February 17, 2013

Namamu Mengandung Sebuah Cerita



Kisah beberapa hari lalu sepertinya telah usang. Namun, kau masih tersenyum akannya. Barangkali, cerita memang terlahir setiap hari. Jikalau memerhati, boleh jadi dia memagut konsentrasimu untuk berfokus kepadanya. Tetapi, banyak manusia tiada mengingat satu demi satu peristiwa. Hilang. Lupa. Tak berbekas. Sebelum memoriku tumpah, kularikkan bait-bait ini agar kau senantiasa mengingatnya.

Siang tadi kau menyapa, selaksa ada yang terlengkapi di tengah sepi pertengahan Februari. Tegur dan cengkrama menjadi awal dari sebuah percakapan. Melewati sesi tanya kabar, mengerjakan hal apakah di sana, serta cuaca mendung yang membangkitkan sisi-sisi bijaksana. Oh, segalanya terjadi hanya sepenggalah waktu, bagiku, entah bagimu.
 

Kemudian, topik kubelokkan ke arah pengertian sebuah nama. Kau, sungguh kuterka memiliki asma yang luar biasa indah. Tiada yang tahu apa maksud dari tiga suku kata itu, kecuali kau, keluarga, serta Tuhanmu. Namun, bolehkah kau membagi makna yang terkandung di dalamnya kepadaku? Mungkin saja setelahnya, aku bersedia memahatmu ke dalam bait sebuah cerita.

Kau tersenyum tanda mengiyakan. Barangkali, kau juga tersipu, jikalau namamu ternyata lebih sempurna bila dibandingkan dengan malam, yang kau agungkan melebihi secantik-cantiknya terang. Lalu, pelan-pelan kau mulai mendongeng tentang arti sebaris namamu. Dan aku, menyaksimu sembari merangkaikan mimpi.

Anis, ujarmu ialah berarti teman sejati. Kawan yang mana akan tetap tinggal, meski pahit senantiasa diretas. Sahabat yang selalu mengingatkan akan pijakan-pijakan tanah agar kau tiada terjatuh akannya. Serta seseorang, yang akan menguakkan keburukanmu kepadamu, tak lain agar kau memperbaiki semua dan menjelma insan sempurna. Oh, sebenarnya, aku kurang mengerti dari mana asma itu berarti. Namun, kau hanya menangkapnya dari kakakmu, yang pada ganjil hari memberitahu.

Lalu, Balqis, pungkasmu merupakan nama seorang ratu yang cantik jelita. Atau dalam bingkai asmamu, ia berdalih wanita sempurna berhiaskan wajah rupawan. Yang mengalihkan pandangan lelaki hingga merunduk menahan diri. Yang mengingatkan sesiapa akan bagaimana kuasa Illahi. Kau tahu, langit malam sesungguhnya gemar melukis setiap rona milik wanita hingga kian menghitam. Namun, tidak teruntukmu, sebab di malam yang lain, aku masih bisa membekas rautmu berpendar, melebihi beningnya embun pada pagi yang menyanjung.

Suku penghujung, Nursaumi, dalam roman-roman timur mengandung esensi cahaya pada bulan Ramadhan. Sinar di mana menerangkan yang gelap, serta menyilaukan yang gemerlap. Kelak, di bulan itu segala nafsu dunia dibelengguh oleh janji-janji Tuhan akan kenikmatan setelahnya. Yang taat menyanggupi, yang khianat mengingkari. Oh, bukankah Tuhanmu sangat pedih akan segala adzab-Nya? Maka, mengapa sesiapa masih gemar berpaling dari-Nya? Tiada yang mengerti, selain nurani mereka sendiri. Yang pasti, pada Ramadhan dua puluh tahun silam, keluargamu tersenyum, mengelus bayi perempuannya, yang menangis mencari-cari perlindungan dunia.

Maka, tuntas sudah aku berkisah tentang makna namamu. Jikalau kau sibuk dan tak ada waktu, kau tinggal membaca pada bagian akhirnya saja. Sebab, aku akan memahat arti asmamu lengkap di sana: wanita secantik ratu yang lahir di tengah cahaya bulan Ramadhan. Itulah kamu, Anis Balqis Nursaumi, teman wanitaku.
(IPM)

Bandung, Februari 2013
#Ilustrasi diunduh dari sini

4 comments:

Tiara Balqhis said...

Balqis Sang Ratu, seperti asmaku... :)
Teruslah menulis Kak,
Karena aku salah satu pembaca setiamu :)

Idham P. Mahatma said...

Iya, sama ya nama kalian.
Hoho.
Siap, makasih banget lho.
Aku juga bakal jadi apresiator blog kamu dah.

Syariful Anam Rifa'i said...

sabi dham
super sekali !

Idham P. Mahatma said...

Nuhun, Pul.

Post a Comment

Followers