January 29, 2014

H e r




Theodore mengira kisah cinta bersama Catherine akan berlangsung selamanya. Setiap hari berbuah senyum, demi detik merupa kagum. Lengkung senyumnya, menyelinap di setiap mimpi. Membayangkan pemilik mata itu menari, sungguh Theodore tak kuasa menahan diri, ingin mendekap, tak mau melepas barang sejengkal.

Tak disadari, Theodore telah menemukan siapa empu dari sepasang hatinya. Tiada lain, Catherine, jelita yang gemar menghadiahkan tawa kepadanya. Namun, takdir sekali lagi memilih jalan lain untuk mereka. Catherine meninggalkan Theodore. Dua jiwa itu berpisah, selaksa tak saling kenal.



Theodore membeli Samantha, suara perempuan yang selalu memanggil asmanya di tengah malam. Samantha hadir, menghibur diri Theodore yang telah dikecewakan. Masih Samantha, amat lihai membolak-balikkan rasa. Kala nestapa membuncah, suara itu hadir melucuti. Kala senang terjalin, juga suara itu, dengan tepat waktu membungkus momen terindah agar merupa memoria.


Hari-hari Theodore berubah cerah. Berwarna pelangi. Merah-jingga-kuning. Hijau-biru-ungu-nila. Atau, apabila cakram diputar, ketujuh warna itu akan merupa satu: putih cerlang. Apa jadinya apabila seseorang mampu jatuh cinta hanya dengan mendengar frekuensi suara?

Gelak tawa. Sapaan di pagi dan malam. Percakapan panjang pada siang-petang. Serta ajakan berbalas pendapat, yang akan menguak bagaimana jalan pikiran harus diretas. Samantha melakukan itu dengan sempurna, hingga gila Theodore tak ingin melepasnya.

Akan tetapi, manusia tak butuh suara. Tak perlu sebatas kata. Samantha tak nyata. Samantha tak bisa memeluk sambil menawan daun telinga. Samantha tak mampu memainkan lentik jemari, sembari mengedipkan nakal sepasang mata. Samantha hanya ilusi, buatan logika, buah tangan manusia.

Sampailah Theodore pada sisi terendah dalam hidup. Capai, lelah, nelangsa, lengkap menghampiri setiap ujung cerita. Dalam senyap, di tengah gelap, Theodore menemukan satu nama: Catherine, belahan jiwanya itu, masih hinggap, atau dipaksa hinggap dalam relung hati.


Surat beralamatkan Catherine terkirim. Pertanda perasaan Theodore yang masih sama: amat sangat mencintainya. Catherine belum berencana membaca. Dia khawatir, Theodore takkan pernah lagi memaafkannya...
(IPM)

Bandung, Januari 2014

0 comments:

Post a Comment

Followers