June 07, 2012

Dua Vokal Tiga Konsonan


Pris-Pras-Pris-Pras...

TERDENGAR sama tapi teramat berbeda. Bukan kembar terlagi pinang dibelah dua. Mereka tak bersambung, tak pula bertali yang membuatnya laik disebut sedarah. Sebab tiada benang di antara mereka. Namun, bagaimana dengan janji? Kukira janji telah lama tak berujung di sini. Kini hanya ada aku yang akan bertutur tentang kisah Pris-Pras dalam imaji. Simaklah dengan seksama karena aku takkan mengulangi, takkan pula memberi penjelasan berlebih. Cukuplah aku sebagai orang ketiga yang gemar bercerita. Panggil aku Tukang Cerita. Tugasmu hanya mendengar, sesekali melempar tanya juga kurasa dibolehkan. Silakan...
***
 

PADA singkat waktu di pelupuk senja, bersinar mentari lelah yang tak lagi menghangatkan. Barangkali saat kau memandang, juga tak ada kelembutan bak cahaya yang menyisir tubuhmu perhalan. Mentari senja kusangka selalu terlihat murung, tak bersemangat, terkadang malah mendinginkan hingga segala raga menjadi kian menggigil.

“Apa jadinya kedinginan karena mentari? Itu tidak mungkin!” sahut Pras keras.

“Tapi, Pras, kau harus ingat tentang analogi mentari dan rasa. Yang menjelaskan jikalau sebuah rasa yang terpendam lama nantinya akan membeku selayaknya sinar mentari senja...” jawab Pris mengheningkan.

“Apa maksudmu?” Pras meragu.
***

SUNGGUH, aku menceritakan apa yang aku pikirkan saat itu. Kujanjikan pula aku tak menambahi dengan sebait rayuan. Sebab kejujuran ialah seperti rias wajah yang norak nun menor. Tak terbayang jikalau masih kuhias dengan rayuan lagi. Di sini sepertinya lebih atau kurang cukup berpengaruh, karena setiap cerita perlu yang namanya ‘pematuh’. Tidakkah mungkin tersirat sepenggal kisah tanpa sepasang ‘pematuh’ yang taat bermain watak. Dan pasti akan berantakan apabila salah satu murung dan yang lain bertarung. Mereka harus menyelesai meski hati enggan berandai.

Dalam hal ini, sungguh sepenuhnya lakon dipegang kendali oleh Pris. Tiada sebab selain inisiatif yang selalu dipegang, semakin diretas, hingga menuju rangkaian kebiasaan. Wanita memang kurasa seringkali menaruh pengaruh di antara sepenggal kisah. Terlagi kisah ini, di mana Pras diharuskan mematuh pada Pris. Sepenuhnya. Seutuhnya. Tak bergerak sampai-sampai tenggelam ditelan belenggu rasa. Rasa yang memetaforakan hati sehingga mengharuskan terus mengharapkan. Namun, itulah kelemahan logika, terkadang mati ketika cinta datang menghampirinya.

Dengan segenap rasio dan akal, Pras berusaha membunuh rasa. Memulai dengan menutup lembar yang mengakses ke arahnya, mengalihkan pandangan untuk memilah lain perhatian, serta menebar kebencian agar rasa tak lagi berdiam singgah. Semua telah dilakukan tapi rasa tetap saja menjadi rasa. Barangkali semakin mewangi, meski tak ada yang mencoba menghangatkan. Senantiasa pula mengalun, walau tiada yang menyairkan. Seluruh rasa bagaikan asap yang menghembus di dalam ruangan, sebab saat asap itu tiada berwujud sedang kita masih bisa merasakan. Hingga kita mencari-cari padahal ia selalu berdiam di sini. Kitalah yang tak melihat, hanya merasa. Itulah analogi rasa.

Bahkan, aku masih mengingat ketika Pras meminjamkan replika tokoh pewayangan kepada seseorang untuk diberikan pada seseorang lain, Pris. Bersebab dipinjami, maka Pris wajib menyerahkan kembali replika itu ketika datang masanya. Masa saat Pras berhasil mengenakan mahkota di hari terbesarnya. Maaf. Kupikir harus kusederhanakan bahasa ini agar kau tak bingung, supaya kau tak bimbang dan mengerti yang kumaksud. Namun, aku menolak. Terkadang misteri memang lebih baik menjadi misteri. Sebab apabila kau tahu semuanya, takkan ada lagi hitam yang ingin kau terangkan. Lantas, kau bosan dengan segalanya. Barangkali meninggihkan pandangan adalah tindakanmu berikutnya. Tapi aku memahami Pris seutuhnya, sebagai tokoh dalam kisah yang kubuat. Dia bukanlah hawa yang duniawi. Tak juga wanita dengan tedeng alih-alih materi. Segala raga dan penampilan baginya hanyalah bungkus agar bisa dierat, disentuh, serta dipegang agar tak lari ke lain arah. Tapi sungguh tak berarti ketika hati keduanya telah berbicara. Setelah semua identitas Pris kubongkar kepadamu, apa lantas kau tak mencintainya? Apa kau tak menaruh rasa kepadanya? Apa kau tetap menganggapnya wanita biasa? Aku ragu dengan semua pandangan kalian. Mulut kalian tidaklah sama dengan mata. Dan aku sangat mempercayai mata.
***

DUA sorot mata bertemu dalam satu relung yang singkat. Sesingkat pandangan pertama yang tak akan menimbulkan dosa. Namun, ketika kau tak cukup dengan satu, maka dua bukanlah opsi yang utuh. Karena sungguh satu menggenapkan, sedang dua melenyapkan.

Sementara hari memang sebagaimana yang dirasa manusia. Semakin waktu, semakin senja saja. Pernah aku menganggap hari adalah sesuatu yang berjalan sama, tak beralih, dan cenderung monoton. Tapi hari sengaja membeda, membuat langkahnya menjadi lebih lebar, lebih cepat, lebih singkat, hingga setiap yang mengikuti akan tersungkur berkali-kali. Saat kau terbangun dari jatuhmu, sungguh tak kautahu jikalau hari telah membawa dia berlalu. Mungkin tertebak oleh kalian jikalau dia yang kumaksud adalah kamu, Pris. Tokoh prameswari yang sedang dicari oleh para pangeran. Sengaja kutuliskan ‘para’ sebab tidak hanya kau di pelupuk matanya.

Tidakkah kau, Pras, mengingat tentang kisah Pris bersama Pangeran Petang-nya terdahulu. Yang mengukir indah romansa hingga setiap insan belum dewasa iri kepadanya. Lantas, kau juga menaruh rindu di antara kehangatan mereka yang mendinginkanmu bak mentari senja. Dingin yang menggigil, yang membuat hatimu tak lagi bisa bergetar dengan gelombang hawa lain. Dan menanti adalah jawaban teragungmu di tengah keheningan. Penantianmu sungguh kukira tak terjawab, sebab tak kaulakukan sepetik dawai napas untuk menarik perhatiannya. Tapi di tengah perjalanan, aku, Tukang Cerita sengaja mengubah haluan kisah Pangeran Petang dan Pris menjadi spasi untuk kaumasuki. Sebentar saja, lantas spasi itu melebar sampai-sampai menganga dan tak tertalikan kembali. Simpul temali yang kuterka abadi akhirnya luput juga. Kukira siapa saja yang menemukan tali itu bisa merajutkan kembali dengan kisahnya yang berbeda. Lalu, mengapa kau tak mencari ujung talinya?

Sudah kubilang, kau, Pras adalah ‘pematuh’ sebagaimana Pris yang sengaja kuciptakan agar aku bisa leluasa bercerita. Kuajarkan pula kepadamu, Pras tentang pelajaran kenangan. Masa lalu sungguh tak pernah dapat kauhilangkan terlagi kauterjemah sehingga berulang. Dan menghapus masa lalu –kenangan– takkan menjadi mudah bagi wanita. Terlagi kenangan itu diukir dengan sengaja menorehnya perlahan melalui ucapan, tindakan, serta beralaskan hati ketulusan. Kulihat, kau, Pras menjadi kian murung. Sudah kubilang di awal cerita tadi, bertanyalah kepadaku, maka aku akan menjawabnya.

“Tukang Cerita, jikalau dia memiliki kenangan yang kuat kepadanya, lantas apa yang harus kuperbuat sebenarnya?”

Kau cukup menyuruhnya memikirkanmu sesekali saja, sebab takkan mampu segala memori itu menguap seketika. Coba buat dia merindumu kadang-kadang sebagaimana dia melakukan itu kepada yang lain terdahulu. Kemudian, terkadang barangkali menjelma menjadi sering. Lalu mewujud terbiasa. Dan di akhir pertemuan, hanya ada dirimu yang diingatnya. Indah, bukan? Namun, apakah dia telah melupakan yang lain? Sungguh tidak jawabku. Dia hanya menimpakan bayanganmu di atas lekuk terdahulunya. Saat dia merindukan dahulu, bisa saja Pangeran Petang datang kembali mengganggunya. Namun, itulah pelajaran kenangan yang tak bisa disirnakan dan tak mampu seketika diretas sempurna. Kini, kau semakin kaya.
***

MAAF, terkadang alur yang kubuat memang terkesan melompat-lompat. Bersebab di dalam hidup semuanya tidak mengalir, tapi menarik ke suatu arus hingga kita yang tidak tahu hanya menganggapnya mengalir. Tiada upaya yang tak membuahkan, kecuali penantian. Tukang cerita pula sengaja tak mengakhirkan kisah ini. Cukup Pras dan sesiapa prameswari yang kau pilih. Ada Putri Malam, ada Permaisuri Mimpi, ada pula Ratu Sunyi, juga Pris. Dan replika tokoh pewayanganmu sengaja kaupinjamkan pada Pris, yang kauharapkan, kaumimpikan, dia datang membawanya kembali tanpaku.
(IPM)

Sby-Bdg, Juni 2012


#Ilustrasi diunduh dari sini

0 comments:

Post a Comment

Followers