February 07, 2013

Dua Makna Memejamkan Mata



Mengapa kita terpejam saat tertidur, saat menangis, atau saat tertawa dengan selepas-lepasnya?
Tak lain bersebab hal terindah di dunia tak sanggup dilihat oleh sepasang mata.

Aku telah mencarimu di setiap tikungan senja. Dengan seksama, dengan hati-hati, dengan mata selalu menyaksi beberapa lekuk yang sedang menghayati kepergian mentari. Ya, salah satu momen paling petang di dunia adalah melepaskan sinar di tepian pantai. Antara pedih, rasa tak rela, atau juga rindu berpeluk menjadi satu. Itulah elegi di sore hari, selaksa kau ingin selalu mengulangi.

Dalam pencarian, pastilah datang sebingkai perjumpaan. Jumpa yang menghapuskan dahaga akan dekapan rasa. Jumpa yang mengoyak batin menjadi selembut sutera. Serta jumpa, yang akan setia kukenangkan nyanyiannya menjadi bait-baik melodi yang sumbang.
 

Hadirmu pada perjumpaan pertama sungguh aku tunggu dalam lelah. Sebenarnya, tak menemukanmu ialah anugerah terindah. Sebab dengan begitu, aku bisa menjaga rasa akanmu lamat-lamat, semakin pekat, semakin meluaskan permukaan hati tertambat. Tapi, Tuhan terlalu ikut campur pada kisah kita. Sebelum kau siap, atau aku juga siap, oleh-Nya, kita dipertemukan dengan ragu. Seperti mau, tapi tak mau yang dipaksakan. Laksana ingin ditunda namun sentuhan ingin sekali diwujudkan. Lalu, seperti ditakzimkan, tak bertahan lama hubungan ini kita jalani.

Aku lupa tepatnya, apakah kau, ataukah aku, yang lebih dulu melambaikan tangan di persimpangan tempat kita bertemu. Adakah tangismu tercucur tajam ketika bayangku mulai samar-samar menghilang? Akankah kau temui rasa sepi sesaat setelah kepalaku berpaling ke lain sisi? Jawabnya abu-abu. Sudah kubilang sebelumnya, kami masih meragu.

Barangkali setelah perpisahan tadi, batinkulah yang lebih sering merintih. Gemuruh guntur di tengah pekatnya hujan tak sanggup mendendangkan kecemasan. Silau kilat yang menyapa juga tak kuasa mengalihkan perhatianku akannya. Sekarang aku tahu, segetir inikah Tuhan mencipta rindu?

Oh, kata siapa seorang lelaki lebih mudah melupa? Atau, ilmuwan mana yang berkicau jikalau lelaki lebih dominan menggunakan logika, dibanding lembut perasaannya? Namun, adakah lelaki yang masih memerhati logika, ketika nurani telah dimabukkan oleh rasa cinta? Pernahkah kau mengalaminya?

Maka, untuk kedua kali, aku isyaratkan pada Tuhan untuk mempertemukan kami. Aih, Tuhan mengiyakan. Mengapa bisa semudah itu? Oh, asal kalian tahu, aku dekat dengan Tuhanku. Dan ketika kau telah dekat dengan Tuhanmu, perlahan, buatlah Dia juga jatuh cinta padamu. Pujilah Dia dengan asma-asma milik-Nya yang indah. Apabila kau tak hapal, kau tinggal cari di halaman belakang atau depan kitabmu. Di sana, kelak kau akan temui kekaguman hakiki akan jati diri-Nya. Lantas, dia akan tersenyum menatap makhluk-Nya yang senantiasa menghambakan diri. Dengan sifat Maha-Nya, lantas dia menganugerahkan kasih untuk menjatuhcintai hamba-Nya. Apabila seseorang telah jatuh cinta, maka dia akan memberi segalanya. Kini, dengan analogi yang sama, tolong jawab tanyaku: Bagaimana jikalau Tuhan yang telah jatuh cinta? Adakah pembatasan pinta tak segera Dia kabulkan menjadi nyata?

Perjumpaan kedua kami di pelupuk mata, telah terlihat. Aku membawakan sekuntum mawar putih yang segar. Sedang kau, hanya berlukiskan lesung, yang kuilhami berlebih untuk menyambutku dengan sempurna. Kini, aku yang sangat cinta, sangat ingin memiliki lekukmu, yang dibungkus dengan lembutnya hati seorang wanita tanpa ragu.

Sangat kuingat hari itu, di mana kau mengenakan gaun berenda putih bersih yang anggun, serta mematut diri di depan cermin oval sudut ruangan. Dilekatkan pula kosmetik-kosmetik picisan pada wajahmu. Tak perlulah bedak atau maskara yang termahal, sebab kau telah cantik sebelum perlengkapan itu dibubuhi pada halusnya rona. Kuterka, wangimu sungguh akan menaikkan hasratku untuk mengikatmu pasti. Oh ya, beberapa orang juga telah hadir di sini, jauh sebelum kau menampakkan diri. Mereka memakai setelan perlente khas aroma orang kaya. Entahlah, itu murni milik mereka, atau hanya pinjaman agar diakui sebagai kaum terpandang. Ya, manusia memang sangat haus pujian.

Lihatlah, dia wanitaku. Cantik, bukan? Menawan, bukan? Sudahlah, jangan menatapnya seperti itu. Berlakulah seperti biasa. Apakah kau tak pernah melihat wanita surga sebelumnya?

Ya, memang benar, salah satu hal terindah di dunia ialah ketika kau menemukan kekasih hatimu secara utuh, dan siap kau hadiahi dengan segenap cinta.

Namun, dalam kisahku, aku menemukan hal yang lebih indah dan tak sanggup dilihat oleh sepasang mata: Ketika jari manismu disematkan sebuah cincin permata, dan kau tersipu menerimanya, untuk kemudian kau mengenalkan Pangeranmu kepadaku, yang terpaku memejamkan mata selamanya...
(IPM)

Bandung, Februari 2013
#Ilustrasi diunduh dari sini

4 comments:

awaludin said...

Makna yang dalam..

Idham P. Mahatma said...

Iya, terima kasih atas apresiasinya.
Salam kenal.

Tiara Balqhis said...

Really really really nice story..
Hanya tertegun kala membaca, dan mengakhiri dengan sebuah senyuman yang terlukis tipis :)

Idham P. Mahatma said...

Wah, makasih banyak nih Dik Tiara udah apresiasi ceritaku.
Hoho, terkadang emang kesedihan harus dibalas dengan senyuman.

Post a Comment

Followers