May 09, 2013

Sepasang Matamu Menutup Mataku



Pernahkah kau jatuh hati pada sepasang mata seseorang, hingga kau tak kuasa menggenapkan?

Perkenalkan, asmaku Satrya, lelaki seumuran suami-suami muda yang tengah merintih karirnya di dunia. Aku belum beristri, belum pula berikatan dengan seseorang yang kau takjub akan menjadi rahim tempat benih putramu kau tanam. Aku bebas, selaksa merpati pada sepenggalah langit, yang putih, yang bersih, yang gemar mencukil tiap kenangan-kenangan sunyi.

Lihatlah, ada yang masih bermata pada hari yang telah lelap. Siapa pemilik mata itu? Aku ingin tahu.
***

AKU menyukai matanya yang teduh, selaksa mengguyur luka dengan air cuka. Perih. Pedih. Namun perlahan, coba kau rasakan, kau akan sedikit demi sedikit menikmati nuansa dalam kesakitan. Maka, siapa bilang manusia tak mencintai sakit?

Kau tahu, aku begitu menggilai sepasang mata itu. Sebab, hitam-putihnya ialah amat sempurna. Apabila dalam sebaik-baiknya bentuk ialah lingkaran, mata mata itu ialah lingkaran. Dan jika seindah-indahnya lekuk adalah pahatan, maka mata itu adalah pahatan, buah karya Sang Titihan.

Mata itu, seakan melirik bak menjauh. Aku yang bergelora, senantiasa mendekatinya. Kusapa pelan dengan mataku. Kurayu binarnya, kuusap bait-bait rambut halusnya yang lentik, yang tiada pria kecuali ayahnya sanggup memaknai. Tak kusadari, mata kami bertemu, pada ruangan gelap yang senyap. Kami tak bermata, tetapi nirwana, rasanya begitu peluh mengalunkan kesah. Kami melumat lelah bercampur desah.
***

AKU masih menjaga setiap jengkal kenangan dalam ruang-ruang memori yang sempit, tak luas, tiada memberikan jangka gerak yang bebas. Ragaku sering berlari meninggalkan sepasang mata itu sendiri, tetapi nyata, ialah hanya kata yang tak akan bisa dijamah. Barangkali, aku sekadar menggauli letih, rasaku sunyi, dalam bayangku, bayangmu membuncah melucuti.

Kau tahu, pada hari senja yang tak berpelita dahulu, aku pernah menyediakan cukup air untuk kau basuh sepasang matamu. Masih di hari itu, hujan menangis seduh, diguyurnya tanah-tanah kering yang tegang, seraya menghempas tiap-tiap pati yang geram. Patimu basah, dan kau, menguakkan aku untuk memayungi pemilik sepasang matamu.

Aih, hujan, memang terkadang sangatlah kejam, apabila kau telah ketahui rasanya, dan kau tak bisa merajamnya seketika, barangkali hidupmu remuk, tak mengalurkan sempurna. Aku terdiam, tapi coba kau lihat wahai pemilik mata, aku terbang, melayang, dan hinggap pada ranting-rantingmu yang rapuh, terpenuhi bayangnya, yang kau takzim mengibahkan raut lelakimu.
***

AKU mengenal lelakimu, yang gemar menjadi bayangan orang lain. Dia meninggalkan jati dirinya untukmu. Dia takkan pernah berkata banyak ketika di dekatmu. Alibinya satu: lelaki itu harus pendiam. Aih, cobalah kau terjang matanya. Bukankah lelaki tanpa aksen jati diri itu lebih pantas mengenakan rok wanita? Mana mungkin dia bisa mendekapmu, apabila jiwanya dia lepas entah ke mana? Seharusnya kau mulai curiga.

Namun mata itu, tak lebih seperti seorang penikmat cinta yang lain. Enggan mengenakan gaun logika, ketika rasa tengah didekapnya sempurna. Kau, hanya bisa meratapi ketidakjelasan yang dia berikan. Kau pun tengah mengizinkan, seseorang lain untuk dia undang ke ruangnya. Kau tahu, siapakah yang disebut ‘lelaki’ itu sebenarnya? Dialah dia, yang takkan mengubah dirinya untuk sesiapa. Cukuplah dia, dengan tingkah yang sengaja dibawa.
***

KALI lain, aku sungguh menyesal telah jatuh hati pada sepasang mata itu. Oh, sungguh sepasang matamu menutup mataku. Kau tak mengerti, betapa beratnya ketika kau dijadikan ruang bercerita padahal kau sangat ingin meluangkan kisah? Dan kau sungguh tak memahami, bagaimana perihnya saat kau tumpahkan kekagumanmu padanya, sedang aku hanya bisa bergumam memakinya dalam asa?

Oh, inikah yang dinamakan jatuh hati secara diam-diam? Yang tak seorangpun memahami, dan kau hanya akan menjadi tulisan di dinding ruang hati. Tulisan itu terbaca, tetapi siapa yang tak ingin pula memilikinya? Maka, kudekati kamu, dan kau semakin menjauh.

Ya, cinta itu memang layaknya merpati. Dia jinak mendekati ketika kau menjauh pergi. Dan dia senantiasa melangkah jauh, saat kau ingin bertemu pada setiap jengkal waktu. Barangkali, aku akan belajar menjauhimu wahai sepasang mata..
***

TERAKHIR kali aku melihat matamu ialah kemarin. Dan sejak saat itu, lamat-lamat kutitipkan mataku ke seseorang lain untuk disimpan. Ketika aku tak bermata, aku takkan bisa menatapmu. Hanya bisa mengheningkan, tapi raut tak kuasa mendampingkan.

Aku pun mulai terbiasa tak melihatmu. Dalam raga aku berteriak, dalam rona aku memaki-maki: andai dahulu aku tak menatapmu, maka kutahu, hanyalah dia yang kukecup sepanjang waktu.

Tapi maaf, aku masih merelakan waktu, untuk tetap menunggumu...
(IPM)

Bandung, Mei 2013
#Ilustrasi diunduh dari sini

2 comments:

Tiara Balqhis said...

Aku mengagumi kata-katanya. Terstruktur dan rapi. Terus berkarya Kak! :)

Idham P. Mahatma said...

Terima kasih, Tiara.
Ini masih jauh dari sempurna, masih banyak celah.
Yap, terus berkarya juga buat kamu!

Post a Comment

Followers