January 10, 2014

Tidak Sengaja Jatuh Cinta




Aku tidak sengaja jatuh cinta. Aku tidak sengaja mencuri pandangmu dalam diam ketika aku bersama kamu. Dan, saat kamu balik melihat, aku tidak sengaja mengalihkan tatap mata sejauh-jauhnya, berharap kau tak deteksi sisi gelapku mengawasi.

Aku tidak sengaja merasa khawatir bilamana keberadaanmu denganku berbeda ruang dan waktu. Tentu, aku akan tidak sengaja mencari-cari lesungmu, yang sedari awal amat kukagumi.

Aku tidak sengaja berharap kau tak kembalikan sekaligus beberapa barang yang kau pinjam dariku. Atau, mendadak aku tidak sengaja mengkhayal kau mengembalikan pernik itu satu demi satu, serta kau berniat meminjam pernik lainnya lagi. Segalanya bertujuan, semata agar pertemuanku denganmu beralasan.

Aku tidak sengaja menjadikan tawamu sebagai candu. Leluconku, aku tidak sengaja meluapkannya begitu saja, saat tengah berdamping denganmu. Aku pun tidak sengaja merindu setiap cubitan darimu waktu dengan nada bercanda kuhadiahi kau plesetan murah. Ah, geligimu itu, yang putih nun berkilau, membuat aku tidak sengaja menyimpannya dalam kantong, untuk persediaan kala tak berpapas.

Aku tidak sengaja menggores bait-bait frasa berima pada kertas putih tak bergaris. Tiap kalimat, aku tidak sengaja membaca ulang sembari membayangkan ada kamu yang gemar mendengarkan. Kelak, pada akhir puisi, aku tidak sengaja memejam, melapangkan dada yang tak karuan begitu senang.

Aku tidak sengaja menghapal rute tersingkat menuju rumahmu. Meskipun, jalanan terjal penuh aral, aku tetap sabar, tanpa merupa kesal. Halamanmu, aku tidak sengaja berharap menjadi tempatku bersamamu nanti, ketika menghabiskan pagi berdua, ditemani dua cangkir hangat seduhan teh melati.

Aku tidak sengaja merekam dalam angan, bagaimana syahdu berebut selimut denganmu kala malam mulai menggigil. Sedang hujan di luar menakuti, dan kamu, akan ringsek menenggelamkan diri dalam dekapku. Hampir pasti, aku akan tidak sengaja mengucap, “Tenang, Sayang, aku ada di sampingmu,” hingga kamu benar tenang, serta pulas memejamkan mata.

Dalam lelapmu, aku tidak sengaja memesan segenap mimpi agar tidurmu berkesan. Saat kubangunkan kamu di pagi buta, aku akan tidak sengaja mengusap jemarimu sembari mengecup matamu agar terjaga. Kau mengulat, lalu menghadiahiku senyum terindah. Ah, aku tidak sengaja membalas lesung itu, dengan mengajakmu bersujud bersama, bersyukur pada Tuhan kita.

Aku tidak sengaja menobatkanmu sebagai ratu, atau permaisuri, atau kekasih hati, yang gemar merenda romansa dalam bilik-bilik asa. Maka kumohon, kamu, teruslah kejutkan aku!

Maaf, aku tidak sengaja jatuh cinta padamu. Atau, kamu tidak sengaja menjatuhcintakan aku. Oh, apapun bunyi opsi itu, aku setuju, apabila karenanya terus bersama kamu.

Kamu tidak harus sengaja untuk jatuh cinta.

*Dua teori yang aku percayai: 1) Otak tak bisa menerima kata ‘tidak’. 2) Tiada ketidaksengajaan terjadi di dunia ini.
––

Ditulis setelah melewati genap momen berharga berdua. Ini rindu, yang jelas kusampaikan untuk satu wanita, kamu.

0 comments:

Post a Comment

Followers