January 05, 2014

Curhat Buat Sahabat




Genap roda besi keretaku mulai melaju. Dari pelan, hingga beberapa saat tak terkejar lagi. Mesin pendingin ruangan sudah menyala sedari tadi, tetapi baru terasa kini. Sejuk. Terlampau sejuk. Gigil kecil lahir, berawal jemari, lanjut ke rambut tipis di tengkuk kepala. “Ah, sudah tiba waktunya memakai jaket,” batinku.

Pemandangan di jendela lebar kereta malam sungguh membuat bosan. Tak ada apa pun. Terlagi, lajur yang dipilih masinis malam ini membelah belantara. Cukuplah bintang, juga bulan, yang menghias gelap.

Atau, bahkan, mereka tinggal landas meninggalkan malam. Ya, gerimis merupa awan abu-abu pada langit sendu merupa alibi. Perjalanan 14 jam ke depan, hampir pasti dihabiskan dalam lelap, yang senyap.

“Aku mau dibuatkan cerita,” tulismu, pada layar ponselku yang tetipa menyala dan berkedip merah lampu diode-nya. Tentu, sepasang alisku lantas bertemu, terbingung bimbang mengisahkanmu. Sebab, aku tak mengetahui apa-apa. Selain kau jelita, dan banyak yang menjadikanmu idola.

“Apa yang harus kutulis? Bolehkah aku berimaji saja?” Ketika itu aku spontan membalas pesan singkatmu, dengan penuh tanya.

“Tidak. Aku akan bercerita... besok malam.” Kau membuat janji, yang pasti aku usahakan tepati.
***

Hampir kepalang pagi kau menghubungi. Seperti kemarin, melalui pesan singkat. Baru saja sepasang mata ingin mengatup, menguncup, dan bersiap mekar di esoknya. Akan tetapi, bukankah tinggi seorang lelaki ialah ditambah janjinya? Maka, hanya sepersekian jangka, lalu layar notebook 14 inch ini menyala, menunggu kotak pesan darimu berkisah.

“Ya, janji adalah janji, harus ditepati...” kalimat gerutuku, sembari menghibur diri.

Kamu memanggilku Tukang Cerita. Sedang aku menyebutmu sebagai Fia. Berteman bantal, amben kayu jati, dan kopi hangat, yang airnya baru mengucur dari dispenser, aku menyimak tulisanmu. Tentang sapa, hidupmu, sahabat, serta cinta, yang kau pesan agar kulukis di kemudian hari.

Kau tampak gamang memulai cerita. Dari kalimat, “Aku harus berkisah dari mana ya...,” aku menangkap ketidaksiapanmu untuk berbagi. Maka tugasku satu, hanya menunggu.

Tangan ini bersedekap, menanti huruf-huruf yang muncul pada kotak pesan media sosial. Awal selalu sukar, bukan? Dan, sampailah Fia menggurat kisah perkenalannya dengan Satrya, lelaki kedua yang dia anggap sempurna.

Tentu, akan ada yang merupa lelaki pertama. Akan tetapi, Fia telah lama melupakan. Atau, lebih tepatnya berusaha tidak mengingat. Sebab, dia jauh berada di masa lalu. Bahkan, tiga tahun bersama, rasanya lenyap saat perpisahan terucap. Kisah manis memang selalu menyiksa, kala akhir mewujud elegi, serta perih ternodai.

Bah, Fia tak serapuh itu. Aku kenal dia sebagai wanita tangguh,” hatiku berbisik, seakan-akan paling tahu.

Kisah tentang mantan, hanya berbuah beberapa frasa saja. Pelengkap. Karena, bibir Fia, yang sembari mengetik juga berbicara pelan, lebih gemar menggurat Satrya, lelakinya kini. Dia bertutur padaku dengan sangat detil, hampir selaksa dongeng. Sejenak, aku seperti anak kecil yang dibacakan cerita oleh seorang ibu sebelum pulas.

Darimu, aku merasa sangat mengenal lelakimu, Satrya. Aku tahu apa yang dilakukannya saat mendekatimu. Bermodal formulir barang dagangan yang diedarkan, sedang apes-nya kau menjadi penanggung jawab untuk sebuah kelas. Maka, mau-tak-mau kontakmu terpatri di sana. Dan, seperti dalam roman televisi siang hari, kau dan dia berkenalan. Untuk lanjut berbincang di dunia teks, meninggi makan siang bersama, serta intens pertemuan setelahnya.

Hari lahirmu hadir di bulan Agustus, bukan? Maaf, aku tak terlalu mengingatnya. Namun, lelakimu itu, Satrya, sangat hapal akan tanggal itu. Dia, dengan lebih sigap dari ibu tupai yang anaknya hendak dilukai pemangsa, mengucap ‘Selamat ulang tahun’ tepat di pergantian hari. Pukul 00.00, pungkasmu, sambil bernostalgia sendiri.

Dan, kekasihmu sesungguhnya, yang nantinya berubah status menjadi ‘mantan’, malah tertidur pulas di kasur kamar. Dia terlambat barang sejam. Lebih-lebih, dia tak sempat memberimu apa-apa, hanya sebongkah maaf, dan memohon dimaklumi. Namun, Satrya lebih lihai membaca situasi. Berpakaian rapi, kejutan, dan ucapan hangat, mengagetkanmu untuk kedua kali. Satrya bersambang langsung padaku, di depan pintu, ujarmu.

Kemudian, kalimat ‘pada akhirnya, yang istimewa akan kalah dengan yang selalu ada’ menjadi pedoman. Satrya, terus menghujani perhatian. Sedang kekasihmu, larut dalam bising kegiatan. Masih Satrya, memberimu sebutan ‘Nona’, serta ‘Bos’ untuknya. Bukan bertujuan lain, hanya berusaha memagari, agar kau selalu mengingatnya. Bahkan, di bulan September, first flower darinya kau pegang seksama, tak boleh disentuh sesiapa.

Seperti prediksiku, Oktober mewujud hari kebebasanmu. Kau lebih bisa bernapas kini, dengan calon lelakimu yang baru. Akan tetapi, memang benar jikalau wanita itu penikmat masa lalu, sama juga sepertimu. Kau, Fia, kian enggan menerima Satrya. Lebih-lebih secara terang, dia memintamu menjadi ratunya di pertengahan Desember. Kau tak siap, atau pula menguji kesungguhannya. Aku tak tahu.

Penantian kalian mencapai klimaks di bulan Juni. Sepertinya musim hujan saat itu, yang menghadiahi rintik-rintik bahagia kepada setiap insan. Barang tentu juga kalian. Ikrar mengikat sepasang kekasih terbalaskan. Dan, sampailah kau, Fia, dengan Satrya, menjalani hari selaksa berdua.

Lembar harimu berisi warna-warni. Tentu, lengkapnya menghadirkan canda, tangis, dan segala problematika. Tentang kesibukan, mandek komunikasi, serta tembakau, yang sangat kau benci, serta Satrya gemar mencicipi.

“Dia pernah berjanji padaku untuk berhenti. Namun, dia berbohong,” ceritamu, menggambarkan kecewa atas ketidakseriusannya.

“Tapi, dia benar-benar berhenti, jauh setahun setelahnya,” lanjutmu menggariskan akhir masalah.

“Ah, selesai sudah berkisah tentang Satrya. Aku bosan,” aku menggerutu untuk kedua kali. Sebab, kisahmu terlampau sering kudengar, dari bibir-bibir yang lalu-lalang. Sampai akhirnya kau bilang, “...ceritaku belum selesai, ini justru sedihnya baru diretas.” Daun telingaku melebar lagi, bersiap menyamakan frekuensi.

“Aku sadar, aku salah orang...”

“Maksudmu?” tanyaku, ingin tahu makna sebaris kalimat itu.

Untuk sekelumit frasa di atas, kau mengganjarku dengan berlebar alinea. Kamu akan melahirkan satu tokoh lagi, Daisy, wanita yang mengagumi kekasihmu kini, Satrya. Daisy pula yang mengejutkan jemari kekasihmu dengan dasi biru pemberiannya. Tetap Daisy, yang dilantunkan kalimat ‘terima kasih’ dari bibir kekasihmu atas tindakan sepele, sedang lakumu yang berjeri payah padanya tak mewujud kalimat itu pada akhir.

Kau meradang. Mengenang lelah, capai, kesah, akan segala bentuk kasihmu yang dianggap Satrya tak seberapa. Dia lupa bagaimana kau mencuri waktu kuliah untuk sekadar memberi dorongan moral. Dia tak ingat bagaimana perhatianmu tercurah untuk membenarkan kosakata dalam paper syarat kelulusannya. Dan, dia sama sekali tak menghargai, tentang ini-ini-ini, dan lain-lain-lain.

Pahlawan kesiangan, selalu muncul dalam sebuah keremangan hubungan. Kusebut dia, Dika. Sahabat lelakimu, yang menawarkan payung untukmu berteduh. Yang mengizinkan bahunya untukmu mengadu. Yang bersedia menghapus duka dan menyulamnya menjadi tawa. Namun, Dika tak tahu. Bahwasanya wanita, tak serta merta butuh pengganti, setelah dikecewai.

Dika tak sabar. Dika tak mau pelan-pelan menemani. Maka, ‘maaf aku tak bisa’ darimu menandai akhir upaya pendekatannya.

“Aih, kalau saja dia mau bersabar, kalau saja dia mau pelan-pelan, pasti akhir cerita takkan berujung penolakan...” Maaf, Fia, aku inisiatif menambahkan.

Kala kegamanganmu memuncak, perihal hubungan tidak jelas, serta sahabat yang ingin menaifkan diri merupa pangeran, kau dikejutkan lagi oleh seseorang. Putra, namanya. Pria yang dahulu kian kau jatuh cintai. Pria yang dahulu senantiasa membuat bibirmu tersenyum. Dan pria itu, yang dahulu tak pernah membungkuskan kesedihan untuk dilukis pada ronamu.

Pria itu manis, kenangmu.

Kopiku menyisakan ampas di dasar mug keramik. Layar tempat kita berbagi memori masih menyala terang, meski seringkali kulemahkan contrast-nya, bersebab terlalu silau. Kau tak membutuhkan akhir untuk kisahmu. Dua setengah jam yang singkat, apabila disanding dengan sekian tahun kisah hidupmu. Tujuh lembar ini terasa tak ada maknanya, bilamana disamakan dengan bahagia, duka, terlagi nestapa.

Ketika kau bertanya lagi perihal yang kau butuhkan. Tentu, aku sigap menjawab: waktu. Kau tak perlu apa-apa, Fia. Kau hanya butuh waktu, juga teman berbagi. Kau, hanya perlu meniru Tom Hansen dalam 500 days of Summer, yang menemukan secara tak sengaja Autumn setelah dikecewai kekasihnya.

Dariku, semoga larik ini sanggup merayu bibirmu melengkung lagi, menghiaskan geligi putih, serta rona cerah khas seorang putri. Selamat menanti, kisahmu terlengkapi...
(IPM)

Surabaya, Januari 2014

0 comments:

Post a Comment

Followers