December 24, 2013

Buku untuk Tya




Buku ini sederhana. Tidak terlalu tebal. Tidak terlalu berkesan pada tatap pertama. Namun, takkan pernah aku melupa sampul dan isinya. Entahlah, ada kenangan yang merayu untuk senantiasa dibasuh. Disentuh. Digapai. Hingga tak pernah selesai.

Barangkali Dahlian tengah bersedih, atau malah bersenang ketika menulis Promises-promises. Akan tetapi, tak penting bagiku apa perasaan penulis saat mengukir tiap lembarnya. Sama tak pentingnya apakah kau simpan, atau kau buang buku ini sewaktu sampai di teras rumahmu yang kosong.

Kau tidak sedang berada di rumah, Tya. Kala itu kau tak ada.

Lalu, untuk apa aku bersusah payah mengantarnya, jikalau yang dituju tengah pergi entah ke mana? Jawabnya satu: kewajiban. Pasti, kau akan bimbang tentang apa maksudku. Sabarlah, akan kuberitahu kisah di balik pengembaraannya.
***

Aku melukis kata-kata dengan nama tokoh Tya, asmamu. Kau, mungkin takkan pernah tahu. Tak mengapa, memang sengaja kubuat agar seperti sandi, atau kode, yang sulit dipecahkan. Barangkali benar, penyair, memang memiliki sisi hitam yang ingin disesakinya sendiri, tanpa yang lain.

Tokoh Tya sangat hidup dalam cerita itu. Terlalu hidup, hingga banyak pembaca penasaran akan sosokmu. Apakah fiktif, ataukah berwujud seseorang yang nyata? Dan aku, selalu menjawab bahwa kau ialah abu-abu, di ambang nyata dan tidak. Mengapa? Sebab, kau selaksa harapan, Tya. Masih mewujud doa, yang terus dipanjatkan dan ditabahkan, hingga Tuhan berkata: Jadilah. Maka, barulah kau kusebut nyata.

Dalam banyak sajak, atau cerita pendek, aku meriasmu bak permaisuri terindah di dunia. Tentu, aku tidak pernah berbohong. Karena, aku takkan menambahi apapun di setiap lariknya. Cukuplah aku berkisah akanmu, yang cantik, yang beralis tebal, yang berhidung mancung, yang bertutur lembut, serta terakhir, yang kutatap ronamu memakai tudung merah menyala bersama anak-anak pinggiran kota.

Sudah kubilang berkali-kali, kau hampir sempurna...

Namun, aku dapat menduga kau tak menyadarinya. Sebenarnya, aku tak juga pernah menyatakan langsung kekagumanku padamu. Bukankah diam atau dikatakan, cinta akan tetap merupa cinta? Maka, izinkan aku memendamnya, hingga pantas kau hadiahi aku utuh dirimu. Meski tak pasti kapan.
***

Naskah cerita pendek ini: Bunga untuk Sesiapa, berhasil memuaskan pemilik terbitan untuk mengabadikanmu dalam laman kosong. Berjumlah segenap lembar, namamu, Tya, terpatri di sana. Tentu dengan tokoh ‘aku’, yang memang adanya aku.

Sekarang, apa kau bangga, Tya?

Kau masih terdiam, sembari tersenyum tipis. Aku mengartikan bahwa itu tak cukup berarti untukmu. Maka, aku berusaha untuk mengenangmu lewat tulisan lain. Maaf, kali ini kalian tak boleh sesuka mencerna. Aku menghargai kisah Tya, yang paling istimewa.

Di akhir apresiasi, penerbit memberikanku sebuah cinderamata: buku ini. Entah agar aku membacanya, entah agar aku mengabadikannya. Akan tetapi, aku tak membaca, terlagi mengabadikan. Sebab, aku terburu meluncur menyesap depan rumahmu. Lamat-lamat, aku titipkan karya Dahlian di teras yang berlangit sesek bambu. Tak lupa, kulipat beberapa nomor halamannya, hingga membentuk tanggal lahirmu.

Bagaimana, sudah mirip seorang detektif kan pengagum rahasiamu ini?
***

Tya, kalau kau bingung dari mana muasal buku itu, apakah dari langit, atau dari seseorang? Jawabnya tentu dari seseorang: aku.

Tya, kalau kau bimbang apa maksud pemberian buku itu, apakah hanya kebetulan, atau memiliki tujuan? Jawabnya mempunyai makna: rasa terima kasih untukmu, karena terus menginspirasiku.

Aih, pertanyaan berandai-andai dan dijawab sendiri.

Maka, Tya, bolehkah pertanyaanku berikut ini kau yang menjawabnya?
Masihkah buku itu kau simpan dalam rak kamarmu?
Adakah sedikit kesan mengenai itu?
Aku menanti jawabmu di layar ponselku. Oh, setidaknya aku tahu, beberapa malam kemudian, kau akan membaca tulisan ini dan menghubungiku.

Tya, aku tunggu...
(IPM)

Surabaya, Desember 2013

0 comments:

Post a Comment

Followers