March 24, 2013

Kau Lelaki!



Pernahkah kau terlalu mencintai seseorang, bahkan ketika orang tersebut tak pernah memalingkan seraut wajahnya padamu? Dia, sungguh selalu maju ke lain sisimu, berharap kau tak memerhatikannya. Tetapi, bayangmu berbeda pendapat, ia lekat pada setiap jengkal langkahnya yang pekat. Oh, inikah yang disebut orang sebagai rasa sejati? Yang mana hanya memberi, tanpa mengharapnya segalanya bersambang kembali.
 
Aku melihatmu begitu tergila-gila akannya. Seolah, tiada lagi Tuhan mampu mencipta bidadari lain sesempurna dia. Aih, kurasa saat ini matamu sedang tertutupi oleh rasa terbodoh bernama jatuh cinta. Mengapa kau menyebut itu bodoh? Ya, bukankah lelaki terhebat pun akan terlihat bodoh ketika dia jatuh cinta. Dia akan tak sadar bahwa telah kehilangan dirinya, terlagi melalaikan intelektualnya yang agung. Bukan negatif, hanya kodrat manusia, yang sedang terbuai oleh kata merah berasma cinta.

Kali lain, akan kuajak kau ke Bali. Di sana, kau akan mengerti tentang apa itu petang. Sore terindah di Kuta akan melupakan sosoknya yang lebam. Kau bisa sesekali menenggelamkan ragamu pada ombaknya. Kau benamkan pula dia, serta bayangnya hingga dalam, sampai menghilang.

Tetapi, aku sungguh kecewa akanmu. Kau, justru memagut sebatang ranting yang rapuh. Kau arahkan ranting itu pada pasir pantai yang masih basah. Pelan, kau tuliskan namanya panjang. Sekejap detik, ombak menyambar asma orang terkasihmu itu hingga menguap. Tak bersisa. Kau tahu, sebenarnya cinta itu hanyalah perasaan yang muncul karena terbiasa, dan hilang pula karena terbiasa. Maka, adakah kau akan memulai membiasakan diri untuk kehilangannya?

Terkadang, aku terkesan ikut campur akan kisah yang kau jalankan sendiri. Tetapi, kau harus ingat, aku hanyalah Tukang Cerita yang gemar mengupas kisah. Tak pernah dariku ingin memudarkan rasamu akannya. Tak ada pula dalam rautku untuk mendekatkan harapmu kepadanya. Kau hanya perlu menganggap aku 'titik', yang lekat di samping kertas tanpa pernah mengubah perihal isinya. Oh, sudahkah kau paham tentang makna guratan ini?

Lain waktu, akan kupaksa kau memahami akan apa itu cinta. Entahlah, sejujurnya apa yang kau inginkan dari mencintainya? Adakah keluasan pikirannya yang membuatmu mewujud gila? Adakah raganya yang bagai kosmetik kecantikan di mana luntur bersama waktu sanggup mengubahmu tak bermata? Atau, sungguhlah dia, yang telah mencuri hatimu dan serta merta membuangnya jauh, sehingga kau susah payah mencari-carinya.

Aih, kau lelaki! Kau yang menentukan apakah dia benar-benar harus kau perjuangkan. Bila cinta hanyalah soal berpegangan tangan, maka seorang ayah lebih layak untuk mendapatkan. Dan bila cinta hanya tentang hujaman kata-kata manis, maka seorang ibu lebih utuh untuk menerima. Oh, bukankah cinta lebih jauh maknanya daripada itu semua? Yang mampu membangunkanmu ketika kau terpejam. Yang sanggup meninabobokanmu di tengah terik yang terang. Atau, yang kau rela kehilangan separuh dirimu hanya teruntuk semu bayangnya. Tidak wajar, bukan? Tapi itulah cinta, yang manusia rela mengais-ngaisnya.

Di akhir roman ini, sungguh aku tiada memintamu untuk memilih sesiapa. Sebab, yang menjalani hidupmu ialah kau. Bukan aku, atau mereka yang mewarnaimu dengan sesuka. Namun, ketika nanti kau lelah mengejar bayangnya, cobalah kau perhatikan sekelilingmu. Lihatlah dia yang lain dengan mata hatimu yang sejati. Tengok rautnya yang lekat-lekat dalam diam memberimu seberkas perhatian. Kau tahu, terkadang orang yang mencintaimu ialah dia yang tak pernah menyatakan cinta padamu. Dialah aku, wanita yang berpura baik-baik saja karnamu...
(IPM)

Bandung, Maret 2013
#Ilustrasi diunduh dari sini

0 comments:

Post a Comment

Followers