September 29, 2013

Keranjang-keranjang dan Sebuah Pelukan



Apa yang kau ingat tentangku selain, 'aku adalah yang paling mencintaimu saat ini' dan 'aku adalah orang yang mulai posesif terhadap eksistensimu'?

Mungkin kau tak mengingat banyak, mungkin kau hanya menyimpan keping-keping cerita kita di sudut otakmu yang penuh itu—dengan hitungan tagihan, uang transportasi, juga kebutuhan rumah tangga. Bisa jadi, kau hanya menyimpan potongan-potongan wajahku di dalam banyak tulisan tanganmu yang meliuk-liuk. 
 
Hanya saja, ini jadi semacam tidak adil ketika kau hanya menyimpan serpihan-serpihan tentangku sedangkan aku membawamu dalam keranjang-keranjang besar memori di otakku. Seandainya ada sebuah kompetisi untuk kita berdua yang bunyinya:

Siapakah Yang Lebih Banyak Mengingat Siapa?

Mungkin aku hanya tinggal menumpahkan semua isi keranjangku —yang penuh dengan sosokmu dalam berbagai ingatan dan kenangan. Sedangkan kau? Kau mungkin harus membongkar seluruh isi rumahmu. Kalau-kalau ada aku yang tercecer di dekat tumpukan koleksi CD-mu, di pinggir tempat tidurmu atau di samping kompor tempatmu biasa membuat nasi goreng. Jadi, sudah bisa ditebak, kan, siapa pemenangnya?

Tapi tenang saja, Sayang.
Aku tak akan pernah marah karena kekalahanmu atau berbahagia atas kemenanganku. Karena setelahnya, aku akan memelukmu kuat-kuat, mengangkat kedua kakiku sampai-sampai kau harus mengeluarkan tenaga ekstra untuk menjagaku agar tidak terjatuh dan tetap berada di dalam pelukanmu. Lalu kita akan tertawa, tertawa, tertawa lagi, sebelum akhirnya kau mengecupku. 

Karena aku tahu, dalam pelukan, tawa dan kecupmu, di sanalah aku kau menangkan.

Banyuwangi, 2013
Ketika pelukan lebih banyak bercerita.

#Sumber disadur dari sini

0 comments:

Post a Comment

Followers