April 06, 2012

Selaras Surat untuk Adinda


Untuk Adinda, Tertanda Arjuna

Adinda. Sungguh, dengan sepenuh hati aku menulis sebuah surat berisi untaian puisi. Kepadamu. Kepada kembang yang selalu ingin kukecup kelopaknya, kepada senja yang ingin kulukis siluetnya, kepada semerbak yang ingin kubungkus, kubawa ke dalam saku lengan jaketku, lalu kubiaskan bercahaya hingga teduh dalam toples hati ini. Kau kini yang kumau seutuhnya. Tak kurang. Tak lebih. Namun, lengkap beserta hati yang bermandi sejuta kasih.
 
Adinda. Sungguh raga ini lelah karena kisah. Karena jeri payah yang tak pernah menuntun ke sebuah hasil nyata. Selalu fana. Terkadang, bilamana terlampau sering sesal itu datang, maya kukira adalah sejati, keramaian tak pernah kumengerti, semua bagiku sepi, sunyi, atau bahkan kusangka mati. Dalam angan berbalut harapan, kelak kau akan datang membawa jemarimu beserta lentik kuku-kuku yang merah muda, yang membelai parasmu perlahan tanpa mensyairkan sayatan, yang membuka ruang hati hingga kembali beralih.

Adinda. Sungguh kuharap kau tak kembali. Terus berada di sini. Di samping rusuk ini, mendekap hangat degup jantung yang mengalun perlahan, yang membuncahkan kerinduan, serta menyanyikan simfoni terindah untuk dirimu tersayang. Coba kau renungkan lagi! Semua perkataku tak pernah dusta, tak sekadar rangkaian metafora, juga tak mengada seperti yang dilakukan para lelaki tak berwajah. Lihatlah air mukaku! Tatap sayup mata ini! Tatap! Tatap sekuatmu! Tatap hingga kau tak lagi bisa berkedip ke lain sisi!

Adinda. Sungguh aku tak menyeru kau untuk mencintai. Tak mendongak mulutmu untuk berkata suka. Tak memenjaramu dalam sangkar romansa dengan seseorang yang tak kau cinta. Aku hanya mencoba mengukir rasaku pada lembut dinding hatimu. Tak ada tujuan selain agar kau melihat, agar kau peka, agar kau sadar akan rintihan ini. Kumohon Adinda, jikalau kau harus membenciku, tolong benci dengan sungguh-sungguh. Hardiklah aku sekeras-kerasnya! Sejadi-jadinya! Kumpulkan seluruh tenagamu untuk membenciku! Sebab dengan begitu, aku semakin merasa, semakin bahagia. Kau pasti bimbang, Sayang. Gamang akan alibiku ini. Akan kujelaskan perlahan. Bukalah telingamu lebar, gerai sedikit rambutmu yang menutupinya! Perhatikan! Sesungguhnya tak ada kata benci dalam kamus pujangga. Tak ada halaman yang menuliskan. Tak ada pasal, terlagi ayat. Adinda, semakin kau gores makna benci dalam memorimu, semakin aku tahu jikalau dia terlampau berharga untukmu, sehingga kau –mau tak mau– juga mencintainya. Ingat pula Adinda bahwa dia yang kau maksud adalah aku. Yang masih memapah langkah menujumu.

Adinda. Sungguh tak kutahu apakah kau sudih membaca surat putih ini, mau memandangi, serta ingin meresapi setiap baitnya. Sebab, aku ragu jikalau kau hanya menerima tanpa berminat untuk membuka. Apalah arti penantian apabila tak sanggup bersambang? Apalah makna perhentian jikalau hanya membesarkan spasi? Aku tak bisa menjawab pertanyaan ini. Kau kurasa juga persis beremosi karenaku. Kuharap engkau tahu, bahwasanya tak ada kerugian dalam percintaan, tak ada deposit rasa apabila cahaya masih perkasa dalam dada, serta takkan ada aku lagi bila kau berkata akan pergi. Karena aku takkan tetap di sini, takkan pula menunggumu datang yang tak pasti kembali. Melainkan menjemputmu, yang terjaga tak bertuan bersama indah lekuk senjamu...
Arjuna-Adinda
(IPM)

Bandung, Maret 2012
#Ilustrasi diunduh dari sini

1 comments:

eta story said...

nice :)

Post a Comment

Followers