October 07, 2013

Mencoba Melukismu



Aku hanya membaca.
Lalu, aku ragu dan mengeja.
Sebenarnya, apa benar yang dilihatnya adalah aku?
Yang utuh, yang sederhana, tanpa topeng atau pemoles luka.

Aku sejenak berhenti.
Untuk singgah pada laman seorang putri.
Berkacamata. Bertudung corak bunga.
Kata-kata pun tumpah, membawa puji dalam rinai sunyi.

“Maaf. Aku belum terlalu mengenalmu. Aku hanya hadir, dalam imaji nun semu. Aku ada, atau pula masih  fatamorgana...” katamu, terbata.
Tak mengapa.
Bukankah ‘tanda tanya’ seringkali terlihat lebih indah?

Aku cuma lelaki.
Berhias majas, bermodal pena.

Akan tetapi, aku bisa melukismu.
“Ah, kau hanya bisa menulis, bukan melukis...” pungkasmu, tak percaya.

Lihatlah...
Bukankah yang kulukis saat ini adalah perwujudan dirimu?

Kau terdiam.
Lamat-lamat, kau membayangkan: bagaimana bisa dia mengguratku lewat frasa?

Apresiasiku yang kedua.
Terima kasih, untuk yang tidak pernah cukup.

–Tukang Cerita

0 comments:

Post a Comment

Followers