April 20, 2013

Nona Manis dalam Bus Kota



Tabrak aku, wahai bus kota! Aku ingin merasakan mati, dengan memori yang bersimbah darah dan luka!

KLAKSON bus kotamu berbunyi berkali-kali. Supirnya mabuk, sering menyela para pemakai jalan lain yang berjalan rapi. Kau, terus memegangi tangkai bangku di depanmu. Erat. Demi detik menjauh, semakin enggan kau melepas ragu. Raihmu melemah, tak tahan lagi. Untuk akhirnya kau menyerah, turun dari bus sialan itu, bersama ibumu.

"Kiri Pak! Kiri!" teriak ibumu kencang.
 
Sein lampu bus tidak mengedip, tapi bus tetap melenggang menepi. Tanpa basa-basi. Tanpa permisi. Lantas bus itu berhenti. Sopirnya marah, mencela kalian lengkap dengan kasar kata-kata.
 
"Banyak orang gila di sini," desahmu.

Sambil berlalu, digandengnya tangan wanita itu, perlahan.
***

BUS yang lain baru akan melenggang lima belas menit lagi. Kau terhenti, merapikan beribu letih yang terenggut dalam hati. Jemarimu, kini bergetar keras tak menentu. Seperti ingin meninju sesuatu yang tak pantas kautuju. Namun, desah napasmu pelan, laksana burung yang terbang enggan.

“Kau tak apa, Sayang?” tanya ibumu.

Kau hanya diam. Tersenyum. Entah baik, entah sakit, yang kaurasa di sepanjang siang. Dan bus yang kautunggu akhirnya menerawang di antara keheningan.

“Sudah datang, Bu. Ayo bereskan barang-barang kita dan naik,” ajakmu.
***

AKU terhenyak, tapi tak mengisyaratkan banyak gerak. Ketika kau lewati bangkuku untuk duduk pada kursi kosong di belakang. Aku kian memerhati. Namun, aku tak bisa menegur sapa. Ronamu hijrah, seiring panjangnya mata yang melirik sebaris wajah. Tudung cokelat itu, melenggang indah dengan pasti. Dan aku, tak kuasa menahannya pergi.

Kau meletakkan ragamu kini. Tepat di balik lekukku. Ibumu, tak lupa menemanimu dari sisi sebelah. Bus kota bising melaju. Namun terasa sunyi, tanpa notasi, tiada yang berbincang sama sekali.

Dalam hening, aku tahu ada jiwa-jiwa yang meminta sesuatu untuk diijabah. Entahlah, barangkali aku termasuk jiwa fakir yang gemar meminta-minta.

“Tuhan, pertemukan aku lagi dengannya. Sebab, aku telah melihat mataku di matanya,” tutupku dalam rintihan doa.
***

SEPERTI dalam romansa, atau juga elegi picisan, maka dalam suatu waktu mereka dipertemukan oleh ketidaksengajaan. Lantas mereka memadu kasih, saling memandangi, dan berlabuh pada tinggi pelaminan. Kelak, mereka memiliki beberapa anak yang manis, pintar, dan lugu. Hidup mereka bahagia. Sang suami bernama Senja, dan sang istri berasma Jingga. Ya, Senja memang seharusnya berlatarkan Jingga. Namun maaf, ini bukan kisah seperti yang kalian ingin. Mungkin sedih, serta berliter tangisan, lebih manusiawi ketika diakhirkan pada sebuah kejadian. Sudah kubilang, jangan kau tergoda oleh bahagia. Malah, kau patut menaruh curiga kepadanya. Karna kutahu, di dalam riangnya yang agung, semangkuk racun siap dihidangkan untuk merutuk tangismu pada tajamnya relung. Dan kau, mungkin tak percaya, jikalau aku pernah mengalaminya sebelum roman ini dicipta.

Laksana pada episode yang lain, hidup memanglah menghadirkan banyak rasa. Ketika kau bertemu dengan orang yang kaucinta, boleh jadi nirwana seperti kaugenggam berdua. Namun, pada masa dia yang kaucinta pergi bersama lain kekasih, surgamu tiba-tiba memerah, terbakar oleh amarah, dan boleh jadi kau merutuki kepergiannya yang hampa. Oh, bukankah pengkhianat memang pantas untuk pengkhianat yang lain?

Namun, kau tetap bersedih, mengurung diri dalam kamar dengan hiasan lelehan air mata di sana-sini. Basah. Resah. Lelah bercampur kecewa dengan emosi memenuhi ruangan lengang yang terasa tanpa udara.

“Menangislah satu, atau dua hari. Yang pasti, pada hari ganjil berikutnya, aku mau melihat lesung pipitmu lagi...” pintaku padamu.
***

KAMI menaiki bus kota yang sama. Namun, kau tak bersama ibumu. Tudungmu juga tidak berwarna cokelat. Tak ada yang akan menabrakkan diri. Tiada pula yang ingin merasakan mati. Oh, supir bus kotanya tidak gila dan ugal-ugalan seperti dulu. Kau tidak turun untuk menaiki bus berikutnya. Serta aku, kini tak duduk di depan kursimu. Dan kau, tak acuh seperti dahulu ketika melewati mataku yang mengusik bayangmu. Tanganmu, tanganku, sekarang berpangku pada lelah yang sama. Kepalamu bersandar ke kanan, dan pundakku berubah bidang menjelma penopang. Dari mataku, terlukis binar-binar asmara yang menghangatkan seisi ruangan bus kota.

Maaf, aku tak sanggup mengubah jalan ceritanya. Biarlah kisah ini menjadi romansa picisan yang dijajakan sesuka. Kalian tahu, ketika kuliskan kronologi ini, sisi kiri tanganku sedang menggenggam tangannya yang sedingin embun. Sedang yang lain, sibuk mengabarkan seluruh bait bahagia kepada kalian. Sungguh indah, bukan?

Oh ya, perkenalkan, kekasih baruku: Farita, Nona Manis dalam Bus Kota.
(IPM)

Bandung, Februari 2013
#Ilustrasi diunduh dari sini

0 comments:

Post a Comment

Followers