December 30, 2012

Untaian yang Sengaja Diganti



Aku mencintai kamu. Namun, kamu menyukainya dibanding dia atau aku.

NAMANYA Kiki, lelaki kurus tinggi dengan setelan rambut selalu cepak. Dia gemar memakai skiny jeans berwarna gelap layaknya pemain band indie. Kaos oblong bersablon merk distro-distro pinggiran kota, serta tas punggung hitam menjadikan paduan lengkap untuk bercerita tentangnya. Tapi, tak ada yang menerka jikalau di balik dandanan itu ada jiwa yang halus selembut sutera. Hati itu, bersih selaksa air yang turun dari pegunungan tinggi nun dingin. Sejuknya, mampu membuka mata ini yang sekian lama menutup karena lampau peristiwa. Dengannya, aku seperti seorang puteri raja.
***
                                                                                     
ENTAHLAH, aku mengagumi lagatmu yang hitam dari balik bayangku yang kelam. Sebenarnya, bukan aku yang memulai kisah ini. Namun, kau yang mengundangku datang sembari bersambang. Kau, sungguhlah harus bertanggung jawab atas rasaku. Sebab, aku kini menjadi kian sering merenung menatap lekukmu dalam rinaiku. Sendiri. Diam dalam sunyi. Hingga suatu saat, hati ini tak sanggup menampa, dan seketika tumpahlah segenap kisah ke dalam bait-bait cerita. Semoga kau tak enggan membacanya.

Aku selalu mengingat satu demi satu kronologi kejadian dalam hidup. Sebab, semua terjadi secara istimewa melalui izin-Nya. Ada kejadian sedih, ada kejadian bahagia, serta ada pula kejadian bermakna yang membawaku seakan terbang mengepak-ngepakan sayap. Oh, setiap kejadian pastilah menoreh sebuah kenangan. Dan mungkin dalam kenang, atau juga angan, aku bisa memilikimu utuh. Tanpanya atau dia yang lain yang kaucinta.
***

KAU tahu, dalam memoria, aku masih terngiang tentang momen awal Desember lalu. Momen di mana mentari bersinar terik dan rembulan tersipu malu di balik awan kelabu. Pagi itu, aku bersiap mengantar sahabatku pergi ke suatu tempat di pinggir jembatan termegah Kota D. Namun, siapa yang menyangka jikalau beberapa rekan yang lain sedang menyiapkan skenario kejutan terindah di bawah sana. Ya, kejutan sebagai penanda ada hari spesial milik seorang wanita, hari di mana usia bertambah dan kedewasaan dengan rela dijamah.

Ketika itu, kau datang membawa lilin merah yang menyala. Mengarahkan langsung pada rona, dan memintaku berdoa seraya meniup pelan api keduanya. Api lilin itu mati, tapi sungguh ada senyum yang tak sanggup menepi. Mata ini, seakan tak percaya akan apa yang dilihatnya. Telinga ini, layaknya bimbang menoreh apa yang dialunkan dari suara. Dan bibir ini, masih saja mengeja tentang segala rasa yang menjelma romansa. Aih, ini cerita dari seorang wanita, dan barangkali kau tak akan mengerti apa yang sesungguhnya kungiangkan dalam bait-bait doa.

“Semoga aku selalu bahagia, dengan atau tanpamu di setiap pucuk senja,” pintaku pada Sang Pencipta.
***

KALI lain, harusnya aku lebih berhati-hati soal hati. Sebab rasa, akan senantiasa merasuk ke dalam dada-dada yang kosong tak termiliki. Rasa tak akan menunggumu menyilakan masuk, tak pula mengetukmu meminta persetujuan. Dia hinggap tanpa permisi pada setiap hati hingga seseorang yang rapuh akan menangisi apabila rasa yang dipuja rela meninggalkannya pergi.

Dalam rasa, ada benci terlagi cinta. Dan sungguh, cinta datang ketika kau pantas menyanjung cinta. Sedang benci bersambang saat kau keras-keras menyuarakan nada-nada sumbang. Nada yang sesak, hingga nuranimu berat dibuatnya. Benci dan cinta sangatlah berbeda tipis, sebab keduanya tercipta dari rasa. Beruntunglah kau yang memiliki keduanya.
***

AKU tak mencintaimu seorang diri. Sebab, aku tahu ada yang diam-diam memperhatikan tinggi langkahmu ketika berjalan pergi mengantarku. Wanita itu, sungguh aku mengenalnya selayaknya begitu dekat. Dia sebenarnya tak pernah menampakkan rona menyukai, tak pula merafikan air muka ingin memiliki. Namun, itulah hati seorang wanita, terkadang lebih tajam menerka, dibandingkan hitam-putih sepasang mata.

Dia selalu mendekatimu meminta diperhatikan. Suaranya yang serak sangat sering terdengar di samping tawamu yang renyah. Entah apa yang sedang kalian gunjingkan, aku tak pernah mengerti. Tak jarang, ketika malam tiba, kau rela memberikan tunggangan terbaikmu untuk mengantarnya pulang. Kau pastikan dia selamat hingga depan pagar rumahnya, dan ditinggalnya lamat-lamat, seraya kabut yang perlahan pergi melekat.

Oh, aku iri dengannya. Aku selalu murung kala kau mengantarnya di depan mataku yang menyaksi segala peristiwa. Entahlah, mungkin ini cemburu. Rasa sakit yang membuktikan jikalau cinta memang harus memiliki. Lantas, beberapa dari kalian mencerca bahwa cinta tidak harus bersama. Namun, itu sungguh bukanlah cinta. Cobalah perlahan kalian cerna apa makna di balik rasa cemburu secara perlahan. Niscaya, kalian akan temui apa esensi memiliki memang sejatinya tak kuasa dihindari.
***

PAGI di pelataran jalan sepi kampus pelan bergema. Seperti ada yang bersiul menggoda sesiapa dari lentera-lentera menyala. Mentari masih di pucuk, belum bercahaya seperti biasa. Dan kau, telah datang membawa bayangmu yang hitam melaju menuju gerombolan. Hari itu, memanglah kita berjanji untuk bersama bertemu. Tak hanya denganku, tapi juga diiringi yang lain.

Di tengah pertemuan, aku hapal benar kala kau bercerita tentang dia yang lain kepada teman-teman lelakimu. Kau berkisah dengan lantang, lengkap bersama deskripsi-deskripsi manis laksana lelaki yang sedang kasmaran. Kau tak tahu, jikalau aku telah mengerti apa yang kau kisahkan. Aku juga kian paham siapa wanita yang kaucintai, yang kau agungkan tiap malam mengisi lembar demi lembar diari.

Sembari menghela napas, aku menerima kenyataan pahit. Ya, cinta memang tak selalu melukis sebuah senyuman. Terkadang ukiran sedih juga perlu disematkan kepada jiwa-jiwa rapuh ketika cinta meminta hijrah kepada lain kekasihnya. Tiada yang salah akan cinta, dan tiada yang sempurna benar dengan cinta. Segalanya menjadi kian relatif, sebab runtuhnya logika bersumber dari cinta yang besar dalam asa dan raga.
***

KAU masih mengejar perempuan itu jauh ke dalam kehidupannya. Meski nyatanya, tak pernah dia membalas perhatianmu dengan sebait romansa. Dia acuh kepadamu. Dia hanya menganggap kau teman biasa, seperti halnya dengan teman yang lain. Namun, dasar lelaki. Selalu mereka mengejar hal-hal yang tak pasti.

Oh, sungguh raga ini tak lelah. Namun, hati? Tak ada yang sanggup menyaksi tentang hati. Lantas, apa hadiah darimu untukku yang telah menunggu lama? Sebuah pelukan, sekejap dekapan, sekuat genggaman, atau juga lambaian tangan tanda perpisahan? Aih, bagiku itu semua tak terlagi penting. Sebab bukan ragamu yang kucari, melainkan sifat serta tutur kata yang kukagumi.

Kini, aku masih menerka-nerka: lebih merah mana, senja ataukah luka, yang kaurajut bersamanya. Dan aku kian terus mencari-cari: lebih taklit mana, cinta ataukah rasa, yang kauberi ke sesiapa tapi tak pernah kaujelma mewujud romansa. Oh, inilah elegi. Setia mengundang melankolia pedih.
***

NAMAKU Ana, perempuan tinggi dengan setelan ungu kain penghalang mata. Aku gemar memakai kacamata lebar dan kemeja katun kotak-kotak berwarna cerah. Kata orang, aku termasuk pribadi yang kuat dan tegar. Namun, siapa yang tahu jikalau beberapa lembar di atas adalah murni ceritaku. Percayalah, itu dulu, jauh sebelum aku bertemu denganmu. Perkenalkan, namanya Satria, lelaki sejati yang setia menggenggam jemariku kini. Dialah yang mengisi hari ketika denganmu aku kaukecewai.

Oh, bukankah kekasih baik yang tidak dirawat akan menjadi mantan kekasih yang dimuliakan oleh orang lain? Tak perlu kaujawab. Sebab itu hanya selarik pertanyaan retoris.

Dan mungkin awal untaian tadi harus diganti: Kamu menyukainya dibanding dia atau aku. Namun kini, aku tak peduli. Sebab aku mencintai Satria, kekasihku, lebih dari kamu yang dulu gemar mengecewakanku...
(IPM)

Bandung, 25 Desember 2012
#Ilustrasi diunduh dari ini

0 comments:

Post a Comment

Followers