August 11, 2013

Itu Anakku, Ramona!




Aku bertanya kepadamu, "Siapa yang pertama merancang pertemuan ini? Akukah, atau kamulah?"

Kamu lantas tersenyum getir, seakan tak ingin menjawab pertanyaan retoris ini. Wajahmu, kini kau arahkan ke rinai tanah, menutupi pandang yang sedari tadi kami saling tatap.

"Kau sedang bertanya? Untuk apa?" ujarmu, sependek perjamuan kami, kau menimpali.

Sebenarnya, aku tak mengerti akan tujuan terkaan tadi. Kalimat usang, hanya menggelontor tanpa rem dari bibir beremosi. Kadang, orang marah memang lebih mirip orang gila. Tanpa kendali arah.

Kamu masih terduduk, meringkuk sambil sesekali bersandar pasif. Kita, barangkali kini hanyalah sisa-sisa putus asa. Dikecewai keadaan, dibakar omongan orang.
 
Satu ketika, aku mendengar namamu digunjing oleh sesiapa. Mereka berkisah tentang tanganmu yang rela memagut lengan lain lelaki. Erat. Hampir kau tak mau melepaskan. Sayangnya, mataku tak sempat merekammu. Maka, aku berpura tak percayai itu.

Hari yang lain, kau pernah menusukku dengan hujaman membagi hati. Kau berkilah, bahwa aku berbincang mesra dengan seorang gadis rupawan lewat surat elektronik. Kujelaskan, dia hanyalah rekan karib biasa. Tak lebih. Lambat saja, kau mulai mencerna alibiku akannya.

Tengah Mei puncak kekalutan kami. Kau, mengobrak-abrik isi rumah. Tanpa sebab. Sebenarnya, pasti ada api untuk mengawali kepul asap. Namun, kau tak menjawab. Hanya meluapkan amarah kepada seisi rumah, perabot, lukisan, hingga raga lelahku karena menahan tingkahmu.

Rasanya, banyak sekali hari-hari lain tentang bermacam cerita. "Kau masih mau berkisah?"

"Tak perlu. Lebih baik kita pendam dalam diam," sergahmu, menolak halus pintaku, "Oh ya, sekarang jam berapa?"

"Delapan malam."

"Baik. Mari minta bill-nya, kita bayar masing-masing, dan jemput anakmu di rumahku. Ingat, kau hanya boleh membawanya seminggu! Setelahnya, aku akan ambil dia dari kau dan calon istri barumu."

"Silakan. Aku hanya ingin mengenalkannya pada Rena, calon ibu tirinya..."

"Aku ibunya! Aku yang pantas mendapat hak asuhnya!"

Peradilan masih belum memutuskan hak asuh anak semata wayang kami. Kau, aku, seperti seekor kucing dan anjing. Tak pernah akur.

Namun lihatlah, hari ini kami kompak berbisik, "Kasihan ya Ramona... dia gemar menyendiri akhir-akhir ini. Dia, kini lebih pasi dari sekerat roti. Oh ya, apa lebih baik diakhirkan saja perseteruhan kita ini? Aku rasa, aku ingin kembali."

"Maaf. Tetap ceraikan aku, Sayang. Aku tak mau kauduakan..."
(IPM)

Surabaya, Agustus 2013

0 comments:

Post a Comment

Followers