February 23, 2013

Memaknai Aral



Kau tahu, mengapa Tuhan sengaja mencipta aral untuk sepasang manusia?
Kelak, aral dibagikan secara merata pada setiap pucuk senja. Kau, tentu boleh mengambilnya sesegera. Kau pungut aral itu, lalu kau buatnya menjadi debu. Tetapi, bisa jadi ada cerita lain tentang aral. Yakni ketika kau menjamahnya, dan kau rusak setiap peristiwa yang pernah diretas bersama. Namun, itu hakmu, sekarang, tinggal kaupilih mana yang menjadi maumu.
 
Kau tahu, mengapa Tuhan sengaja mencipta aral untuk sepasang manusia?
Nantinya, aral akan menguji masing-masing makna kesetiaan bagi kita. Tentu saja, aral punya cara-cara jitu guna mengkambinghitamkan sesiapa. Aral juga memiliki mulut-mulut yang senantiasa berkata dusta hingga satu dari kita percaya. Oh, tapi, siapa yang lebih sempurna di hadapan Tuhan? Adakah sepasang manusia lebih pantas dihadiahi kenaikan tingkat pribadinya setelah aral berhasil digugurnya? Lantas, dengan aral, kita semakin mengerti apa itu cinta, ketika kau melepasnya untuk menjadi dirinya sendiri, dan dia hanya akan kembali padamu lagi.

Kau tahu, mengapa Tuhan sengaja mencipta aral untuk sepasang manusia?
Tuhan itu gemar mencemburui. Ya, ketika kau lebih memilih seseorang untuk kau perhatikan dibanding dengan Tuhan, maka Dia menebar aral pada lika-liku hubungan. Dia titipkan aral pada saku-saku celanamu, kornea matamu, gendang telingamu, hingga bibir tempat kau mengucap rindu. Oh, mengapa Tuhan sekejam itu? Aih, Tuhan Maha Penyayang, Sayang. Tuhan menghendaki seseorang untuk selalu dekat dengannya. Saat kau mencintai seseorang bukan karna Tuhanmu, bisa dipastikan hanya jeruji keluh yang akan kau temui di setiap lentera pagi. Lantas, dengan segera, Tuhan menarikmu kembali, menuju cahaya yang lebih terang di depanmu. Bayangkan saja, jikalau seseorang sedang jatuh cinta, maka ia akan memberikan segalanya. Dengan analogi yang sama, cobalah kau renungkan, bagaimana jikalau Tuhan sedang jatuh cinta kepada kita? Akankah kebahagiaan tiada tertanam pada setiap langkah, segenap rasa, atau segurat wajah? Oh, aku mengajakmu menjatuhcintakan rasa hanya pada Tuhanmu, Tuhan kita.

Kau tahu, mengapa Tuhan mencipta aral untuk sepasang manusia?
Manusia itu tempatnya abu-abu. Ragu, atau juga gamang ialah hakikat terdalam bagi sepasang insan. Coba kau tebak, apa yang sangat ditakutkan oleh manusia, terlepas dari Tuhannya? Jawabnya ketidakpastian. Kelak, manusia akan bimbang mengenai hidupnya karna ketidakpastian. Ada yang merintih memohon derma, tapi tiada pernah melakukan usaha. Ada yang memohon untuk dipertemukan kepada seorang kekasih, namun ia masih mengais masa lalu yang perih. Oh, bukankah aral ialah tanda untuk seberapa kuat sepasang manusia menghadapi kerasnya lidah-lidah dunia? Maka, berpura-puralah mendengarkan perkataan aral. Kau, ibumu, serta Tuhanmu-lah yang paling pantas kau percayai. Yang lain, hanya akan menguak bias-bias elegi.

Kau tahu, mengapa Tuhan mencipta aral untuk sepasang manusia?
Sudahlah. Tak usah banyak menebar tanya. Kau sudah mengerti mengenai aral serta filosofi yang ada di dalamnya. Kau cukup menjadikan aral sebagai temanmu, sahabatmu, yang akan mengingatkan ketika tingkat pribadimu semakin tinggi. Kala aral kuat menghujam segala hubunganmu, percayalah, ada tangan-tangan yang senantiasa membantumu berdiri. Ialah Tuhanmu, lewat aku, yang kautakzimkan mengisi lembarmu, satu.
(IPM)

Bandung, Februari 2013
#Ilustrasi diunduh dari sini

4 comments:

Leni Fitria said...

suka.
sampai tak bisa aq komen.
heheh

Idham P. Mahatma said...

Terima kasih banyak, Leni, atas apresiasinya.

Anonymous said...

Kak idham aku suka banget tulisannya.. share tulisan kakak di twttr boleh yaa??

Idham P. Mahatma said...

Silakan saja, Dik.
Terima kasih atas atensinya.

Post a Comment

Followers