July 31, 2013

Sang Pembalik Posisi Alas Kaki



Pada Ramadhan tahun ini, aku berlatih membiasakan diri jama'ah di masjid. Kebetulan, dari rumah, tempat ibadah tersebut tidak terlalu jauh. Barangkali semua sudah tahu, jikalau lelaki muslim lebih utama untuk mendirikan shalat dengan berjama'ah di masjid. Usut punya usut, beberapa menyebut berlipat 27 derajat daripada munfarid.

Dzuhur, Ashar, Maghrib, dan Isya' mungkin cukup mudah untuk dijalani. Sebab waktunya bertepatan dengan berpijarnya mata. Tetapi Subuh, subhanallah, harus berperang dahulu dengan kantuk dan setan yang menggelayuti diri untuk tidur lagi. Dalam adzan pun disebutkan bahwasanya "Asshalatu hairum minnan naum," namun itulah manusia, yang belum meraih derajat taqwa, masih setengah-setengah.

Bertajuk Ramadhan, ba'da sahur haram bagiku untuk tidur lagi. Takut tidak bisa subuhan, sebutan untuk mendirikan shalat subuh. Dan, bersebab setan pengganggu sedang dibelenggu, maka mata ini masih bisa berpendar sampai adzan, sampai melangkah ke halaman masjid, sampai meluruskan shaf shalat, sampai takbir berkumandang, ruku', i'tidal, sujud, salam, dan sampai kembali ke rumah. Perkara lanjut tidur setelahnya, itu masalah lain. Tergantung cahaya matahari, kalau cerah mari bermata, kalau menyedih mari berselimut lagi.

Namun, ada 'fenomena' tak biasa yang kuperhatikan ketika hendak keluar dari masjid. Tentu, aku masih mengingat bagaimana langkahku memasuki ruang rumah Allah. Melepas sandal jepitku, lengkap menghadap ke arah pintu masuk (arah barat). Tetapi, saat pulang, aku justru terkejut bersebab sandal jepitku menghadap ke arah berlawanan (arah timur). Telah bersiap untuk langsung dipakai dan melenggang.

Oh, ada yang berbaik hati membalikkan posisinya. Tidak sesekali, melainkan setiap hari. Siapa gerangan dia? Insan itu, sungguh berhati putih, memperhatikan yang detail, yang tidak diperhati oleh sebagian orang. Namun, dia pasti sangat tahu bahwa Allah ialah Maha Mengetahui. Perbuatan terpuji sekecil apapun, apabila Allah meridhainya, boleh jadi nantinya bersebab itulah dia masuk ke dalam surga.

Kau ingat, bukan? Tentang seorang (maaf) tunasusila yang masuk surga setelah menimbakan seember air untuk seekor anjing yang tengah kehausan. Dan tentu kau juga masih ingat, akan kisah seorang yang sangat alim beribadah tetapi masuk ke dalam neraka. Penyebabnya sepele, dia tak sengaja menyimpan sebuah barang yang bukan menjadi haknya, dan Allah tidak meridhainya. Sungguh, bagaimana cara mendapat ridha Allah hanya Dia yang Maha Tahu.

Sebagai manusia, terlagi yang bersiap memantaskan diri untuk jadi insan bertaqwa, hendaklah kita berlomba mengerjakan kebajikan. Seperti seseorang yang 'membalikkan posisi alas kaki' jama'at tadi, agar dengan mudah menuju ke rumah.

Siapapun kau, wahai seseorang yang 'membalikkan posisi alas kaki' jama'at tadi, semoga Allah meridhaimu. Semoga surga Allah, yang sebersih lakumu, yang kelak kau warisi di akhirat nanti. Amin.
(IPM)

Surabaya, Juli 2013

0 comments:

Post a Comment

Followers