November 27, 2013

Semua Lelaki (Tak) Setia



"Sebenarnya, apa itu setia?" katamu.

Jawabnya ragu: ketika kau memiliki pilihan, dan kau tak mempergunakannya, atau saat kau bisa berpaling, tetapi tetap ronanya yang kau gamit pelan.

Itulah makna setia dalam alibiku, Nisa. Sejujurnya, aku tak cukup mengerti soal kata-kata sederhana, namun perlu berlarik majas menerangkannya. Aku hanya lelaki, bermata dua, dan berhati satu: kamu.
***

"Sebenarnya, apa itu kejujuran?" katamu.

 
Jawabnya ragu: ada waktunya di mana kau harus berkata tentang apa yang telah terjadi sebenarnya, dan kau mau-tak-mau akan kehilangan segalanya. Wajahmu menghitam tertutup umpatan, tanganmu legam menahan tampikkan, dan matamu sayu, melihat yang kau punya luruh.

Itulah makna kejujuran, Nisa, yang pahit di awal, yang getir di muka. Tetapi, cobalah kau telusuri ujungnya, barangkali kau akan menemukan surga di sana.
***

"Sebenarnya, apa itu perpisahan?" katamu.

Jawabnya ragu: ada kalanya memang Tuhan menciptakan pasangan untuk segala kejadian. Siang berpasang pada malam. Suka berpeluk pada hangatnya duka. Lelaki bersanding dengan wanita. Atau yang lain, seperti pertemuan, yang hanya akan mengakhirkan pisah dan gemuruh air mata.

Oh, sekejam itukah Tuhan memasangkan? Mengapa harus ada akhir, apabila awal seperti malu-malu diretas? Dan mengapa mesti ada jangka waktu, ketika kau temui kekasihmu, dan kau tak ingin melepasnya utuh?

Itulah makna perpisahan, Nisa, yang terkadang baru terasa sebegitu berharga, jauh ketika dia tak kuasa saling berkata. Dan kau, hanya akan meratapi, tapi hidup, akan terus menggilas sesiapa yang sunyi.
***

"Adakah benang merah antara setia, kejujuran, dan perpisahan?" katamu.

Jawabnya ragu: tak tahu.

"Aih, kau bohong, Lelaki!" sejenak suaramu meninggi.

"Apakah kau lupa akan ketidaksetiaanmu dulu? Apakah kau sengaja tak mengingat akan ketidakjujuranmu saat itu? Atau, apakah perpisahan kita hanya menjadi bukti kedustaanmu pada janji? Ayo jawab!" kau menyudutkan.

Cobalah kau perhatikan, Sayang. Siapa yang tak setia? Adakah aku pernah berpaling pada seseorang? Bukankah yang kutuju selalu satu: kamu?

Kau tak memerhati, masih terpejam sambil setengah sesenggukan.

Baiklah, akan kuulangi perkataanku. Oh, cobalah kau perhatikan, Sayang. Siapa yang tak setia? Adakah aku pernah berpaling pada seseorang? Bukankah yang kutuju selalu satu: kamu? 

Maaf, tapi bukan kamu...

Dialah Tya, wanitaku, yang kukejar terus bayangnya. Yang kukagumi hitam-putih matanya. Yang kumimpikan di setiap gelap, hingga terang takkan sanggup membangunkan. Aku selalu setia pada Tya. Aku selalu jujur pada Tya. Dan aku, takkan menghadirkan pisah, sebab jumpa tak pernah mewujud dalam nyata.

Kau hanya uap, Nisa. Kau hanya bunga, yang layu ketika air tak lagi menyirammu. Tapi Tya, tak butuh air dariku untuk hidup, maka aku memagutnya meski susah.

"Kau bodoh! Kau jalang! Kau bukan manusia, Bajingan!" hardikmu memekakkan telinga.

Tapi maaf, Nisa. Aku tak bisa.

Terimalah, inilah aku, Lelaki, yang selalu mencari-cari, ketidakpastian, yang tak pasti.
(IPM)

Bandung, Mei 2013
#Ilustrasi diunduh dari sini

8 comments:

Rini Anggraini S said...

keren :')

Idham P. Mahatma said...

Terima kasih atas apresiasinya.
Salam berkarya!

Tiara Balqhis said...

Selalu suka ;)
Wah, nggak setia :P

Idham P. Mahatma said...

Terima kasih, Tiara.
Hoho. Namanya juga lelaki.

ayu lestari said...

Nice, nggak pernah bosen baca tulisannya :)

Idham P. Mahatma said...

Terima kasih banyak, Ayu, telah menjadi pembaca setia.

Rayi Maulida said...

Benarkah begitu, kak?

Idham P. Mahatma said...

Benar, memang seperti itu adanya.

Post a Comment

Followers