March 29, 2014

Hitam Merah Hidup



Seseorang yang datang, selalu membawa kabar dan menorehkan cerita. Seperti dia, Ayah, dengan gigih memberikan semua makna yang ia punya. Seluruhnya dititipkan padaku, yang waktu itu masih berusia belasan.

Ayah tahu benar bagaimana menjadi lelaki. Darinya, aku mendapat beberapa rahasia hidup perihal tanggung jawab dan bekerja keras. Aku sebegitu berterima kasih kepadanya, hingga saat ia mengutusku untuk mengantarnya ke Stasiun Gubeng Surabaya, aku tak menolak. Aku turuti, hingga bayangan Ayah hilang bersama bunyi klakson kereta.

Namun, sungguh bukan Ayah apabila tidak menitipkan kejutan. Benar saja, di esok siang yang terik, Ibu mengutus seseorang untuk menjemputku pulang bersama adik. “Ada apa?” batinku. Dan, sesap itu terjawab ketika tenda ditambah beberapa bendera silang dikibarkan di pelataran rumah. “Siapa yang tiada?” air mataku bertanya.


“Dham, Ayah pergi, karena jantung...” nenekku berbisik, sambil memelukku erat, “Ibumu ke Jakarta, mengurus jenazah Ayah.”

Aku hanya menangis. Sejenak berhenti. Apabila teringat, biarlah air mata ini jatuh lagi.
***

Bagaimana rasanya menjadi anak lelaki semata wayang dalam keluarga tanpa ayah? Ya, penuh tekanan dan harapan. Satu sisi, aku depresi dengan status yatim di pikiranku. Lalu, sisi yang lain menginginkanku menjadi sekuat baja menopang biduk ekonomi keluarga yang mandek. Bukan apa-apa, Ibu, dahulu hanya seorang perawat rumah tangga, tidak bekerja, dan hanya mengandalkan kiriman dari Ayah. Akan tetapi, Sang Pengirim itu telah pensiun memberikan nominalnya. Akankah kami kelaparan dan mati akibat kekhawatiran?

Jawabnya tidak. Aku, Ibu, dan adik masih sehat hingga tujuh tahun pasca kepergian Ayah. Meski, beberapa keadaan teramat berbeda. Tak ada lagi rumah yang dulu berubin persegi lebar, tak ada lagi kereta kencana untuk bepergian, serta tak ada lagi barang-barang peninggalan hasil kerja keras Ayah.

Semuanya ludes, terjual, dijual, atau bahkan disita oleh lintah-lintah darat yang berkedok memberi bantuan. Lalu, bagaimana melanjutkan hidup seperti ini?

Kami mulai berpindah-pindah alamat setiap tahun. Dari bilik satu, mengontrak ke bilik lain apabila biaya sewa naik. Dari usaha satu, beralih ke usaha lain apabila mengalami rugi atau sepi. Ya, saat itu usiaku masih belasan tahun, dan Ibu mau tak mau mengutusku membantunya mengais rupiah. Tapi tenang, kami tidak sampai mengemis. Kami masih punya harga diri.

Saat di bangku SMP, berbagai pengalaman hidup kujalani, yang tiada kutemui saat Ayah masih ada. Di sekolah, aku sering kucing-kucingan dengan penagih biaya bulanan, sebab pengajuan keringanan belum disetujui hingga beberapa bulan lamanya. Pulang dari sekolah, aku buru-buru balik ke rumah, bersepeda angin sejauh enam kilometer jauhnya. Dan setelah tiba, beberapa pekerjaan mengantar sembako, kue, dan baju pesanan teman Ibu sudah menjadi rutinitas. “Panas sekali di luar,” gerutuku, saat bulan puasa dan harus mengantar barang. Maaf, latar cerita ini bukan di Bandung yang sejuk, tetapi di Sidoarjo, sebuah kota terik dekat lokasi lumpur Lapindo.
***

Singkat cerita, aku diterima di SMA negeri favorit di sana. SBI pula. Dan setelah melalui seleksi panjang, aku diberi kesempatan memperoleh beasiswa. Sejenak, aku panjatkan puji syukur kepada Tuhan.

Siapa bilang masa SMA ialah masa terindah? Bagiku sama saja, tak berubah. Aku hanya fokus ke studi dan membantu Ibu memeras rupiah. Tak ada namanya suka ke lawan jenis, atau pergi ke bioskop saat Sabtu-Minggu. Yang kutahu, duduk di kelas sambil memerhati, bersapa dengan guru seramah mungkin, dan pulang dengan rutinitas harian yang bertambah di malamnya. Ya, kini tiap malam aku mengajar murid SD dan SMP putra tetangga. Setelah pukul sembilan malam, barulah buku diktat pelajaran aku jamah, atau lebih sering tertidur di atasnya karena lelah.
***

Biaya hidup makin menanjak, sementara penghasilan hanya cukup untuk makan. Maka, aku mempunyai ide untuk berjualan hijab/kerudung di sekolah. Coba kau bayangkan, seorang anak lelaki, berkulit hitam, berambut cepak, dan berjerawat karena puber, membawa katalog dan sampel hijab/kerudung ke kelas-kelas serta ruang guru untuk dijajakan. Oh, apa mungkin terjual?

Jawabnya mungkin, meski lebih banyak yang tertegun kaget. Beberapa lain kasihan, dan akhirnya membeli satu. Namun, tak masalah bagiku. Asalkan perut kenyang, beribu ejekan bukan halangan.

Suatu ketika, Bu Aisyah, seorang guru baik hati menawari untuk membawa daganganku ke arisan Dharmawanita. Tentu saja aku setuju, maka tak kusia-siakan kesempatan itu. Bermodal ratusan ribu, Ibu belanja, dan memberi stok untuk kubawa nantinya. Kegiatan itu berlangsung sampai aku genap kelas tiga, dan akhirnya cuti, sesaat sebelum UN serta SNMPTN dengan alibi fokus belajar.
***

Nilai UN milikku biasa saja, di ambang batas rata-rata sekolah. Aku masih gamang, ingin lanjut kuliah atau mencari kerja. Hingga, Bu Karomah, seorang guru BK menunjukkan poster BIDIKMISI dan aku tertarik mempelajari. Kukumpulkan semua berkas, mulai kopian SKTM dari kelurahan yang birokrasinya luar biasa berliku, sampai transkrip rapor. Bermodal keyakinan, aku mendaftar ITB jalur undangan dengan pilihan: FTI, FTTM, dan FMIPA.

Pukul 19.05 sepulang dari masjid, seseorang menelepon Ibu, memberikan selamat karena aku diterima di FMIPA ITB. Aku tak percaya, hingga tak sadar telah tersujud di lantai. Ini tangis kedua setelah Ayah tiada, tangis bahagia.
***

Bandung, sebatang kara, bermodal hasil jualan Ibu, aku berangkat meraih masa depan. Daftar ulang, matrikulasi, dan perkuliahan segera dimulai.

Ketika tak ada yang mengenalmu, bolehkah kau menjadi dirimu yang baru? Aku mengubah bentuk pribadiku di sini. Di SMP-SMA, aku termasuk pribadi pemalu dan takut akan tanggung jawab. Maka di sini, aku masukkan diriku ke kemungkinan lain. Aku mulai berani berbicara, berani mencalonkan diri memangku tanggung jawab, dan berani mencoba.

Apa hasilnya? Ya, kini aku diamanahi rekan-rekan untuk menjadi Ketua Angkatan Kimia ITB 2011 serta Ketua Unit Majalah Kampus Boulevard ITB. Kelak, saat aku lulus, dengan bekal mengarahkan orang, aku ingin jadi seorang pengusaha di bidang media. Tak nyambung? Tak masalah.

Barangkali, aku memulai episode hidup dari titik balik ini. Dari kepergian Ayah yang tiba-tiba. Dari lintah darat yang menggerogoti kami setelahnya. Dari lika-liku di SMP dan SMA. Dari masuk kuliah, hingga kini menjadi mahasiswa tingkat tiga di prodi Kimia. Ini hitam-merah hidupku, bagaimana denganmu?

Bandung, November 2013

7 comments:

bella citra Dinasti said...

Aku nangis idham.. aku juga mahasisiwi bidik misi tapi di politeknik negeri jakarta hehe. :) semoga sukses kelak mengarungi seluruh mahasiswa bidik misi ini, gudlak

Leiny Deedee said...

Luar biasa rentetan lika-liku hidup yang sudah dilalui. Jadi iri, nih. :D
Pasti sudah banyak sekali nilai kehidupan yang sudah dimaknai.

Saya masih berproses menuju kesana, menuju hasil.

Salam sahabat blogger.

Idham P. Mahatma said...

Bella : Maaf telah membuatmu menangis. Ya, amin, sukses untuk kita semua.

Leiny : Jangan iri! Setiap manusia punya jalan ceritanya masing-masing.

Anonymous said...

Idham, Semangat! Selalu ada jalan, selalu ada kalau kita meminta dan percaya jalan itu ada!
Salut deh, beliau pasti sedang menatap kamu bangga dari surga. Beliau bangga punya putra setangguh kamu, sesabar kamu. Dia juga membantu supaya doa-doa kamu sampai ke Dia yang Maha Mendengar.

Idham P. Mahatma said...

Anonymous : Terima kasih, amin.

Aninda Yulianti Rahmana said...

Aku seperti bercermin :' aku tidak sendiri. Aku tidak berjuang sendirian. Idham, kisahmu menamparku :'

Idham P. Mahatma said...

Terima kasih atas apresiasinya.
Maaf, aku tidak sengaja.

Post a Comment

Followers