January 14, 2014

A Letter to Juliet



Claire menulis sepucuk surat untuk Juliet, menyimpannya dalam amplop, serta menanggalkan pada dinding sebuah bangunan di Verona. Claire, begitu mencintai Lorenzo. Hanya saja, memang cinta, selalu memiliki ‘kejutan’ terbesarnya.

Saat itu, Claire masih berusia 15 tahun, masih anak kemarin sore, yang berusaha mengerti apa makna sebuah rasa. Tulisan dalam kertas itu ialah ungkapan kekalutan diri. Namun, lembar itu hanya terselip, tak terbaca, lalu menua bersama usia.


Dear, Juliet.

I didn’t go to him, Juliet.
I didn’t go to  Lorenzo.
His eyes were so full of trust. I promised I’d meet him to run away together because my parents don’t approve. But instead, I left him waiting for me, below our tree, waiting, and wondering where I was.
I’m in Verona now.
I return to London in the morning and I’m so afraid.
Please, Juliet, tell me what I shoud do. My heart is breaking, and I have no one else to turn to.

Love, Claire.


Lima puluh tahun berlalu, takdir tetiba menggetarkan mereka. Sophie Hall, gadis penemu surat bimbang milik Claire, dengan sepenuh hati, menggurat balasan tanya itu.



Dear, Claire.

‘What’ and ‘if’ are two words as non-threatening as words can be. But, put them together, side by side, and they have the power to haunt you for the rest of your life.
What if? What if? What if?
I don’t know how your story ended, but if what you felt then was true love, then it’s never too late. If it was true then, why wouldn’t it be true now?
You need only the courage to follow your heart.
I don’t know what a love like Juliet’s feels like, a love to leave loved ones for, a love to cross oceans for, but I’d like to believe, if I ever were to feel it, that I’d have the courage to seize it.
And, Claire, if you didn’t, I hope one day that you will.

All my love, Juliet.


Cinta itu tak memiliki batas waktu. Tiada basi, atau juga usang. Bahkan, cinta yang terlihat lelah dan tak bertenaga, bisa jadi masih memiliki ‘nyawa’ yang kian sempurna.


Oh, tentu kita tak mau merupa Claire-Lorenzo, yang harus menunggu separuh abad untuk kembali bersama, kan?

Untuk jawaban tanya itu, di sini aku, memperjuangkanmu...
(IPM)

Bandung, Januari 2014

3 comments:

Tiara Balqhis said...

I've seen the film, and it's really touch. :)

Hafian said...

Cerita tentang pencarian Claire dan Lorenzo ini beneran nyentuh, mas :"). Nice share

Idham Mahatma said...

To: Tiara Balqis
Iya, saya setuju banget, Tir. Hanya saja, itu hanya cerita, yang mungkin sulit dijumpai di alam nyata.


To: Hafian
Bener banget, secara tidak sengaja, secara tiba-tiba.
Terima kasih atas apresiasinya.

Post a Comment

Followers