Dunia Tukang Cerita

February 05, 2014



Tukang Cerita tidak sedang berkuliah di jurusan sastra. Dia lebih cocok disebut sebagai seseorang yang kaku. Tidak luwes, atau fleksibel, seperti anak-anak sosial. Istilah-istilah seperti: kalibrasi, ekstraksi, titrasi, elektrometri, sintesis, serta analisis kualitatif lebih lazim dia gunakan sehari-hari, ketimbang kata: rindu, cemburu, ironi, elegi, atau pula ragu.

Namun, hidup itu tentang banyak pilihan, bukan? Tidak bisa hanya memilih satu jalan. Apabila kau hanya mampu pada satu sisi, itu tak masalah. Akan tetapi, jikalau bisa lebih, lantas, mengapa tak dijalani?

Tukang Cerita pernah berpikir untuk melenggang penuh menuju dunia kepenulisan. Masa bodoh dengan angka, dengan persamaan, dengan diagram. Itu sama sekali tidak cocok menurut sikap pribadinya. Orang tua, tentu tak pernah mempermasalahkan mau jadi apa dia di kemudian hari. Itu hidupmu, maka pilihlah sesukamu...

Untuk alasan itu, Tukang Cerita berkenalan dengan ragam-warni buku. Outliers dibabatnya saat baru masuk bangku kuliah. Setelahnya, The Secret, yang kata beberapa orang dinilai sebagai buku kontroversial, semacam mendalilkan sesuatu mengenai hidup. Sophie’s World tujuan berikutnya. 

Kemudian, beberapa judul kumpulan karya Djenar, Agus Noor, Dewi Lestari, Adimodel, Bernard Batubara, Sukak, Leila S. Chudori, Pramoedya Ananta Toer, hingga kalimat bijak khas Mario Teguh, Bong Candra, dan Steve Jobs ditatap tak kenal lelah. Untuk sisi perkuliahan, textbook semacam: Brady, Haliday-Resnick, Purcell, Fessenden, Solomon, Atkins, Harvey, Housecroft, Vogel, Stryer, serta Lehninger bisa saja bersahabat apabila dibutuhkan.

Tukang Cerita mengulas habis beberapa. Tentu catatan kecil selalu tergamit di saku celana, beserta pena, sebagai teman setia. Dia tak memiliki memori lebih, maka mencatat mungkin jalan terbaik untuk dijalani.

Dia bukan dari lingkungan berada. Siapa sangka, ayahanda-nya telah jauh pergi menatap Sang Pencipta. Tangis, air mata, keluh, resah, ialah cat minyak untuk dia gurat dalam kanvas. Tentu hasilnya bukan lukisan, tetapi prosa beralinea. Sebab, rangkaian kata, dia pikir lebih bergairah ketimbang kontras warna.

Maka, tulisan ini bukan bermaksud menggurui. Hanya sebagai referensi, bagaimana seseorang dapat memiliki keahlian lain di luar bidangnya. Kalau disuruh menentukan, tentu Tukang Cerita menjawab bahwa passion-nya ialah menulis. Namun, hidup itu logis. Dan menulis, bisa diaplikasikan ke dalam berbagai segi.

Dia, bisa menggunakan modal itu untuk merancang proposal bisnis. Lain waktu, dia menghujamkan berlarik kalimat padu guna membuka sebuah acara. Atau, pernah dia didaulat sebagai pembicara yang mengkritisi sebuah tema. Semua itu berhubungan dengan kepenulisan. Dan membaca, jendela untuk bisa menoreh pena.

Kini, silakan kaupilih, lebih menarik mana: penulis cerpen, atau profesional di perusahaan yang bisa menulis cerpen?

Salam hangat,

Tukang Cerita.

Followers