February 05, 2013

Pada Sebuah Penantian



Janjimu pada siang semakin luruh dan bertambah usang. Seperti hendak teringkari, sebab bayangmu telah beralih, ke lain sisi, di mana aku tak sanggup menatapmu sendiri. Sedih. Pedih. Selaksa air cuka yang disiram pada basahnya luka. Kelak, matamu akan melambaikan ungkapan pisah yang teragung. Yang mewujud sesiapa untuk ikut sedalam sunyi. Ini semua tak lain untuk diriku, yang sedari tadi menunggu.

Kau tahu, Cinta, berapa jengkal dalam waktu aku menantimu?

Adakah kesepian ini sanggup terhapus oleh kehadiranmu nanti?

Oh, barangkali sejak musim hujan tahun lalu, aku masih terpatung di sini. Di sisi jalan yang memisahkan arah ke rumahmu dengan rumahku. Di sisi yang memuntahkan memoria ketika dalam derasnya hujan kita saling berpayung dan memeluk pergelangan.
 

Aih, harusnya aku tidak bercerita tentang bagaimana kita mengusir basah dengan lamat-lamat saling bertatap. Tak pula berkisah akan dekapmu yang meninggikan suhu basuh dalam tubuh. Atau tiada seharusnya aku berbagi momen paling menyentuh saat kau bisikan kata mersa pada daun telingaku yang menganga. Ya, itulah lukisan elegi yang sempurna, seperti sepasang merpati yang tiada bisa terbang lagi berdua. Dan tak salah, jikalau saat itu aku mengutusmu menjadi senja paling merah dalam hidupku. Yang akan kumiliki seutuhnya dalam hitungan hari.

Namun, kau, dengan rok bercorak bunga-bunga Edelweis terakhirmu, mengucap selamat tinggal sebelum pernyataan dariku sempat tersampaikan. Kau berlari, memegangi topi lebar yang kau kenakan untuk mengikiskan silau mentari. Beberapa detik berlalu, kau lenyap tanpa sebutir lagi air matamu.

Penantian ini pun dimulai. Sehari, dua hari, seminggu, dua minggu, sebulan, dan berlanjut hingga pergantian musim kemarau, lalu penghujan lagi. Dalam asa, aku percaya, jikalau kau hanya mengujiku akan makna kesetiaan cinta. Maka, kuteruskan saja diam serta menduduki singgasana penantian yang panjang ini sendirian.

Kau tahu, Cinta, selama menunggumu, ada berbagai wanita lain yang mendekatiku untuk menawarkan kenyamanan hubungan. Ada yang memintaku menemaninya ke plaza kota, ada yang mengajak menghabiskan malam berdua, serta ada pula yang nekat melarikanku dengan paksa. Tapi, aku lelaki dengan segala perkataanku. Jika cinta, aku akan cinta. Seperti saat ini, masih sabar menantimu di sisi jalan yang memisahkan arah ke rumahmu dengan rumahku.

Sejujurnya, Cinta, raga ini tak lelah. Aku tiada keberatan menunggumu kembali bersambang. Namun hati, bagaimana yang dirasa oleh hati? Adakah dia kuat memutuskan tekad untuk setia menanti? Ataukah dia cukupkan kesia-siaan ini menjadi kelam album memori? Oh, aku tak sanggup mengisaknya.

Entahlah, semakin hari, semakin aku merasa ada hal yang salah dalam kesetiaan yang tak berarti. Aku, bagaikan seorang lelaki yang jatuh cinta pada langit malam, yang ingin memeluk Dewi Bulan, atau pula yang berhasrat untuk mempersunting Praweswari Bintang. Tak mungkin, barangkali akal sehatku mulai berpaling.

Dalam sepi, hatiku berbisik pada nurani: Sebelum memutuskan untuk menunggu, harusnya aku terlebih dahulu memastikan, bahwa kau akan benar-benar datang pada suatu waktu, membawa utuh janjimu, yang bersedia hidup selamanya, bersamaku...
(IPM)

Bandung, Februari 2013
#Ilustrasi diunduh dari sini

3 comments:

Leni Fitria said...

dan pada sebuah penantian, kadang juga berakhir pada penantian.
^^

Annur eL Karimah said...

setujulah sama Leni hehe...

Idham P. Mahatma said...

@Leni Fitria : Oh, melankolis sekali ya kata-katanya. Hoho.

@Annur eL Karimah : Wah, ada yang berkoalisi nih. Haha.

Post a Comment

Followers