May 27, 2013

Lesung Teman Dekat



Meja di sudut rumah makan cepat saji dekat kampus ialah tempat favorit bagi kami untuk mengulum masalah duniawi. Di sana, tiada yang menghirau setiap tanya atau tawa. Semua manusia acuh-tak-acuh, berpegang pada urusannya sendiri. Dan kami, selalu memiliki bahan untuk dijadikan cerita. Maka simaklah!
 

Sebelumnya, aku akan memberi tahu siapakah kami. Perkenalkan, namaku Atma, si Tukang Cerita, di samping kananku, Dya, serta seseorang yang berada di depan, Ana. Kami bertiga bersahabat, atau juga berteman secara sangat baik. Sebab, dalam alibiku tiadalah yang disebut sahabat antara lelaki dan perempuan, yang ada hanya kekasih. Namun, beginilah kami.

Aku tak sejalur dengan mereka. Dya dan Ana berasal dari satu kota yang sama, Kota C. Kota yang mengisyaratkan ‘Mega Mendung’ untuk setiap siang yang terik. Entahlah, aku tak seberapa mengenal apa makna yang terkandung di dalamnya. Dan aku, sebenarnya juga belum pernah bersambang ke kota itu, karenanya, aku tak sanggup mengkisah lebih lama.
   

Kukisahkan pada kalian tentang dua kawan terbaikku kini. Baiklah, aku mulai dari Ana, wanita tinggi jenjang yang rentan ‘tersakiti’. Oh, sabarlah, itu hanya kiasan. Sebab, dia kutahu ialah salah seorang perempuan paling tangguh di kelas. Aih, barangkali kepribadiannya terbentuk dari apa yang telah diajarkan oleh orangtuanya. Dan lagi-lagi, entahlah, aku tiada kuasa, belum seberapa dalam mengenalnya.

Yang kedua, Dya, perempuan teranggun hasil sebuah pemilihan angket di kelas. Dya sangat ramah serta gemar tersenyum renyah. Dalam anganku, andai aku menjadi seseorang yang asing baginya, barangkali aku telah jatuh hati kepadanya. Tetapi, seperti kata Dya sendiri, bahwasanya jangan pernah menilai seseorang dari apa yang ditampilkan. Kau perlu melihat lebih dalam dahulu, sebelum ragu, dengan lekat menjemputmu. Setelahnya, aku mulai tahu siapa Dya. Seperti yang kalian tebak, aku tiada jadi melakukannya.

Kami bertiga gemar menghabiskan malam di pinggiran kaca sambil memerhati sesiapa yang pergi-datang. Di meja kami, selalu tertegun uap kopi yang tak hangat lagi. Entah punya Ana, Dya, atau aku, senantiasa menghabiskan spasi meja yang penuh kertas-kertas ujian duniawi. Di sini, jikalau kau tak berteman, barangkali lamat-lamat kau jualah yang akan hilang. Sebab, hidup seyogyanya memang harus dibentuk dengan benturan dan tekanan. Alih-alih bermain, setelahnya kau akan menangisi segalanya berpaling.

Kau mungkin juga tengah paham, tentang bagaimana malam memilih beberapa kisah untuk nantinya diceritakan. Ya, memang hanya malam, yang akan membuatmu menjadi sendiri dirimu, utuh. Dan ketika malam pula, kau justru akan menampakkan sisi lain darimu, di mana kala siang tiada mencerna segala terik bayangmu. Kau, tampaknya mulai menguakkan bias hingga sesiapa tak mengenali, lagi.

“Kau anak muda, kau bebas melakukan segala. Kalau salah, ya salahlah di kampus, sebab segalanya akan dimaafkan. Namun, kau harus ingat, bahwa nantinya semua harus benar,” jelasku.

Entahlah, aku sangat gemar berkata seperti itu di depan mereka. Karena, hidup hanyalah teruntuk para pemberani, yang tiada berdiam di zona nyaman. Ketika tidurmu tak lagi tenang, mungkin itulah tanda bahwa kau telah memilih jalan hidup dengan benar. Dan masih dalam hidup, mereka yang menghindari bahaya, akan selamat. Namun, mereka yang menaklukkan bahaya, akan semakin kuat. Maka, terserah kau akan memilih, yang pasti kaulah penentu hidupmu sendiri.

Berpegang dengan cinta, ya, tiada dari kami yang tak lepas dari kata sederhana pemilik para dewa. Kami bertiga, sungguh memiliki lembar hitam-putih masing-masing akan rasa. Coba kalian perhatikan, Ana, Dya, dan aku sungguh mengidolakan alfabet nama seseorang yang sama. Ya, tak perlu kusebutkan, barangkali saat kalian membacanya, kalian akan tersenyum sendiri mengenangnya.

Ana dan Pangeran kuda besi. Oh, malang benar nasib Pangeran itu, sebab dia tak pernah tahu betapa ada seorang gadis baik yang mengharukan mimpi di atas namanya. Dan mungkin, Pangeran itu hanya akan menjadi angin lalu, yang terbang entah ke mana menjemput lain kekasihnya. Kau tahu, Pangeran, cobalah sesekali kau terka sekitar pandanganmu, lihatlah lamat-lamat matanya yang sayu. Kelak, barangkali kau akan merasa kehilangan, ketika Ana tak lagi mencintaimu, serta kau tak pula mendapatkan hati idamanmu yang lain. Tapi, itulah cinta di dunia, hanya luka, atau barangkali nestapa, yang gemar dipeluk manusia.

Dya dan Kaisar tanpa jati diri. Ya, setidaknya kisahnya tentang Kaisar cukup mewangi dibanding cerita Ana dan Pangeran. Sebab, mereka sejalan, dalam ruang dan keserasian. Sang wanita rupawan, serta sang lelaki menawan. Mereka berdua sama-sama pintar dalam urusan materi, selebihnya aku kurang mengerti. Aku cukup mengenal sang Kaisar, barangkali juga teman dekat. Dan aku sungguh mengerti bagaimana darinya seorang lelaki memposisikan diri. Aku cukup banyak berubah darinya, sebab, aku gemar memiliki rival. Tenanglah, tak bertujuan lain, hanya untuk memantaskan diri. Tetapi, apakah mereka berdua bahagia? Ataukah hanya topeng yang dirautkan keduanya? Jawabnya tak tahu. Sebab, terkadang orang yang begitu dekat denganmu, justru kau sungguh tak benar-benar mengenalnya.

Tentang ceritaku, barangkali kau telah hapal akan semuanya. Kau tinggal memilih kisah apa pun di dalam setiap bait karyaku, karena, segalanya adalah tentangku. Bukan yang lain. Apabila kau membaca Bunga untuk Sesiapa, maka kau akan kubawa ke era putih abu-abu yang haru. Atau apabila kau mencerna tentang Ada Pelangi yang Tak Pernah Mengukir Ujungnya, sungguh kau akan kuantar pada taklidnya cinta diam-diam kepada seseorang. Jadi, itulah ceritaku, lengkap dengan kata, serta ilustrasi yang dibawa.

Bersama Dya dan Ana, aku menjadi diriku sendiri. Begitu pula dengan Ana ataupun Dya ketika berucap kepadaku. Tapi maaf, kami berdusta. Sebab, tak ada yang paling mengerti mengenai hati, dibandingkan orang itu sendiri. Dan akhirnya, inilah frasa-frasa terakhir untuk kalian: wanita yang baik hanya untuk laki-laki yang baik dan sebaliknya, sementara yang baik menurutmu belum tentu baik bagimu dan sebaliknya, serta terkadang seseorang yang mencintaimu ialah dia yang tidak pernah menyatakan cinta padamu.

Sekian dahulu kisah tanpa alur dariku. Maaf, keretaku sudah datang, sampai jumpa lagi semester depan.

Selamat liburan, Dya, Ana, Kawan!!!
(IPM)

Stasiun Hall Bandung, Mei 2013
#Ilustrasi diunduh dari sini

4 comments:

White Out said...

mantep iki bos ceritane :D

Idham P. Mahatma said...

Makasih atas segala apresiasinya.
Salam berkarya!

aprilia nur said...

sip idham (:
moga kisahmu makin banyak...

Idham P. Mahatma said...

Iya, April, makasih banyak ya atas segala atensinya.

Post a Comment

Followers