August 16, 2013

Nona Manisku Terlengkapi




Nona manisku dalam bus kota bersambang kembali. Kali ini dia terlengkapi...

Tak perlulah maskara, atau lipstik merah, atau gincu warna mencolok untuk menarik perhatian. Cukup dengan kain penghalang mata, yang polos, yang dililit tanpa berantai gaya di mungil kepalanya. Oh, bukankah benar jikalau lelaki selalu suka yang sederhana, seperti halnya jatuh cinta?

Ya, tak salah lagi. Tidak perlu cukup waktu untukmu mengundangku datang. Tanpa undangan, atau pamflet informasi untuk sekadar mengetahui keberadaanmu. Cukuplah momentum, dan waktu, yang menyedia kesempatan saling memagut kagum, serta jatuh cinta. Tentu saja, ada yang berdehem pelan seraya mengawasi kita dari atas sana, Dia. Maka, tolong perkenankan aku menjalani hari dengannya...


Setiap ranting hari menguak tua dan lapuk menjadi ilalang di tepian jalan. Tak bertuan. Tak berpemilik, seperti halnya hampa, boleh diambil oleh sesiapa. Seperti ilalang itu, sangatlah kuharap hatimu merupa sama, tak berpemilik. Namun tenanglah, aku jamin untuk kau sisakan aku atau sesiapa sedikit spasi saja. Selebihnya, dengan Dia-lah yang berhak kau penuhi ruangmu. Aku sangat paham. Dan aku amat mengerti bagaimana berbagi ruang dengan Tuhan. Akan tetapi, sungguh tak pasti apakah seberkas sempit dalam hatimu itu sudih untuk kuisi. Segalanya masih abu-abu, penuh ragu.

Kudekati kau perlahan. Tetapi sigap selayaknya tupai yang tengah menanti kenari jatuh dari dahannya. Dan kau masih di sana, menebar lesung pipit terbaikmu untuk yang menyapa. Sapaku mewujud canda, menguap ketika aku pergi lekas. Harapku, semua akan berbekas, dan tibalah kau pada perasaan rindu saat tak bertemu pemilik sapa itu, aku.

Apa yang lebih sakit dari menanti ketidakpastian? Menanti yang pasti, akan tetapi teramat jelas akan berakhir dengan agung pesakitan. Seolah tak sabar, aku gugup menanyakan. Sabarlah, aku tak langsung menginterogasi. Dari bibir kawanmu, sahabatmu, orang terdekatmu, berkata jikalau kau masih kian meragu menentukan hati. Mereka bilang tak ada kesempatan, aku bilang ini peluang. Sejujurnya, aku tak cukup percaya dengan bibir lain selain katamu. Kudiamkan saja semua, selaksa lolongan siang gulita.

"Rita, bolehkah aku bertanya tentangmu? Bolehkah aku tahu perihal dirimu? Bolehkah aku mengejar pesonamu utuh? Aku menyukaimu..."

Dia hanya melukis senyum. Tipis saja, membuat kantong mata ini semakin hitam melewati malam. Lama saja kutahu jawabnya. Lambat benar hati ini mencerna. Oh, sebenarnya aku telah menuliskan jawab itu di awal cerita. Namun, baru kini aku kuasa membacanya...

Nona manisku dalam bus kota bersambang kembali. Kali ini dia terlengkapi... utuh, milik seorang lain lelaki.
(IPM)

Surabaya, Agustus 2013

#Ilustrasi diunduh dari sini

2 comments:

The DreamCatcher said...

ouwh, sepertinya ada yang terlambat. sabar kawan,,,
*puk puk bahu si tukang cerita* :D

Idham P. Mahatma said...

Tenang, itu cuma rekaan. Hanya cerita.

Post a Comment

Followers