February 01, 2015

Jangan Jadikan Aku Istrimu, Lelaki...




Jangan jadikan aku istrimu, ...
jika nanti dengan alasan bosan, kamu berpaling pada perempuan lain. Kamu harus tahu meski bosan mendengar suara dengkurmu, melihatmu begitu pulas, wajah mantan pacarku yang terlihat begitu sempurna pun takkan mengalihkan pandanganku dari wajah lelahmu setelah bekerja seharian.
 
Jangan jadikan aku istrimu, ....
jika nanti kamu enggan bangun hanya untuk mengganti popok anakmu ketika dia terbangun tengah malam, sedangkan selama sembilan bulan aku harus membawanya di perutku, membuat badanku pegal dan tak bisa tidur sesukaku.

Jangan jadikan aku istrimu, ....
jika nanti kita tidak bisa berbagi, baik suka maupun duka, sementara kamu lebih memilih teman perempuanmu untuk bercerita. Kamu harus tahu meski begitu banyak teman yang siap menampung curahan hatiku, padamu aku hanya ingin berbagi dan aku bukan hanya teman tidurmu yang tidak bisa diajak bercerita sebagai seorang sahabat.

Jangan jadikan aku istrimu, ...
jika nanti kamu langsung tertidur setelah kita bercinta. Kamu harus tahu aku menikmati kebersamaan denganmu dan mendengar rayuan gombalmu yang lebih terdengar lucu dari pada romantis.

Jangan jadikan aku istrimu, ...
jika nanti dengan alasan sudah tidak ada kecocokan, kamu memutuskan menceraikan diriku. Kamu tahu betul kita memang berbeda dan bukan persamaan yang menyatukan kita, tapi komitmen untuk senantiasa hidup bersama.

Jangan jadikan aku istrimu, ...
jika nanti kamu memilih tamparan dan kata-kata kasar untuk memperingatkan kesalahanku, sedangkan aku tidak tuli dan masih bisa mendengar kata-katamu yang lembut tapi berwibawa.
___

Jangan pilih aku sebagai istrimu, ...
jika nanti setelah seharian bekerja kamu tidak segera pulang dan memilih bertemu dengan teman-temanmu. Sementara, seharian aku sudah begitu lelah dengan cucian serta setrikaan yang menumpuk. Bahkan, aku tidak sempat menyisir rambutku. Anak dan rumah bukan hanya kewajibanku, karena kamu menikahiku bukan untuk jadi pembantu, tapi pendamping hidup. Dan, jika boleh memilih, aku sajalah yang mencari uang dan kamu yang berada di rumah sehingga kamu tahu bagaimana rasanya.

Jangan pilih aku sebagai istrimu, ...
jika nanti kamu lebih sering berkutat dengan pekerjaanmu, bahkan di hari minggu daripada meluangkan waktu bersama keluarga. Aku memilihmu, bukan karena aku tahu aku akan hidup nyaman dengan segala fasilitas yang bisa kamu persembahkan untukku. Harta tidak pernah lebih penting dari kebersamaan kita membangun keluarga karena kita tidak hidup hari ini saja.

Jangan pilih aku jadi istrimu, ...
jika nanti kamu malu membawaku ke pesta pernikahan teman-temanmu dan memperkenalkanku sebagai istrimu. Meski aku bangga karena kamu memilihku, tapi takkan kubiarkan kata-katamu menyakitiku. Bagiku, pasangan bukan sebuah trofi apalagi pajangan, bukan hanya seseorang yang sedap dipandang mata, tapi menyejukkan batin ketika dunia tak lagi menyapa. Rupa adalah anugerah yang akan pudar terkikis waktu dan pada saat itu kamu akan tahu kalau pikiran dangkal telah menjerumuskanmu.

Jangan pilih aku sebagai istrimu, ...
jika nanti kamu berpikir akan mencari pengganti ketika tubuhku tak selangsing sekarang. Kamu tentunya tahu kalau kamu juga ikut andil besar dengan melarnya tubuhku karena aku tidak punya waktu untuk diriku, sedangkan kamu selalu menyempatkan diri ketika teman-temanmu mengajakmu berpetualang.
___

Jangan buru-buru menjadikan aku istrimu, ...
jika saat ini kamu masih ingin bersenang-senang dengan teman-temanmu dan beranggapan aku akan melarangmu bertemu mereka setelah kita menikah. Kamu tidak tahu akupun masih ingin menghabiskan waktu bersama teman-temanku untuk sekedar ngobrol atau creambath di salon. Menikah bukan untuk menghapuskan identitas kita sebagai individu, tapi kita tahu kita harus selalu menghormati hak masing-masing tanpa melupakan kewajiban.

Jangan buru-buru menikahiku, ...
jika saat ini kamu masih ingin meraih impian masa muda, sementara aku hanya akan menjadi penghalang untuk langkahmu itu. Meski menikah denganmu adalah mimpi terbesarku, aku tidak akan keberatan menunda itu demi cita-citamu karena aku juga punya cita-cita dan aku tahu bagaimana rasanya jika berhasil meraihnya.

Jangan buru-buru menikahiku, ...
jika saat ini kamu sungkan pada orang tuaku dan merasa tidak nyaman karena semakin waktu semakin menunjukkan kekuasaannya. Bagiku hidup lebih dari angka yang disebut umur. Aku tidak ingin menikah karena kewajiban atau untuk menyenangkan keluargaku. Menikah denganmu adalah salah satu keputusan terbesar dalam hidupku yang tidak ingin kusesali hanya karena terburu-buru.

Jangan buru-buru menikahiku, ...
jika sampai saat ini kamu masih berpikir mencuci adalah pekerjaan perempuan, aku takkan keberatan membetulkan genting rumah dan berubah menjadi satpam untuk melindungi anak-anak dan hartamu ketika kamu ke luar kota.
___

Hapus aku dari daftar calon istrimu, ...
jika saat ini masih ada perempuan yang menarik hatimu dan rasa penasaran membuatmu enggan mengenalkanku pada teman-temanmu. Kamu harus tahu meski cintamu sudah kuperjuangkan, aku takkan ragu untuk meninggalkanmu.

Jangan jadikan aku istrimu, ...
jika kamu masih berpikir kamulah cinta pertamaku, sedangkan setiap hari aku masih harus mendengar nama-nama mantanmu dan berusaha sekuat tenaga menghilangkan rasa cemburu yang mungkin tidak beralasan. Namun, kamu harus yakin, kamulah cinta terakhir dan satu-satunya cinta yang ingin kujalani sampai akhir hayatku.

Jangan jadikan aku sebagai istrimu, ...
jika kamu pikir bisa menduakan cinta. Kamu mungkin tak tahu seberapa besar aku mengagungkan sebuah cinta, tapi aku juga tidak akan menyakiti diriku sendiri jika cinta yang kupilih mengkhianatiku.

Jangan jadikan aku sebagai istrimu, ...
jika kamu berpikir aku mencari kesempurnaan. Jangan pernah berpikir menjadikanku sebagai istrimu, Lelaki, jika kamu belum tahu satu alasan saja mengapa aku harus menerimamu sebagai seorang suami.
___
#Ilustrasi diunduh dari sini
#Konten disadur dari sini

10 comments:

Anonymous said...

dam kalo lo cewek, gw mau jadi suami lo.

Idham P. Mahatma said...

Hmm, maaf, saya lelaki.

Anonymous said...

kereeeen bangeet kak :')

Idham P. Mahatma said...

Terima kasih banyak atas apresiasinya :D

Rhesi Titasari said...

Membuktikan menikah itu butuh banyak pertimbangan ternyata...

Its nice..

Idham P. Mahatma said...

To : Rhesi Titasari

Betul sekali, sebab harapannya satu: sekali dalam hidup sampai mati.

Happy said...

Pilih aku, Dam, pilih aku :v

Idham P. Mahatma said...

To : Happy Fibi

Kerja yang benar dulu, baru boleh memilih nanti.

Irsyaad Suharyadi said...

Cerdas bener bung! Sudah diaplikasikan belum nih hehe

Shiza Reshmadian said...

Ya Allah.... aku tidak pecaya yang nulis Mas-mas, rasanya semua yang ingin aku sampaiakan dari dalam hati sudah terwakili disini. Bahkan aku yang perempuan saja tidak bisa sepenuhnya menuliskan isi hatiku dengan jelas. Atau aku masih harus banyak belajar jadi perempuan... heheee...

Post a Comment

Followers