May 10, 2013

Selir-selir Tuan



Tak perlu bergelar Eyang untuk bisa dekat dengan beragam perempuan. Contohlah dia, Tuan, pria sejati untuk para perempuan...

AKU masih menyalakan mata, untuk sebuah perjalanan terakhir malam ini. Lampu-lampu natrium, kekuningan menguapkan kabut. Perlahan, terdengar suara napas panjang berpeluh di balik kursi tempatku mengemudi. Tak perlu kuperhatikan, aku hanya harus memastikan keduanya aman berpulang; pada tepi jalanan, dan pada rumah penderma yang megah nun elegan.

"Sudah sampai, Tuan, silakan!" kataku saat subuh berangsur menggusur malam.
***

TUANKU begitu ramah ketika berbicara dengan rekannya. Dia, selalu bisa menempatkan diri pada setiap percakapan. Bibirnya manis, seperti hendak mengulum seluruh telinga yang memerhati.


Aku belum cukup lama menemani Tuan ke sana ke mari. Baru sekitar enam bulan, sejak seorang teman menelepon bahwa ada pekerjaan istimewa untukku. Gajinya besar, tapi cukup lelah, karna aku harus bersedia lembur setiap hari, akan dipakai sebagai supir seorang pejabat negeri ini. Tak apa, asalkan dapur tetap mengepul di rumah, aku rela.
***

BERCERITA tentang Tuanku, sungguh tak akan berhenti begitu saja di sini. Barangkali, kau juga cukup mengenal jati diri Tuan daripadaku. Kau bisa dengan mudah mendapatinya berbicara soal moralitas dan integritas bangsa di televisi atau acara pemerintahan. Bahkan saat pidato, dia begitu bersemangat bak orator yang menyuarakan sejati kebenaran. Tak lupa, ditambahkannya pula ayat-ayat di bagian penghujung naskah agar lebih dipercaya pembenarannya. Lengkap sekali, Tuan. Kau membohongi mereka dengan alibi agama. Ya, agama ialah salah satu barang dagangan terlaris di dunia politik. Dan kau, apabila ingin cepat menuai dukungan, contohlah Tuanku, dia lihai sekali bertopeng baik di depanmu.

Baju kemeja putih, dipadu dengan jas hitam atau jaket kulit ialah tampilan Tuan sehari-hari. Flamboyan, atau lebih pantas kusebut pencitraan. Oh, jangan mudah percaya pada penampilan seseorang. Bukankah yang diam justru biasanya menghanyutkan? Atau juga yang ramai, seyogyanya hanyalah tong kosong yang nyaring ketika dibanting? Maka, kau harus berhati-hati.
***

PERTENGAHAN siang bergulat, dering ponsel sentak mengheningkan suara untuk bergegas menemui tuannya. Jalanan ibukota tengah hari memang menyebalkan, sangat padat.

Tapi, bukankah macet hanya untuk mereka yang tak beruang? Yang kaya, atau juga memiliki jabatan berlimpah, cuma perlu memanggil pasukan kuda besi yang berisik. Dipasangnya sirine-sirine untuk meminta semua minggir, maka kau dengan cepat sampai pada tujuan yang tak jelas. Aih, kali lain, biar kudatangkan ambulans saja, tak berbeda jauh sepertinya, antara kendaraan pejabat, dengan kendaraan orang sakit yang tak lama akan menjadi mayat.
***

"AH, lama sekali kau! Cepat, antarkan aku ke kantor proyek yang kemarin siang!" ujarnya, ketika aku terlambat lima menit untuk datang.

Di sudut mobilnya yang luas, ada beberapa tabiat Tuan yang aneh ketika mengisi keheningan perjalanan. Dia gemar mengutak-atik ponselnya, menanyakan kabar kepada beberapa orang, yang aku terka mereka semua adalah wanita. Sebab, Tuan selalu memanggil mereka dengan sebutan: Sayang, Manis, atau kata-kata khas seumuran anaknya yang ABG.

Oh, barangkali memang Tuan tengah mengalami pubertas kedua.
***

AKU selalu menjemput Tuan di kantornya yang tinggi menjulang selepas Isya'. Entahlah, dengan uang siapa gedung ini dibuat. Anggarannya pastilah sangat besar dan rumit. Dalam hal tender, barangkali dahulu haruslah perlu dilakukan gratifikasi atau semacamnya. Aih, siapa yang tak mau menjalankan proyek untuk sebuah badan pemerintahan?

"Langsung ke hotel biasa ya!" katanya.

Dan, kami pun mengunjungi tempat-tempat malam yang mengheningkan sesiapa. Tapi, sungguh tempat yang Tuan kunjungi ialah persinggahan yang ganjil. Sebab, suasananya bak terbalik: sepi dan muram di depan, tetapi ketika masuk, kau akan mencicipi apa itu yang disebut dosa termanis. Silakan kau taksirkan sendiri.

"Oh ya, kalau Nyonya telpon kamu bilang saya masih di kantor, ada lembur," ucap Tuan sambil melempar selembar uang pecahan seratus ribu.

Aih, dia sangat perhatian padaku, atau juga dia tak mau, apabila aku akan mengadu pada Nyonya, yang begitu lugunya percaya akan apa yang dilakukan suaminya.
***

"SIAPKAN mobil, saya mau keluar," katanya, ketika jam tanganku menunjukkan pukul tiga pagi.

Aku bergegas menghampiri. Kunyalakan mesin, kuteguk kaleng kopi murahan sampai habis, dan perjalanan siap kubumikan kembali.

"Tolong antarkan dia ke daerah Kebayoran, dia tampak tidak fit. Setelah itu, kau balik lagi ke sini, antar saya pulang," pintanya.
***

WANITA itu duduk di kursi belakang. Sendirian. Berteman tas kulit keluaran luar negeri, serta gaun minim berwarna biru laut. Kakinya jenjang, putih, dan meruakkan nafsu agar terus memerhati.

"Aih, wanita Tuan yang baru. Nomor wahid. Tak ada yang mengalahkan," desahku.

Aku masih memicingkan pandang melalui ekor mata, menikmati ceceran rona wanita Tuan. Gincu merah di bibirnya begitu pekat, seakan tak pudar bahkan ketika usai bermanja dengan Tuan. Oh, tebal dompet memang terkadang menentukan siapa yang menemani ketika malam.
***

"SUDAH sampai Nona, silakan!" ucapku padanya, yang lekat-lekat beranjak dari jok empuk mobil termewah.

Dia melemaskan kakinya perlahan, dan keluar. Mobil melenggang, menuju hotel, menjemput Tuan. Jalanan ibukota dini hari memang sangat berbeda. Banyak hal yang tak terlihat ketika siang, dan saat malam dibukanya kelam-kelam tanpa sebuah penghalang.

Kalau kau lewat di persimpangan tertentu, jangan coba-coba membuka kaca mobilmu. Kau tahu, sekali salah langkah, bisa jadi kartu pengenalmu yang tersisa.

Atau, saat kau mengalunkan jalur ke sebuah jalanan yang ganjil, maka kau akan melihat bidadari-bidadari malam yang gemar menawarkan tarif sewa. Kau tahu, apabila kantongku cukup tebal, barangkali sesekali kubawa satu, untuk teman selagi mengemudi agar tidak sunyi.
***

TUAN mengajakku ke sebuah alamat rumah di sekitar daerah Jakarta selatan. Seperti biasa, selepas pulang kantor di hari kerja, Tuan tak pernah langsung pulang ke rumah. Barangkali bosan, melihat istri yang gemar berceloteh ini-itu kepadanya. Maka dia, memalingkan muka ke selir yang lain, yang mendengar keluhnya dengan tarif sesuka.

"Kali ini siapa lagi?" tanyaku.

Wanita Tuan sangatlah banyak. Mulai dari pemudi kuliahan, rekan kerja, model majalah dewasa, penyanyi dangdut murahan, hingga artis ibukota yang tengah redup sinarnya.

Ya, yang masih punya nama tak akan didekati. Kau tak sebodoh itu, apabila gerikmu terdengar paparazi dan karnanya karier politikmu hangus tak berperi.

Tuan turun dari mobil dan langsung masuk ke dalam rumah wanita itu. Sendirian. Seakan telah mengerti bagaimana cara memperlakukan diri. Tak berangsur lama, Tuan keluar, sambil menyuruhku membelikannya berbagai keperluan untuk malam ini ke apotek.

Aih, aku ini supir atau pembantu rumah tangga? Mau-tak-mau disuruh untuk menjalani keduanya.

Ya, Tuan barulah keluar kembali lepas pukul tiga pagi. Wajahnya lelah. Tapi lega tertancap dalam asa. Kau pasti begitu hapal akan raut wajah majikanmu, sehabis meluapkan amarahnya pada ragu. Berteman perempuan, bergulat dengan cahaya ruangan yang temaram.

Saat berlalu, aku melihat sebuah mobil putih merk terbaru terparkir rapi di dalam garasi rumah itu. Aih, itu pasti pemberian Tuan. Oh, sungguh dermawan Tuanku, tak khayal jikalau banyak wanita yang hinggap di lembar hidupnya.
***

BERSAMA Tuan, aku berangsur memiliki relasi yang luas. Rekan Tuan sangatlah beragam, mulai dari bos-bos proyek, tokoh anggota dewan, tukang penyelesai kasus, aparat hukum, pengenyam pajak, pemimpin agama, hingga penghulu.

Beberapa aktor penting yang barusan kusebut hukumnya wajib untuk didekati. Sebab, di dunia ini kau tak sanggup untuk sukses sendiri. Perlu kawan, atau juga rekan sejawat, yang akan mendukungmu dengan alibi berbagi hasil.

Namun, ada satu yang juga penting di antara lakon yang kusebut: penghulu. Kau tahu, Tuan lagaknya pernah sekali waktu berkunjung ke tempat seorang penghulu denganku. Membawa seorang janda kembang beranak satu, dia menggamit lengannya pelan menuju persinggahan.

Sang wanita tak bergolek, ketika Tuan menghujamnya dengan rayuan dan tibalah mereka di depan penghulu bayaran itu. Alih-alih perlu seorang saksi, maka akulah yang mewujudnya sepi.

Tanpa pelaminan, tanpa orang terdekat yang datang, serta tanpa kebaya atau baju khas calon sepasang pasutri, Tuan berjanji dengan mulut manis berisi racun.

Nikah sirih, ialah pekerjaan Tuan berkelit daripada hukum-hukum Tuhan. Dosa, ternyata sanggup dibohongi dengan aturan yang tertera. Kau lihat Tuanku, diam-diam menambah seorang selir, tanpa istri sahnya menyantunkan syair.
***

SEKALI waktu, Tuan pernah mengutusku mengambil sebuah pemberian rekan proyeknya. Tuan hanya memberikan alamat, dan langsung melenggang ke dalam kantornya lagi.

"Kau angkut ya bingkisan kado itu ke sini. Tapi, jangan kau biarkan seseorang mengetahui," pungkasnya gugup.

Pesan Tuan mengisyaratkan sebuah paket yang sangat rahasia. Dan benar saja, ketika aku sampai pada alamat yang dituju, bukanlah bingkisan kado yang kubawa, melainkan satu raga: wanita.

Oh, aku baru sadar jikalau hadiah rekan Tuan ialah seorang wanita. Barangkali, inilah yang disebut oleh rekan-rekan Tuan sebagai: wanita dalam bingkisan kado.

Aih, najis benar pekerjaanku ini. Aku mengantarkan seorang jiwa untuk keperluan jiwa yang lain. Dan benar adanya, ketika urusan bisnis begitu rumit dan kompleks untuk diselesaikan, barangkali wanitalah yang akan menjamin segalanya lancar. Seni politik masa kini: kreatif, dan inovatif.
***

PERNAH suatu malam saat menunggu Tuan keluar tempat karaoke berfasilitas lain, aku tergerak membayangkan, memposisikan diri mewujud istri Tuan. Aih, aku masih tidak habis pikir sebagai dia. Mana mungkin sanggup menjalani semua sendirian.

Tengah malam, Tuan jarang sekali pulang. Tuan, barulah datang ke rumah sehabis subuh diretas. Kuperhati, Tuan lebih mirip seorang banci, yang letih setelah mangkal di sepanjang dini hari.

Tuan, kau sungguh aktor panggung kehidupan terhebat. Kau bisa menjadi seorang birokrat yang bermoral ketika siang. Berbincang bak malaikat dengan obrolan istilah politik kelas atas. Lagumu ialah lagu memberantas ketidakbenaran. Liriknya lugas, tanpa ampun menyalahkan yang tak baik. Tapi di malam hari, kau, Tuan, laksana serigala yang meneteskan liur-liur nafsu hewani. Kau jejali setiap bayang dengan semu kenikmatan. Dan kau, sanggup melakonkan semua secara rapi, sarat estetika, dan berseni.

Kau lelaki, bukan banci!
***

TUHAN cuma satu? Tuan hanya satu? Ulasnya tidak. Tuan tak hanya satu. Tapi Tuhan satu. Tuan bukan Tuhan. Banyak Tuan yang mengaku ber-Tuhan tetapi kau tak bisa menakzimnya beriman.

Perilaku Tuan sungguh liar dan berbahaya. Lebih menantang daripada pemberontak. Mungkin Tuan cukup, atau barangkali sangat dekat dengan Tuhan, hingga tak takut segalanya terbongkar dan berantakan. Atau, Tuan hanyalah logika yang tak mengerti, akan apa itu karma yang hakiki.

Selalu ada celah pada setiap perbuatan. Dan seyogyanya dunia, senantiasa melahirkan balasan dari bermacam kelakuan.

Tuan, kau bukan insan!
***

SEMAKIN hari, semakin pula tingkah Tuan menjadi-jadi. Dia tak tahu, atau juga lupa akan sebuah kalimat bijak milik berantai orang terdahulu. Bukankah sepandai-pandai tupai melompat, pasti dia akan jatuh juga? Maka, Tuan pun akhirnya tersandung dengan para selirnya sendiri.

Tuan tertangkap basah oleh pihak penyidik tengah berdua dengan perempuan muda di sebuah hotel. Dia berdalih, jikalau ini ialah murni perlakuannya yang pertama. Dia, sungguh tak mengaku akan kabar bahwa masih ada selir-selir yang lain di luar sana.

Siapa yang tahu? Siapa yang paling mengerti akan apa yang dikerjakan Tuan sehari-hari?

Jawabnya aku. Akulah yang paling hapal ke mana Tuan melagu. Akulah yang paling paham kapan Tuan berkunjung pada tempat-tempat penukar penat. Dan akulah, yang paling lihai menyembunyikan kebenaran Tuan di balik Nyonya ataupun sesiapa.

Sebelum penyidik datang kepadaku, ketahuilah, sehari yang lalu, aku lamat-lamat dipaksa melupakan wajah Tuan untuk selama-lamanya. Memoriku digali, dimasukkannya jiwaku ke dalam perih.

Timah panas itu tak tahu-menahu menghujam tempurungku yang kaku. Oleh orang bertopeng, aku dimusnahkan. Jasadku dipotong-potong dan disebar di beberapa kali beraliran deras.

Ya, setidaknya, aku masih sempat bercerita padamu tentang segalanya. Perihal Tuan beserta selir-selirnya. Ketika kau membacanya, pahami, akulah saksi kunci yang seharusnya hadir pada sidang dakwaan Tuan. Bukan dia, supir bayaran.

Kau hebat, Tuan. Kau lenyapkan aku dengan elegan...
(IPM)

Bandung, Mei 2013

8 comments:

Tiara Balqhis said...

Aku mbaca ini kok jadi inget Eyang Subur :D

bella citra Dinasti said...

Baca ini inget fathanah tapi bisa jadi itu darama yang di buat kpk, aneh aja ga logis :)

Idham P. Mahatma said...

Tiara Balqhis : Mencoba memparodikan politikus. Lebih tepatnya tentang Fathanah cerpen ini bercerita.

Bella Citra Dinasti : Iya, ini memang berkisah tentang lelaki sejati bernama Fathanah. Soal drama, barangkali hanya waktu yang menjawabnya - (retoris).

DreamCatcher said...

hei tukang cerita,,,
nice story,,,,
5 thumbs up (y)
btw, agak horor di akhir cerita but bener2 bikin tercengang.
keren :D

Rian Ade W said...

Baru sekali mampir ke blog ini.. Langsung suka!
Jadi lebih tau banyak ttg kasus heboh itu (walaupun cuma parodi).. Terus berkarya ya!

Idham P. Mahatma said...

DreamCather : Halo. Selamat membaca, terima kasih banyak atas segala apresiasinya. Salam berkarya!

Rian Ade W : Semoga makin sering mampir ya. Terima kasih banyak atas segala apresiasinya. Siap berkarya dah!

aprilia nur said...

horor kamu idham.
tapi...bagus juga walaupun q kurang tau fathanah.
~madu~

Idham P. Mahatma said...

Iya, maaf ya, hem, terkadang kita butuh suasana ending yang menegangkan.
Wajib tahu Fathanah tuh, Pril.

Post a Comment

Followers