January 26, 2013

Oleh-oleh ROAD TO ENTREPRENEUR Series Seminar



ADA yang berbeda di Cahaya Garuda Convention Hall, Giant Pasteur Bandung Sabtu pagi, 26 Januari 2013 ini. Biasanya, saat pagi lokasi masih sepi tiada berpenghuni. Namun, bersebab ada acara ROAD TO ENTREPRENEUR Series Seminar – BUKA-BUKAAN BARENG ENTREPRENEUR yang diadakan oleh KMSBM-ITB, tempat ini kian sesak sejak open gate dibuka pukul 09.00 tepat. Banyak sekali yang datang, diperkirakan mencapai 800 peserta dengan rincian: siswa SMA, mahasiswa, pengusaha muda, serta tokoh masyarakat yang tertarik dengan dunia kewirausahaan.
 

Acara dimulai pada pukul 10.00 dengan sambutan dari wakil dekan SBM-ITB Prof. Togar Mangihut Simatupang, M.Tech., Ph.D di mana menyorot tentang keharusan pengembangan kewirausahaan di Indonesia. Lebih lanjut, Togar juga menyatakan bahwa angka 0,8% jumlah wirausahawan di negeri ini masih terbilang sedikit karena kian tertinggal dengan negara tetangga seperti Singapura dan Malaysia. Salah satu faktor susahnya berwirausaha, yakni suku bungan pinjaman dari bank di Indonesia yang masih tinggi sebesar 12% sehingga berdampak pada peminjaman modal ketika ingin membuka sebuah usaha. Sebagai penutup sambutan, Togar memberikan tiga masalah yang biasa dihadapi oleh seorang wirausahawan, yaitu: perang gagasan, bagaimana gagasan dapat menjadi kenyataan, serta perang hambatan. Apabila seorang pengusaha telah melewati ketiganya, boleh jadi dia pantas disebut the real entrepreneur.
***
Adenita
PANGGUNG kembali bergemuruh ketika moderator untuk acara talkshow ini disilakan naik. Yuli Anita, atau lebih dikenal sebagai Adenita, penulis novel 23 Episentrum serta beberapa novel yang lain akan memandu plot acara talkshow selama lebih kurang 4 jam ke depan. Tanpa berbasa basi, Nita langsung memanggil pembicara pertama, yaitu: Henky Eko Sriyantono “Cak Eko”. Penonton pun bertepuk tangan, menyambut pengusaha muda ini melenggang menuju sofa berlapis oscar cokelat itu. 

Henky Eko Supriantono "Cak Eko"
Ya, Cak Eko ialah pengusaha muda asal Surabaya yang terkenal dengan produknya Bakso Malang Kota Cak Eko serta franchise yang diusahakannnya. Dari Cak Eko, kami dicekoki beberapa pengetahuan baru, semisal soal perbedaan antara pengusaha dengan pedagang. Seorang pengusaha adalah mereka yang mempunyai kemampuan dan melihat kesempatan bisnis di mana pada prosesnya akan melibatkan orang lain (karyawan) dengan tujuan mulia untuk menghidupi orang lain. Sedangkan pedagang ialah mereka yang hanya ingin menjual produk untuk menghidupi diri sendiri. Seorang pengusaha, tentunya tidak harus mahir pada bidang atau produknya. Semisal pengusaha cukur rambut, mereka tidak harus bisa memotong rambut, tetapi diperlukan manajemen sumber daya yang baik, agar sistem dapat berjalan tanpa terus dikelolanya sendiri.

Cak Eko juga bercerita perihal bagaimana merintis karier sebagai pengusaha. “Saya telah mencoba usaha 10 kali, dari jual beli HP second, cathering, sampai jasa pengiriman barang. Namun Anda lihat, semuanya gagal. Tetapi pada usaha kesebelas ini saya memperoleh kesuksesan. Ya, yang paling susah adalah bagaimana menemukan sebuah pintu yang tepat, lalu mengetuknya, dan setelah ia terbuka, barulah kemudahan dapat dimulai dari sana,” ujarnya.

Sistem sangatlah penting dalam sebuah usaha. “Seperti prinsip saya dahulu, ‘hajar dulu baru ditata kemudian’ sungguh tidaklah salah. Namun, alangkah lebih baik apabila dalam setiap pengambilan keputusan diperlukan pertimbangan yang matang,” lanjutnya. Dalam kesempatan ini, Cak Eko memberikan trik bagaimana cara masuk media dengan gratis. Darinya, “Anda coba ke toko buku semacam Gramedia atau Gunung Agung, lalu cari majalah atau tabloid yang jangkauannya cukup luas. Catat alamat email redaksi mereka, dan tulis semacam surat permohonan peliputan usaha Anda. Jangan lupa, di akhir surat, bubuhkan kalimat: Saya pembaca setia Anda. Hal ini saya lakukan kepada 10-20 media massa, dan alhamdulillah 3 darinya bersedia meliput usaha saya.”

Pada akhir sesi bersama Cak Eko, beliau menyisipkan sebuah resep mewujudkan sebuah impian, yakni: bermimpilah, yakin dan visualisasikan, afirmasikan dalam doa, nikmati proses yang tidak instant, buatlah sistem, dan kuncinya adalah sedekah. Itulah rangkaian bunga inspirasi yang sengaja ditebar Cak Eko pada ruang yang sesak tadi. Sangat berdedikasi.
***
Nurana Indah Paramita
BERALIH pada sesi pembicara kedua, Nurana Indah Paramita, alumni Oseanografi ITB, sekarang sedang belajar di MBA ITB, serta seorang dirut termuda untuk anak usaha BUMN Indonesia. Mita menekuni usaha turbin, meski dalam perawakan, dia tidaklah ‘selelaki yang dibayangkan’. Namun, siapapun bisa menjadi apa saja, wanita, dalam sebuah ajang yang disebut wirausaha.

Dari Mita dicercakan beberapa paradigma-paradigma lama yang harus diubah, tentang perlunya bangsa Indonesia untuk mandiri, menjalankan usaha yang merupakan disiplin ilmu sewaktu kuliah, atau juga bagaimana memecahkan mitos anak ITB yang susah bekerja sama.

“Kita masih dijajah, Kawan. Hanya saja bedanya, saat ini kita dijajah dalam hal ekonomi. Kita bukan tuan di negeri sendiri. Maka dengan semangat, ayo, kita bisa, Indonesia bisa!” tutupnya.
***
Dahlan Iskan
TIDAK seberapa panjang bagian yang diperoleh Mita pada talkshow kali ini. Sebagai pembicara ketiga, Dahlan Iskan, Menteri BUMN Indonesia telah datang dengan setelan bersahaja seperti biasa. Baju kemeja putih polos, celana kain hitam, serta tak lupa sepatu kets membawa suasana riuh ruangan ini untuk kesekian kali. Banyak yang ingin berfoto dengan Pak Menteri, entah mahasiswa, bapak-bapak, atau yang lain. Dan itulah Dahlan Iskan, beliau hanya tersenyum dan terus tersenyum. Mungkin, ini bakal calon pemimpin yang diidolakan oleh masyarakat Indonesia ke depan.

Kisah Dahlan selengkapnya sebenarnya bisa dibaca dalam trilogi bukunya, tetapi bolehlah saya menceritakan secara ringkas. Dahlan memulai menjadi pengusaha dari umur 30 tahun, namun darinya, umur sekian ialah bukan yang terbaik untuk memulai usaha. Sebab memulai usaha yang terbaik ialah di usia muda. Hanya saja yang sulit adalah tentang bagaimana memimpin diri sendiri untuk bisa seperti itu. Lanjutnya, Dahlan berbicara bahwa menjadi seorang pengusaha ialah mudah, hanya perlu belajar. “Toh yang belajar saja belum tentu berhasil, bagaimana kalau tidak belajar, ya pasti tidak berhasil,” imbuhnya.

Dahlan memberikan sebuah pengetahuan baru soal Bussiness Leadership, yaitu: seorang yang mengerjakan semuanya sendiri, baik itu pengerjaan atau juga pemasaran. Namun, lambat laun pasti dia akan juga merasa lelah, maka dari itu dia perlu seorang kepercayaan yang membantunya. Kemudian ketika tidak sanggup lagi dikerjakan berdua, barulah seorang pebisnis perlu mempekerjakan karyawan. “Jadi harus ada prosesnya,” katanya.

Ketika ditanya moderator tentang pemanggilan dirinya oleh Presiden SBY untuk menjadi Dirut PLN lalu kemudian naik menjabat Menteri BUMN, Dahlan beranggapan dia tidak pernah membayangkan hal tersebut sama sekali. Setelah dia menderita sakit kanker hati dan dinyatakan dokter harus berobat ke luar negeri, dia hanya membayangkan tentang hari tua atau juga kematian yang akan menjumpainya dengan anaknya yang menggantikannya mengelola usaha-usaha miliknya. Namun setelah sembuh, justru cita-cita bersantai tadi berubah sejak penugasan dirinya sebagai pejabat terkemuka. Dari bibir Dahlan, “Ada bedanya menjadi pemimpin di swasta dengan di BUMN. Kalau di swasta, ada direktur yang tidak cocok dengan dirut atau atasannya, maka direktur itu akan mundur. Nah, kalau di BUMN sebaliknya, jika ada direktur yang tidak cocok dengan dirut atau atasannya, dia tidak akan mundur, melainkan mencari backing untuk menjatuhkan sang dirut. Ini tidaklah sehat dalam sebuah perusahaan. Maka harus ada tindak pembenahan.”

Lalu sebagai penutup sesi ini, Dahlan Iskan menuturkan beberapa quotes, antara lain: “Hidup haruslah dijalani dengan sungguh-sungguh, maka di belakang, karier akan jadi dengan sendirinya. Kemudian, sakit hati itu penting, karena banyak orang sukses yang sukses gara-gara sakit hati. And the last, lakukan apa yang Anda senangi,” pungkasnya.
***
Bong Candra
DAHLAN Iskan akhirnya turun panggung, hendak bertolak menuju Surabaya. Namun, panggung kosong itu tak bergeming lama. Bong Candra, motivator termuda no.1 di Asia, pengusaha properti dan kuliner, serta termasuk milyuner muda Indonesia telah bersiap menaikkan tempo ruangan untuk keempat kalinya.

Sesi ini terasa berbeda sebab sang moderator tidak banyak berbicara. Bong Candra sebagai motivator melakukan kerjanya dengan sempurna. Bertutur ini-itu tentang dunia wirausaha serta diselipkan beberapa kalimat indah dalam menjelmakan mimpi menjadi nyata.

“Saya tidak takut dengan orang yang belajar 1000 jurus tendangan dengan intensitas 1x, tetapi saya takut dengan orang yang belajar 1 jurus tendangan dengan intensitas 1000x,” kata Bong Candra mengutip kalimat Bruce Lee. Ya, seseorang haruslah fokus pada suatu bidang, sebelum merambah bidang lain. “Ketika kamu menggeluti sebuah bidang selama 3 bulan, berarti kamu masih belajar. Setelah 1 tahun, berarti kamu ahli. Dan setelah 2 tahun berarti kamu master. Karena hanya orang yang master pada satu bidanglah yang akan diperhatikan oleh dunia. Seperti pepatah Cina: Jika kamu mengejar dua tikus sekaligus, kamu tidak akan mendapatkan keduanya,” bubuhnya.

Oh, tidak sampai di sana kata-kata motivator muda ini mengering. Bong Candra juga membagi tips membuka usaha pada bidang properti, antara lain: 
1.    Membeli tanah pada waktu lebaran atau kepada orang yang akan bercerai, sebab pada saat-saat seperti itu, dia akan sangat membutuhkan fresh money. 
2.    Menjadi penitipan anak. Artinya, sewaktu Anda ingin mengajak kerjasama seorang yang kaya raya, libatkan anaknya –yang biasanya manja– ke salah satu posisi dalam usaha Anda. 
3.    Untuk beberapa orang kaya, tawari mereka soal popularitas untuk bekerja sama dengan mereka. Misal: menjadikan namanya sebuah nama blok pada bisnis properti perumahan Anda, dsb.

Lalu sebagai penutup, Bong Candra menyuguhkan beberapa kiat menjadi seorang entrepreneur yang sukses. Saya rangkum menjadi: “Kejutkan konsumen kita, berpikirlah out of the box.” Selanjutnya, “Curigalah terhadap yang mudah.” Kemudian, “Tuhan memberikan masalah yang berat untuk manusia yang terbaik.” Dan kalimat pamungkas dari Bong Candra yakni,” Bergeraklah lebih cepat dari rasa pesimis Anda.”

Ya, seperti itu kira-kira gambaran ilmu yang saya dapat dari acara tadi. Semoga oleh-oleh ROAD TO ENTREPRENEUR Series Seminar ini dapat menginspirasi. Akhir kata, terima kasih.

Salam berkarya!
(IPM)

Bandung, 26 Januari 2013

1 comments:

Lera Salawase said...

Bong Candra, still my favorit :D

Post a Comment

Followers