November 30, 2013

Puspa




Selalu ada kata ‘dahulu’ untuk menghibur masing-masing dari kita...

Jauh sebelum hari ini, bunga masih saja segar membasahi mata. Kala pagi, kau menyapa lewat pesan elektronik, atau dengan suaramu yang mengetuk pintuku pelan-pelan. Aku, selalu menunggumu untuk memintaku bangun. Dengan mata merah berat, aku menyanggupi. Kupegang tanganmu, kuraibkan mimpi untuk menyambutmu hari ini.

“Selamat pagi, Sayang...” kataku, sejenak sembari mencari-cari kacamata.

“Aih, sebenarnya aku tak perlu kedua lensa itu untuk mengeja ronamu. Aku telah hapal benar. Kulit putih, mata garis pantai, hidung mungil, serta rambut hitam berponi milikmu. Semuanya aku ingat, tanpa perlu berpikir lama. Adakah dari deskripsiku yang salah?”

“Tidak, Sayang, seluruhnya benar. Itu aku, yang mengisi relungmu kala pagi,” ujarmu.


Maka, aku akan mengajakmu sarapan di luar. Tentu saja, setelah aku rapi berpakaian dan wangi mengecup di badan. Kugamit lenganmu yang halus, berdua, kita akan mencari menu harian pertama.

“Bagaimana kalau bubur?” kau melempar pilihan.

Aku, tak pernah berkata tidak padamu. Apa pun yang kau pinta, selalu kusetujui tanpa syarat. Barang tentu, aku terlalu memanjakanmu, Sayang. Namun, bukankah cinta itu selalu mengabulkan? Terlagi, permintaan itu baik, serta tak ada yang dirugikan. Maka, ciptakan pinta-pinta terbaikmu, jikalau aku sanggup, hampir pasti aku penuhi sebelum kau mengingatkan lagi.
***

Puspa mengenalku kala dunianya melukis kecewa. Sakit hatinya akan lelaki terdahulu menjadikan alasan pertemuan kita. Aku, pernah mewujud telinga terindah baginya. Mendengarkan apa pun perihal kesah, duka, serta nestapa. Jikalau dia butuh, aku tentu menyisipkan kalimat-kalimat penenang agar dadanya kian lapang. Namun, Puspa jarang memberiku jeda untuk berkomentar. Sebab, lebih banyak, dia menangis sesenggukan dan pundak ini menjadi jawaban sekaligus sandaran.

Puspa memelukku. Erat. Tak sanggup dia melepaskan dekapan ini. Dan sungguh aku tahu, kau, Puspa, menginginkan lelaki yang selalu ada. Mendambakan pria yang gemar mendengarkan kisah. Merindukan seseorang yang tak banyak bicara, hanya menghadiahkan tenangnya agar abadi.

Ya, Puspa ialah wanita yang tegas. Sebulan setelahnya, aku sadar jikalau hubungannya telah kandas. Akan tetapi, dia semakin menyendiri, semakin gemar menuai air mata, serta semakin sering memburamkan wajah. Puspa mulai mewujud murung.

Tentu, kalian akan cepat menebak bagaimana jalan cerita ini bermuara. Ya, benar. Aku, dengan inisiatif tertinggiku datang menghampirinya. Kukerahkan segala bentuk perhatian ke arahnya. Tegur sapa di setiap senja hingga petang lagi. Bertukar kabar sepanjang hari. Sesekali, kubuatkan dia sebait puisi, atau genap paragraf cerita pendek.

“Besok, boleh ya aku yang menjadi tokoh dalam ceritanya... aku ingin sekali,” Puspa berpinta.

“Tentu saja, tapi kau tak boleh sendirian merupa tokoh di sana. Harus ada aku yang menemanimu merajut cerita, sudihkah?” aku balas meminta.

Kau hanya tersenyum. Lalu mengangguk.

Setelah pertanyaan itu, kita berjanji akan selalu ada. Tak ada lagi panggilan nama yang terdengar saat bercakap. Dia, teramat gemar memanggilku ‘Sayang’, begitu pula sebaliknya, meski belum terbiasa lidah ini mengeja. Lamat-lamat, aku semakin nyaman dengannya. Maka Puspa, aku tak mau pisah.
***

Malam tak bersuara gemar datang menyendiri. Tiba-tiba, Puspa mengajakku bertemu tanpa sebab. Dia bersolek bak bidadari mungil yang sengaja turun kala malam. Aku ingat, waktu itu Puspa berbaju putih berenda. Oh, mengapa harus putih? Adakah hitam, atau merah bata yang lain?

Entahlah, aku sangat membenci putih. Dahulu, Ayah sempat mengenakan kemeja putih kala pergi dan tak kembali. Sahabatku, juga menyanjung kaos putih saat hilang terbawa arus sungai. Maka, adakah makna baju putih yang dipakai oleh Puspa malam ini?

“Sayang, aku ingin meminta sesuatu darimu...”

“Silakan, apa itu?” tanyaku.

“Aku... aku... aku ingin kau tak menghubungiku dulu. Aku, punya sesuatu yang ingin kukejar.”

“Apa itu?” lagi-lagi aku menebar tanya.

“Kau tak boleh tahu, Sayang. Kau tak keberatan, bukan? Puspa merajuk ingin dituruti.

Ya, aku tak bisa menolak. Sebegitu cintanya aku, hingga hilang larangan untukku membatasi. Maka, aku tak menghubungi Puspa lagi. Dia, juga tak pernah berkabar balik sejak saat itu. Dan cinta, memang seperti setangkai mawar merah saja, yang menguncup lalu memekar, dan mekar itu kembali layu seperti sedia kala.

Aku telah lupa bagaimana memanggil ‘Sayang’ untuk Puspa. Barangkali, dia juga merasakan hal yang sama. Memang benar, selalu ada kata ‘dahulu’ untuk menghibur masing-masing dari kita.
***

Puspa memakai kemeja sifon violet pudar siang ini. Puspa menyapaku. Puspa membasahkan air ke jemari, wajah, tangan, rambut, telinga, dan kakinya. Puspa berdiri di belakangku sembari mendengar instruksiku memuja Tuhan. Puspa menghubungiku di malamnya. Puspa memintaku mengalurkan kata untuk dihadiahkan padanya. Dan karena Puspa, tulisan ini kugurat dalam romansa.

Ini persembahan dariku untukmu, Puspa, sudihkah kau kembali saling sapa, tanpa perlu mengucap nama?
(IPM)

Bandung, November 2013

0 comments:

Post a Comment

Followers