January 22, 2015

Ada Pelangi yang Tak Pernah Mengukir Ujungnya


Ada pelangi yang tak pernah mengukir di mana ujungnya, sambanglah ia, yang selalu memujimu ke mana pun kamu berlagu. Menanti deru sapamu di setiap tikungan senja. Tikungan yang tak pernah bisa ditoreh dengan kelepak sayap biasa, perlu berdua untuk menggenapinya.
 
Ialah bayangan yang ada saat tubuhmu melangkah. Ia hadir saat kamu terjaga, berselimut tanda menggigil, serta memeluk hangat sinar mentari yang malu-malu menyapamu dengan rintihan maya.

Tanpa pernah juga kau sadari jikalau denting doamu selalu teramini dengan sajak khasnya. Membahana. Membuat perihal permohonanmu menjadi nyata. Namun, kamu tetap menganggap wajar nun datar. Tak berkesan.

Ia, lebih daripada pelangi yang tak mengizinkan ujung, senantiasa menjelma, melukis beberapa romansa senja bak pertunjukan drama. Saat kamu memejam, dia yang menjagamu dari sentuhan kelam. Menghapus bulir-bulir gelisahmu ketika mimpi tak seindah episode kemarin.

Sungguh, ia yang bermatakan jeli laksana pelangi terus-menerus mengikutimu secara anggun dari kejauhan. Berharap kamu tak merasa. Tak curiga. Ia sangatlah takut menakdirkan perubahan akanmu sehingga berhati-hati mencintai.

Saat kamu bersedih, hendak menghujamkan belati ke kepala. Ia yang lebih merah warnanya dari pelangi, membisikmu dengan segenap kalimat harap sehingga dadamu menjadi kian lapang. Dan sungguh kamu tak mendeteksi keberadaannya. Bersama luka barangkali ia berduka.

Ia jugalah yang menemani malam-malam singkatmu bersama bintang. Ia yang menghadirkan rembulan agar memantulkan berkas ke dalam imaji mata. Kamu terpesona. Tapi segala tak pernah kau tahu, jikalau ia yang memapah menujumu.

Ketika kamu memulaskan harap bersama lembut sprei kamarmu, ia yang lebih semerbak daripada lantunan pelangi, memilih untuk legam bermata: menggadai ganjil kenangan agar mimpimu tetap kian berwarna.

Cinta, dan mungkin juga Tuhan, kadang kala hanya dibutuhkan kala kau merasa kesepian. Dengan segala jemarinya yang senantiasa memeluk tapi tak pernah sampai, ia membelaimu perlahan. Melangkah menemani, sedang kamu tak cukup menggenapi.

Sungguh, ia, lebih dari pelangi yang tak pernah mengukir di mana ujungnya, mengerti apa saja maumu, juga apa yang tak kamu ingini. Ketika mentari singgah, pelangi sirna. Sejak itu kamu merasa janggal akan hidupmu. Seperti ada yang pergi namun kamu tak mengerti. Laksana ada yang hilang tapi kamu tak mengetahui.

Ialah ia, pelangimu, yang takkan berhenti mencinta, yang senantiasa tertegun ketika senja esok tak lagi berwarna.
(IPM)

Bandung, April 2012

#Ilustrasi diunduh dari sini

10 comments:

NF said...

kunjungan balik.. salam.. sori ga bisa komenin postingannya nih, postingan seperti ini butuh ketenangan dalam membacanya :D *in d middle of crowded*

ina syahmina said...

kasihan betul si pelangi :(

aprilia nur said...

itu pelangi apa idham ???

Idham P. Mahatma said...

Pelangi khayalan, buatan Tukang Cerita.

Our Journey said...

gaya bahasanya keren deh XD

kaRtiKa tRianiTa said...

kereeennnn!!

Idham P. Mahatma said...

To : Our Journey

Terima kasih banyak atas apresiasinya.
Tulisan ini dibuat 3 tahun yang lalu, semoga masih renyah untuk dibaca :)

Idham P. Mahatma said...

To : Kartika Trianita

Terima kasih ya, Kartika, sudah memberi jejak di sini.
Kamu juga keren, tak terkecuali :D

Anonymous said...

#warnarasi the worst thing that losing someone is realizing that we just only can communicate to them one way. that's mean we talk to emptivity, talk to something doesn't exist and can not reply. but something worse than ever, we didn't realize, that something we lost, are exist. they are listening to us. And same there, they only can talk, we can not listen. or maybe understand

Idham P. Mahatma said...

What a beautiful sentence, Warnarasi.
Terima kasih karena sudah memberi apresiasi :D

Post a Comment

Followers