August 03, 2013

Episode Kemarin Sore




Sebenarnya, cukup sulit untuk menentukan mana tanggal yang pas untuk mengadakan buka bersama tahun ini. Berbagai alibi dan alasan selalu menyeruak keluar: aku ada kerja praktik, aku akan pergi ke luar negeri, aku akan ini, dan itu, serta ini lagi. Ya, semakin dewasa, memang semakin rumit menyocokkan waktu untuk bersua, terlagi demi kelengkapan anggota.

Akhirnya, acara ditetapkan 2 Agustus sore di rumah Ade. Cukup dekat dari gedung sekolah dulu. Hanya perlu berkelok dan seterusnya lurus. Berdua puluh satu orang kami berangkat. Menemui wajah lain yang ingin kami anggap. Banyak sekali tanya yang bakal dilempar apabila ada waktu atau kesempatan. Namun ego, malu, serta gengsi membuatnya kaku dan diam sunyi. Perlu ice-breaker untuk mencairkan suasana. Maka, panggil aku: Tukang Cerita.
***


Rumah Ade sudah terbuka untuk kami. Berwarna krem berhias kayu-kayu coklat. Di depan, tampak beberapa rekan yang telah datang mendahului. Dan, sang tuan rumah, sudah menyapa dari bilik sisi. Berbusana ungu, lengkap dengan lesung senyum. Tetapi, entahlah, hampir mayoritas teman wanita memakai baju berwarna ungu. Janjian, atau hanya kebetulan, aku tak mempersoalkan. Aku kira, kalian masih kompak, Kawan! Salut!


Harusnya, sedari jam 16.30 kami sudah berada di sana. Tetapi, mental anak Indonesia masih saja dipeluk erat. Budaya telat dan menunggu menjadi hidangan sebelum berbuka. Bersabarlah, yang indah akan terasa istimewa pada waktunya. Lalu, aku hanya menunggu satu demi satu. Hingga lengkap. Sampai siap untuk berangkat.

Satu langkahku menyapu ubin rumahnya, suara adzan keras berkumandang. Alhamdulillah. Seketika, air putih kemasan gelas dicari, ingin segera mengakhiri puasa hari ini. Dan setelahnya akan ada lingkaran besar sebagai sambutan dan pembuka acara. Sambil menikmati ta’jil, sambil menyesap lesung pipi, sambil berkabar tentang bagaimana kau menjalani hidup setahun ke belakang.

 
Beberapa paragraf di atas bukanlah point mengapa aku bercerita kali ini. Sebab, itu hanya kronologi, belum ditambah arti agar tetap menjadi memori. Maka, setelah shalat maghrib, ba’da makan berat, dan selesai beribadah tarawih, acara sebenar-benarnya dihelat. Kalian sudah siap?
***

Aku dan Jem dihelat sebagai moderator dadakan, agar acara ini tetap berjalan sebagai mana mestinya. Bukan acara serius, tetapi cuma bertujuan mengakrabkan. Kami sebut ia “Truth or Truth and Must be Truth.” Peraturannya singkat dan jelas, kami mengacak sesiapa untuk ditanyai, dan yang bersangkutan wajib menjawabnya dengan jujur. Apapun. Tetapi ditetapkan pula sebatas 3 butir pertanyaan. Tidak lain agar semua kebagian giliran.

Tak perlu menyebutkan nama di sini. Tak ada identitas atau apapun. Sebab, segalanya hanya boleh diungkap di sana. Di lain waktu, harus bertingkah seperti dahulu. Tanpa rasa canggung atau malu. Pertanyaan wajib pertama untuk kami yang tengah bersiap menuju dewasa adalah: Sebutkan 5 kriteria calon pasangan yang sangat kalian dambakan!

Lelaki pertama, menjawab dengan terbata. Sepertinya masih berpikir setengah mati tentang tujuan akhirnya. “Kau perlu mempelajari arah hidupmu, Sob. Tetapkan dan targetkan!” saranku dalam hati.

Lelaki kedua, berujar tentang pasangan yang ia mau seperti ini-ini-ini-dan-itu. Dia juga bercerita tentang target hidupnya selama 5 tahun ke depan. Harus sudah ini-ini-ini-dan-itu. Wah, sungguh jelas jalan hidupnya. Hanya perlu direalisasi. Sebab rencana hanya berperan 30% saja, sisanya yakni tindakan.

Perempuan pertama, beralibi bahwa lelaki idamannya harus baik, seiman, mampu menjadi imam, perhatian, dan menerima dia “apa adanya”. Oh, ada yang sedikit mengganjal tentang makna “apa adanya” di sana. Aku ingin menjelaskan tentang hal tersebut, tetapi nanti saat giliranku tiba.

Lalu lelaki ketiga dan perempuan kedua, yang condong lebih monoton dari sebelumnya. Sebab, belum ada kejujuran di sini. Bukankah terkadang keinginan dan harapan harus senantiasa dibagi? Tak perlu bermuram malu apabila mau. Cukup jadikan dirimu sebagaimana dirimu. Everyone is beautiful and handsome, right?

Jam dinding hendak berlaku menuju angka sembilan dan dua belas. Lima menit lagi aku harus pamitan. Mengapa? Sebab, aku harus pulang ke rumah, yang jarak tempuhnya paling cepat 1,5 jam lamanya. Namun, aku ingin bersuara. Semoga giliran berikutnya adalah aku. Semoga.

Tuhan menjawab keinginan setiap makhluknya. Undian itu mengacu ke arahku, dan langsung saja sebilah pertanyaan wajib dilontarkan. Maka, mau-tak-mau harus aku menjelaskan. “Dham, apa saja 5 kriteria yang kau dambakan untuk jadi isterimu nanti?” pungkas moderator.

Pertama, aku sangat ingin dia seiman, juga berhijab. Sebab, aku akan bertanggungjawab kepada segala tingkahnya. Maka, bukankah yang seiman saja terkadang goyah, apalagi yang berbeda?
Kedua, aku mendambakan dia yang pintar. Seorang wanita pintar akan tahu bagaimana memposisikan diri menjadi isteri, juga bagaimana mendidik anak-anak kami nanti.
Ketiga, tentu yang ‘nyambung’. Sebenarnya, aku tidak setuju akan kata-kata “Tak kenal, maka tak sayang.” Ya, harusnya diganti “Tak nyambung, maka tak sayang.” Sebab, banyak sekali orang saling mengenal tetapi tidak saling jatuh cinta atau tertarik. Bukan karena apa, hanya saja mereka tidak saling terkoneksi, alias ga nyambung.
Keempat, aku lebih menyukai dia yang gemar ‘menuntut’. Maknanya, dia menginginkan sebuah perubahan menuju arah lebih baik. Bukan malah mencintai pasangan dengan apa adanya, melainkan mendorong pasangan untuk berbuat dan berbuat demi keluarganya. Oh, bukankah lelaki akan maksimal apabila dituntut untuk maju? Di situ point-nya.
Terakhir, kelima, aku mencintai dia yang keibuan. Bisa ngemong, tidak buru-buru bertindak ceroboh, dan ya, seperti seorang ibu yang memiliki anak, meski belum pernah dia mengalaminya.”

Ya Tuhan, kalau ada wanita yang seperti itu. Mohon pantaskan aku untuknya. Jaga dia hingga aku siap meminangnya. Jika aku telah memilih satu, maka tetapkanlah. Jika benar, restukanlah. Jika salah, maka gantilah dengan yang sesuai dengan kepantasanku.

“Dham, mana yang kau pilih, perempuan sederhana atau yang mewah?” tiba-tiba pertanyaan kedua dilontarkan.

“Lelaki yang menganggap cewe matre biasanya cenderung stress pada penghasilannya. Lelaki sukses, santai menghadapinya. Tetapi, dia cukup cerdas untuk menghindarinya. Pada dasarnya lelaki suka yang simple, sederhana, dan tidak neko-neko. Namun, kembali lagi suka wanita pintar, wanita sederhana yang terlihat mewah karena inner beauty-nya.”

“Kalian itu, kayak gitu dong kalau menjawab pertanyaan. Terbuka dan apa adanya. Good job, Dham!” celetuk salah satu teman perempuanku.

Permainan tidak dilanjutkan. Aku pun pamit. Sesi foto dipercepat untuk menghargai kepulanganku. Maka, beberapa poin yang aku dapat dari buka bersama kali ini, yakni: Ada waktu setahun untuk membuat seseorang berbeda 180 derajat dari pertemuan terakhirnya bersama kita. Serta, ada waktu setahun untuk menetapkan seseorang sama sekali tak berubah dari pertemuan terakhirnya bersama kita.

Semakin bersemangat memperbaiki diri. Bukan untuk siapa-siapa. Melainkan untukku, untukmu, dan nantinya untuk kita. Amin. Semangat!
(IPM)

Sidoarjo-Surabaya, Agustus 2013

4 comments:

bella citra Dinasti said...

Manis ceritanya :) pantaskan dirimu dham ;p

Idham P. Mahatma said...

Terima kasih sudah rajin memberi apresiasi di setiap posting-ku.
Salam kenal.
Siap. Salam berkarya, Bella!

Firstya ZZ said...

ijin share ya, Dham :D

Idham P. Mahatma said...

Mangga, silakan :D

Post a Comment

Followers