January 15, 2013

Wanita dalam Tokoh Cerita



REVI memintaku mengarang cerita. Kau berdalih, ingin menjadi tokoh sekaligus subjek pada sebuah kisah. Namun, sungguh aku tak pernah menulis secara sesuka. Sebab sebelumnya, aku perlu berbincang banyak kepadamu, butuh mendengar segala liku hidupmu, serta harus aku memaksamu masuk dalam imaji yang kaubuat sendiri. Barulah, aku kemudian mengguratmu dengan setoreh pena.

"Apa kau sanggup menjalani? Menjadi boneka, yang kujalankan sesuka. Merupa wayang, yang kuberdirikan selaku mata. Atau mewujud pantai, yang kugariskan semauku tepinya. Adakah kau keberatan atas segala pinta?"

Kau tersenyum. Kuartikan, kau setuju akannya. Maka untuk permulaan, kau harus memanggilku: Tukang Cerita. Itu saja.

"Baik. Selamat berkarya, Tukang Cerita," sapamu, kali ini senyum itu kembali tumpah.
 

"Jangan banyak senyum, Revi! Sebab, aku bukan seorang yang pandai melukis kisah suka. Kukira, tawa tak pernah kugurat dalam karya. Dan mungkin, seperti Bunga untuk Sesiapa, Dara di Tepian Dermaga, atau juga Ada yang Diam-diam Mencintai Senja, seluruhnya berakhir dengan duka. Sekali lagi, tiada tawa yang kugurat di sana. Lantas, masihkah kau ingin menjadi tokoh dalam sepenggal kisah?"

Tanpa ragu kau menjawab, "Ya. Aku ingin seperti [1]Tya, [2]Dara, [3]Dinda, dan [4]Rara, serta wanita lain yang pernah ada dalam karyamu. Kelak, mereka semua abadi, dalam kisah yang kau alurkan menuju elegi."
***

KALI ini, kukisahkan kau, Revi, terlahir memiliki raut yang elok nun sempurna. Kedua bola matamu jernih, tajam ketika memandang, namun sayu saat perlahan diperhatikan. Kulitmu pun putih, selaksa pasir di pesisir utara Pulau J yang berkilau-silau. Sesekali, sempatkan waktumu sejenak ke sana. Raih halus kristal silikanya, niscaya, kau akan merasakan betapa indah yang dititipkan Tuhan dalam raga.

Dan kau, aku percaya memiliki rambut hitam yang mengilat. Lantas, apabila angin berhembus, dan gerai ikatnya terlepas, seketika pupuslah angan pemerhati sesaat ketika melihat ikalmu terbang menghampiri. Namun, sungguh mereka tak memandang apa-apa. Sebab mahkotamu, sengaja kausimpan anggun dalam sejuntai kain penghalang mata. Kain itu, kelak di hari perhitungan akan mempermudah jalanmu. Dan masih kain itu, yang mungkin akan lebih dulu kaulepas ketika pangeranmu datang, setelah lelah ia mengucap janji di atas kitab kalian. Oh, kau pantas berbahagia akannya.

"Apakah semua yang kauceritakan ialah benar aku? Adakah kau menambahi agar sempurna selalu tersaji?" tanyamu.

"Entahlah. Sedari tadi, aku hanya membiarkan mata jemariku menari dengan sesuka, semoga kau berkenan karnanya," jawabku singkat.
***

KAU, sangatlah gemar memotret segenap kenangan. Melalui lensamu, berantai kronologi tersapu. Perlahan, kau bidikkan mata-mata elang itu, bukan sekadar ingin memilah ragu, melainkan kaucuri momen-momen terindahmu yang nantinya bisa kaucetak, dalam album-album senja tak bergerak.

"Kau mau melihatnya? Biar sekalian, kuceritakan bagaimana aku menangkapnya," ajakmu pelan.

Dan tentu saja, kau mulai membuka lembar demi lembar albummu. Disentuhnya sampul biru itu dengan lembut, kuterka, kau seperti tak ingin membangunkannya. Tak pula mau kau biarkan seluruh kenangan itu terjaga. Untuk kemudian, kau berkisah tentang satu foto yang berisi belasan sahabatmu.

"Ini para sahabatku. Yang ini berasal dari Kota C, yang ini dari Pulau K, dan yang ini asli dataran tinggi S. Mereka semua dekat denganku. Tak ingin aku berpisah karnanya..." kau berkisah singkat.

"Mana dari sahabatmu itu yang paling kaubenci?" tanyaku.

"Tak ada. Sebab, mereka sejalan dengan asa. Tak pernah kami bersitegang. Dan tak ingin aku memutus tali persahabatan," jelasmu panjang.

Indah sekali, apa yang kaupunya saat ini sungguh sempurna. Sahabat, keluarga yang hangat, pribadi yang dihormati, serta kau kusanjung sangat mencintai Tuhan. Segala tecermin dari angan, dan setiap insan bisa mendapatimu dari bayang.

Lalu, kau berlanjut pada potret-potret yang lain. Ada warni senja dari mata seorang gadis, ada kelabu tangis milik mereka yang selalu mengais, dan ada pula bayangan sunyi yang sering kaupotret sembunyi-sembunyi.

"Revi, ini wajah siapa? Mengapa gelap yang tercetak nyata?" aku ingin tahu.

"Tak tahu, aku lupa," pungkasmu.

Aih, sungguh aku tak percaya atas segala ucapmu. Mungkin, kau hanya ingin memiliki ruang kecil untuk bayang itu tinggal. Tanpa sesiapa, atau juga aku yang menegurnya. Tapi, kubiarkan kau menyambangi dia sesukamu. Aku hanya Tukang Cerita, bukan penjahat, yang ingin menawan urusan orang lain erat.

"Oh, baiklah. Lain waktu, semoga kau tak bisa lagi mengingat bayang itu," aku menutup percakapan.

Kini, aku semakin kehilangan kata. Tak sanggup meneruskan kisah.
***

"Katamu, kau hanya lihai menggurat cerita sedih. Tapi mana? Adakah bagian tersendu dalam kisah yang kaubuat untukku ini? Aku sama sekali tak menerkanya," ujarmu padaku.

Aku terdiam. Dan mulailah aku menyepi. Bersahabat dengan sunyi yang sendiri. Barangkali, bagian tersedih dari kisahmu ialah aku, yang tak bisa mengakhirkan plot menjadi sempurna ragu. Namun biarlah, aku puas mengabadikannya.

Oh, mungkin memang benar, wanita selalu sempurna dalam setiap tokoh cerita. Layaknya Siti Nurbaya dengan sedih yang senantiasa dijamah. Seperti Srintil dengan tarian ronggeng penakluk hati ribuan pria. Laksana luka Dayang Sumbi ketika sang putra benar-benar melamarnya. Dan cukuplah kau, Revi, serta kisahmu. Semoga kelak tak kau bubuhi ia dengan bebulir sendu. Maaf, aku tak sampai hati mencipta elegi pada ronamu.
(IPM)

Surabaya, Januari 2013

Keterangan:
[1] Tya, nama tokoh pada cerita Bunga untuk Sesiapa
[2] Dara, nama tokoh pada cerita Dara di Tepian Dermaga
[3] Dinda, nama tokoh pada cerita Senja Berlatar Jingga
[4] Rara, nama tokoh pada cerita Rembulan Tak Bertuan

#Ilustrasi diunduh dari sini

0 comments:

Post a Comment

Followers