August 09, 2013

Semalam, Tak Seharusnya Aku Datang




Sejujurnya, kau tahu apa tentang keadaanku? Kau tak mengerti apa-apa tentang detak berirama menghentak ini. Detak yang tak teratur berpacu melawan ketidakpastian.

Kamu pasti tidak mengira. Aku sungguh pernah menghujamkan degup ini sebegitu kencangnya. Terlagi tepat di petang itu, kala kau tanpa angin biasanya memanggil namaku secara benar. Tanpa salah eja, tanpa susunan kata yang salah, sama sekali berbeda selaksa posisi kita.

Aku, dengan lebih cekatan ketimbang prajurit perang yang menerima panggilan apel tiba-tiba langsung menghampiri, menanyakan apa, mengorek sesuatu yang kuharap berbeda. Entah, kuasa apa dari semesta yang membuat kau memalingkan pandang ke arahku. Sumpah, aku masih tak menahu.

Dan hampir benar adanya, aku masih saja penasaran akan segala kabarmu, meski kutahu, aku telah terbiasa merekam segala tingkahmu dari jauh. Lewat kemampuanku memahami tanpa kau ketahui. Diam-diam saja aku melakukan. Takut kau terbangun, menyadari, serta melenggang pergi. Aku lihai melakukan ini.


Lalu, kau menyiapkan kejutan lain untukku. Mungkinkah untuk kita, yang akan menjadi nyata setelah kau ajak aku duduk saling tatap, berdua di sini. Ya, tempat ini katamu ialah markas untuk kau menyampaikan suatu hal penting nan pribadi. Sesaat, aku merasa lebih spesial dari minuman penggugah stamina, lengkap dengan campuran dua butir telur burung angsa.

Aku masih bertanya-tanya perihal alasan apa yang menggerakkanmu mengajakku ke mari. Tebakan demi tebakan menghujam setiap angan. Terkaan demi terkaan saling mendahului membenarkan.

Tentu aku paham, jikalau meja makan dengan sepasang kursi berhadapan sangat elegan untuk kau mengungkap rasa pada seseorang. Dua potong lilin pun melengkapi, sama persis seperti keadaan yang kuimpikan selama ini, tapi belum terealisasi.

Oh ya, bolehkah aku bertanya? Akankah dia yang akan kau sambut rasanya mewujud diriku? Tolong beritahu sesegera. Lihat wajahku, aku sedari tadi menahan degup jantung yang berdetak tak tentu arah, berulang kali aku hampir pingsan dibuatnya.

Aku masih menunggumu untuk lebih dulu mengungkap perasaan, akankah sama seperti yang aku rasakan? Kutatap, kau teramat gugup menata kata. Dan sampailah kau mengabaikan malu seraya bibirmu yang merah mulai angkat bicara.

"Aku menyukai sahabatmu. Bagaimana caranya agar aku bisa dekat dengannya? Tolong bantu aku..."

Selepas mendengar permohonan itu, aku mulai gemar berjalan sendirian melewati malam.

"Tuhan, tak seharusnya tadi malam aku penuhi pintanya untuk datang..."
(IPM)

Surabaya, Agustus 2013

#Ilustrasi diunduh dari sini

0 comments:

Post a Comment

Followers