapi di sini. Menghapusmu, pelangi... 
(IPM)

Bandung, Juni 2011

0 comments:

Post a Comment

Followers