August 01, 2013

Lilinmu itu Kamu




Revi...
Apa yang kau mau di hari ulang tahunmu?
Sebingkis hadiahkah?
Sebuah lilin merah yang terbakarkah?
Senyum berbondong temankah?
Atau, malah kesendirian?

Pernahkah kau berpikir untuk menutup senyum dan suka di hari terbaikmu? Kelak, kau akan diam. Merenung. Memurung. Dan kau mulai menyilangkan tanganmu di dada. Sambil berdehem, sambil mendesah.
 
Sejenak, kau membuka layar potret wajahmu terdahulu. Sejak gigi geligimu baru tumbuh, sampai rambutmu genap sebahu, sampai kau hibahkan kain penutup mata sebagai perangaimu utuh di kepala, sampai kau berujar bahwa kau telah dewasa, dan sampai hari ini. Lihatlah, itu kau, Revi! Kau, dulu, kini, dan barangkali nanti. Waktu berlalu begitu cepat, bukan?

Tentu, air matamu tak khayal akan jatuh. Meski pelan. Walau tak beralasan. Namun tenanglah, kau masih seorang insan, wanita peragu yang bersiap menganggunkan diri untuk kehidupan. Jalanmu, memang masih panjang. Kau masih bisa mengulang salah sekali lagi. Atau dua kali lagi. Atau tiga dan seterusnya. Tetapi, kau sungguh takkan melakukannya. Sebab, tak ada yang selugu itu dalam berlaku, tak terkecuali kamu.

Sendiri, membuatmu sanggup berbicara ke dalam. Menujum kelam. Sendirian. Tanpa teman, yang terkadang hanya berperan menenggelamkan. Lebih dalam. Hingga kau tak terasa berada pada pangkalnya. Gelap, bukan? Lalu, kau mencari lilin, juga api, juga tempat sampah. Mengapa? Oh, tidakkah lilin yang tengah terbakar, hanya akan menghuni tempat sampah, setelah tiupan napas dari Sang Ratu Sehari? Lilin yang padam itu, akan dicabut dari muka kue tart-mu, tanpa ragu, dilemparnya ia ke plastik pembuangan. Tak ada yang memerhati. Tiada yang mencegahnya pergi.

Lalu, tidakkah kau, aku, dan semua di dunia ini hanya selaksa lilin tadi? Bersinar sebentar, menunggu ditiup oleh pengutus dari-Nya, dan ditinggalkan sendirian berteman sepi dan perbuatan. Kelak, apabila lilin tadi cukup baik perawakan nilainya, seseorang akan mengangkatnya lagi, dinyalakan untuk kedua kali, dan abadi. Oh, itulah surga. Dan lilin yang tak cakap, hanya akan berteman sunyi dan sampah lainnya, menunggu dibuang ke tempat yang lebih hina. Oh, itulah derita.

Maka, Revi, semoga lilinmu -yang kau punya- kian bercahaya. Jikalau mau, kuperbolehkan kau meniupnya pelan. Hingga ia redup. Hingga ia kembali terang. Benderang. Dan membakar segala kenangmu akan cerita-cerita kelam.

Saat kau merengkuh lilin terbaikmu, serta tak lagi mau kau melepasnya. Ingatlah, setahun nanti, masih ada lilin-lilin lagi, yang mau-tak-mau harus kau miliki.

Selamat ulang tahun, Revi!
(IPM)

Surabaya, Agustus 2013

#Pelunasan hutang kado cerpen untuk ultah Revi 17 Juni lalu. Maaf terlambat. Tapi janji, pasti akan berusaha ditepati. Walau sampai hari ini. TTD Tukang Cerita#

0 comments:

Post a Comment

Followers