January 18, 2013

Surat Sakit untuk Kekasihku



Dear Kekasihku,
Halo. Apa kabarmu di sana? Bertambah baik, ataukah sebaliknya? Oh ya, orangtuamu masih sehat-sehat pula? Aku rindu bertemu denganmu...

DULU, kuingat kita suka bercengkrama berdua sembari melihat bintang-bintang alami yang berkilau. Kau, dengan menggamit tanganku, mengarahkannya ke atas, memilih dan menunjuk cerlang mana yang nantinya kita bawa pulang. Lalu, setelah lelah menerka-nerka yang paling terang, lantas kita hanya kembali tanpa membawa bintang di tangan.

“Kau kecewa?” katamu bertanya padaku.

“Tidak, bukankah tujuan kita memetik bintang hanya teruntuk pengabulan keinginan? Tapi, bintang bukan Tuhan, Sayang. Tak perlulah kita dengan enggan mengusiknya. Biarkan saja bercahaya, untukku, terlagi untuk kita,” aku menutup isyarat.
***

SEWINDU yang lalu kau pergi, Sayang, meninggalkan aku sendirian menjaga langkah. Kau hanya berpesan, bahwa aku tak boleh menuruti kehendak orang-orang asing, atau juga membiarkan tangan-tangan jahil menggangguku. Dan masih kutangkap dalam memori, kau sangat percaya pada orang pribumi, teman sebayaku, dan rekan ibu-bapakmu yang akan membantuku bilamana membutuhkan uluran. Aku percaya segala katamu.
 

Aku mengantarmu menuju dermaga. Ya, tempat-tempat paling sedih di dunia ialah lokasi di mana kau harus melepas seseorang pergi, terlepas dia akan kembali, atau kau tak akan pernah menemui kesempatan untuk mengusap matanya lagi. Tempat itu, yakni: dermaga, stasiun kereta, bandara, juga terminal bus kota yang megah.

“Sayang, aku berangkat dulu ya,” ucapmu, sebelum kapal itu kemudian berbayang dengan matahari.
***

SAYANG, kini aku sendirian. Tak ada yang menemaniku bercerita. Setahun sejak kepergianmu, bintang tak lagi bercahaya di sini. Seperti ada yang menyaingi sinarnya. Entahlah, sekarang aku mulai bingung, sangat bimbang, sebab lekuk tubuhku kini tak sehijau dahulu. Ada tangan-tangan liar yang gemar bekerja sepanjang waktu. Dan kau, mungkin tak akan percaya, bahwasanya ada benda-benda aneh yang sengaja mereka tempelkan padaku. Aku takut.

Juga kau, Sayang, harus memahami, jikalau yang kuceritakan di atas tidak terjadi sekali, bahkan dua kali, tiga, empat, dan seterusnya. Barangkali, kau berlampau waktu sangat mengagumi warna kulitku yang hijau manis, serta tak ada luka berserat. Namun, kalau kita bertemu di dekat-dekat ini, jangan kaget jikalau kulitku tak sehijau dahulu, tak seelok ketika di dermaga aku memelukmu. Mungkin, lebih banyak kasar di sana-sini, dan ada pula warna-warna yang tak kau sukai. Abu-abu, coklat tua, kuning, merah bata, dan sedikit hijau yang tersisa. Kuulangi, hanya secuil hijau yang masih lestari.

“Namun, aku percaya, kau tak akan mengubah rasamu hanya karna warna kulit yang tak sama, bukan? Aku tahu kau bukan lelaki pintar, tapi kuharap, kau mengerti benar apa makna cinta dan ketulusan. Bukan begitu, Sayang?” selaku di kala gamang.
***

SAYANG, orang-orang itu datang lagi. Kali ini, mereka membawa paku-paku tajam yang sepertinya siap untuk ditancapkan. Mereka juga menggandeng banyak pekerja lain untuk bergabung. Pandanglah, tak hanya paku, mereka juga menyiapkan besi-besi yang mengilat, batu-batu besar dari urukan kali, juga semacam debu namun menggunung di sana-sini. Aku tak tahu apa rencana mereka.
***

“Aih, sakit!” aku berteriak.

Sayang, mereka mencobloskan paku-paku itu padaku. Keras. Dalam. Dan diulanginya dengan paku yang lain. Bos mereka bertolak pinggang, melihat beberapa pekerja sedang sibuk mengurus jatah masing-masing. Ada yang memotong besi sesuai ukuran. Ada yang menunggang roda-roda berlapis kursi. Serta ada pula yang mengaduk debu abu-abu dengan air, supaya pekat dan menempel nantinya.

Oh, semua dikerjakan sepanjang waktu. Dan coba kaupandang, Sayang, ada bentuk-bentuk asing di ragaku. Apabila aku berbaring, bentuk itu laksana menara, bangunan, serta rumah-rumah luas nun mewah. Apa jadinya konstruksi yang disusun di atas lekuk yang terluka?

Dan lukaku, semakin menjadi. Siang malam aku tak bisa tidur, Sayang. Ketika malam, mereka menyalakan cahaya yang kian terang, sehingga mataku, tiadalah bisa memejam. Oh, sungguh aku tak pernah tidur. Lihatlah, kantong mataku sudah menyaingi nenekmu yang tertua, atau juga bapak presiden kita. Saat siang, aku malah tak bisa melakukan apa-apa. Cuma berbaring, dan sering aku batuk-batuk. Entahlah, ada asap yang mengepul dari roda-roda berkursi milik mereka. Sebenarnya, kau bisa bedakan mana tunggangan teragungnya; yang mewah tak mengeluarkan asap, sedang yang lain mengabukan jejalan, tapi kuhitung, lebih banyak yang butut dan kampungan. Kalau terus seperti ini, aku bisa sakit.
***

AKU tak kuat. Kini, kubiarkan air mataku mengalir deras ke seluruh raga. Atau, sengaja pula kualirkan keringat-keringat basah dari pori-pori. Hingga kau tahu, semua bagian lekukku bak seorang yang telah tenggelam dalam air peluhnya sendiri. Tak apa, dengan begini, siang tak lagi banyak berasap. Dan malam, sering kulihat mereka lupa menyalakan bintang buatannya.

Dua atau tiga hari kurasa cukup untuk memulihkan letih raga. Maka, aku berhenti menangis, dan peluh tak lagi kupaksakan keluar dari pori. Lantas, mereka tiada belajar dari sebelumnya. Tetap saja, malam dihabiskannya dengan benderang. Dan siang dibuatnya ajang pameran roda-roda berkursi. Oh, aku batuk-batuk lagi.
***

BULAN lalu, aku mendengar teriakan mereka untuk membangun sebuah pipa di sini. Namun, mereka tak mungkin meletakkannya di atas lekukku. Karena, sudah terlampau sesak, tak ada tempat lagi. Dan benar saja, mimpi buruk itu datang, Sayang. Darinya yang berbaju kotak-kotak, menghendaki untuk menyelipkan pipa-pipa atau gorong-gorong raksasa di dalam tubuhku, bermaksud agar aku tak berair lagi.

“Kau bayangkan, jarum suntik sekecil itu saja apabila ditusukkan ke kulit yang terluka bakal sakit luar biasa. Bagaimana kalau pipa?” keluhku.

Ketika semua disetujui, mereka benar-benar akan bergerak cepat. Disiapkanlah peralatan, teknisi, anggaran, serta yang lain. Sayang, mataku mulai berkunang-kunang. Dan...aku pingsan.
***

AKU benar-benar kecewa dengan mereka. Sakitku sudah tak terkendali lagi. Mungkin, tubuh yang dulunya hijau tak bersayat ini hanyalah tinggal kenangan. Bintang yang kita petik diam-diam sudah lama kurasa pergi berlari. Dan aku, kini hanya mendapati ragaku seperti onggokan daging yang lesuh, tak bergairah.

Bahkan, beberapa kali aku enggan berkaca di depan cermin. Takut terlihat tua, atau juga tak secantik seperti kala kita berpisah. Maafkan aku, Sayang. Kini aku ingin berlaku kejam pada mereka. Ingin sekali aku memberikan pengalaman terpahit untuk mereka. Bukan karena dendam, melainkan hanya mengajarkan mereka bagaimana caranya berterima kasih sebab telah diberi tempat hidup yang memadai.

Huhuhuhu....Huhuhuhu....” aku menangis, sengaja, dan semakin deras linang mataku tumpah. Dan tak lupa, kukeluarkan seluruh keringat serta peluh hingga tak bersisa.

Oh, aku kelelahan melakukan itu semua. Mataku kembali berkunang. Sepertinya, aku benar-benar sakit.

“Bibi, tolong bawa aku ke dokter,” pintaku.
***

KATA dokter, aku harus istirahat seminggu. Tak boleh banyak bergerak, ataupun melakukan apa-apa. Dan maaf, aku juga tak diperbolehkan mandi. Maka, air mata dan cairan coklat bekas keringat serta peluh tadi, sengaja kubiarkan tak bergerak di sana selama tujuh hari. Tak apa, sekali-sekali kau mungkin harus mengganti tumpangan. Roda kursimu tak lagi terpakai. Kini, yang berbondong hanyalah perahu. Lebih baik, karna tak menimbulkan asap yang pilu.

Sebelum tertidur, kulanjutkan secarik kalimat untukmu, mungkin harus kuulangi beberapa frasanya, oh, sepertinya berbunyi sendu:

Dear Kekasihku,
Halo. Apa kabarmu di sana? Bertambah baik, ataukah sebaliknya? Oh ya, orangtuamu masih sehat-sehat pula? Aku rindu bertemu denganmu.

Kekasihku, sebenarnya ini surat sakitku. Aku kirimkan padamu sebagai pengabar keadaanku sekarang. Maaf, jikalau tanpa pita atau bingkisan yang lain. Aku tak sempat membelinya. Itu saja dariku, aku ingin istirahat lagi. Oh ya, aku tunggu surat balasanmu. Doakan aku kian sembuh.

Kecup mesra, Jakarta, kekasihmu yang tengah terluka.
(IPM)

Bandung, 18 Januari 2012
#Ilustrasi diunduh dari sini

2 comments:

Lera Salawase said...

waw.. keren..

Tiara Balqhis said...

Kereeennn.... like it ;)

Post a Comment

Followers