August 10, 2013

Suratmu Tak Tiba Tepat Waktu




Namun, itulah perasaan. Kau takkan bisa memprediksi kapan ia tiba, kapan ia mengucap salam pisah...

Apakah pernah kau mengalami? Ketika matamu telah lelah menyaksi dunia, lantas berbekal silangan tangan di belakang kepala, kau membaringkan tubuhmu. Dalam sunyi, kau menggelar bioskop maya di langit-langit kamar. Episode malam ini ialah tentangmu, lengkap dengan visual tiga dimensi. Aku berimaji akan rinai senyummu yang tiap hari menyapa, meski kutahu kepada semua kau melakukannya. Namun, aku tetap merasa spesial dibuatnya. Tidakkah aku gila?

Sudahkah kau melakukan ini? Menggenggam setangkai bunga mawar merah, memerhati kelopaknya, selanjutnya kuncup itu kaupetik satu per satu sambil berucap pelan, "Telepon, nggak, telepon, nggak..." Ya, hingga kuncup terakhir dan kau harus menerima keputusannya. Apabila yang menyeruak ialah opsi 'telepon', artinya kau harus mengambil ponsel sembari memetik nomornya. "Tuuttt... Tuuttt... Iya, halo, ini siapa?" Cepat saja kau menutupnya, takut terdeteksi suaramu akannya. Tapi tenang, kau kali ini menggunakan nomor pribadi, tak mungkin dia mengetahui. Kau tahu, aku tak jarang melakukannya padamu. Hanya saja, kau belum menaruh curiga.
 
Akankah kau mengkhayalkan sebuah mimpi? Tak lama setelah mengenalmu, aku seringkali menjelma menjadi sosok penulis skenario ulung. Tiap hari, aku bahkan senantiasa merajut benang-benang mimpi menujumu. Berharap suatu ketika, benang itu akan terkumpul merupa sepotong mantel, yang anggun kaupakai saat dingin menerpa. Akan tetapi, mantel itu takkan pernah selesai dirajut. Kau perhati, wujudnya kini lebih mirip benang kusut, yang kalut tanpa penyelesai simpulnya. "Cinta itu harusnya selaksa dendam, bukan? Harus berbalas..." Sedang kau hanya menghempas.

Tidakkah kau membayangkan? Bahwasanya ternyata, yang kau kerjakan selama ini ialah hampir sama denganku. Kau, dengan lebih abu-abu juga bersikeras menunaikan segalanya: menggelar bioskop maya di langit-langit kamar, mewujud penelepon gelap tanpa detak suara, menjadi perajut sepotong mantel kisah, juga hal lain yang enggan kaubagi ceritanya.

Kita, atau tidak lain masih kau dan aku, berusaha menjaga jarak. Sama keras kepalanya, sama kokoh mempertahankan ego untuk lebih dulu menyapa. Hingga kemudian kita benar-benar lupa dahulu pernah saling mengagumi. Terlagi, aku bahkan tak menyangsi jikalau kau pernah memenuhi relung hati.

Kau pernah membuatku tak bisa membeda mana jatuh cinta, mana terbuai karena rasa. Seluruhnya sama. Bahkan, kau sanggup merubah paradigma bahwa hanya ada kau di hamparan luas bumi ini. Tak ada seorang lain. Tiada manusia pembanding.

Lupanya seseorang bisa kembali diingatkan. Lantas, apakah lupanya perasaan juga kuasa kembali ditumbuhkan? Oh, bagaimana jika rasa khawatir tak bertemu itu datang lagi? Bagaimana kalau sebenarnya akulah seorang yang sejati kaucintai? Kini, aku yang mematikan ego, mengharapmu menepuk pundakku, untuk kemudian memalingkan ronamu pada mataku seraya berkata: Aku juga rindu kamu.

Itu isi surat elektronikmu, lengkap saja, tak kububuhi atau aku kurangi. Susunan alineamu baru sampai sekarang. Entah mampir dahulu, kelayapan, dan lelah ketika sampai di tujuan.

Kau harus tahu, aku telah menyiapkan sepasang cincin untuk kita. Polos saja, tanpa hiasan apa-apa. Kau suka tipe seperti itu, bukan? Namun sayang, cincin itu telah berpemilik di jemari manis seseorang. Bukanmu, melainkan sahabatmu, yang sifatnya mirip sekali sepertimu.

Nyatanya, aku masih belum bisa melupakanmu. Hanya saja, suratmu tak sanggup tiba tepat waktu.

Sayang, aku punya satu pinta: Doakan aku bahagia dengannya...
(IPM)

Surabaya, Agustus 2013

#Ilustrasi diunduh dari sini

2 comments:

Kelsi Sawitri said...

ini ceritanya sama-sama suka tapi sama-sama jaim ya, Dham? terus malah jadi sama sahabatnya, sebel sendiri sih bacanya akakak xD padahal kalo suratnya ga terlambat datang kan bisa bersatu

Idham P. Mahatma said...

Iya, seperti itu ceritanya.
Haha, jangan sedih gitu lah, kan cuma cerita, Kels.

Post a Comment

Followers