February 27, 2014

Kamu, Jangan Pergi...




Kalau kau bosan perihal topik tulisanku, boleh saja kau tak lagi membacanya. Namun, jangan paksa aku untuk melupa. Maaf, aku tak bisa.

Berusaha melupakan ialah sesuatu tak mungkin, sebab di saat yang sama, secara tak sadar, justru kau akan mengingat bagian itu kembali. Lebih dalam. Lebih luas. Dan, ketika matamu terbuka dari pejam, lengkap sudah segala memori akan berpulang lagi, memenuhi hari.

Atau, jikalau cara itu tak ampuh. Kau merengek padaku untuk mengabaikan keberadaanmu. Sederhananya, berpura tak tahu kau ada. Bahkan, sejengkal depa di depanku kau berdiri, aku tak boleh memandangi. Aku menyanggupi sehari-dua hari saja, tetapi menginjak ganjil hari berikutnya, aku tak kuasa. Pertahananku lantak tak tersisa.

Jadi, masihkah kau memintaku melakukan itu? Melupakanmu?

Oh, tak perlu kau melupakanku. Kau, kini, cukup bantu aku untuk melupakanmu.

Apa maksudmu?

Kau, tentu tak paham bagaimana rasanya suatu hari lampau pernah kau perlakukan aku bak seorang putri. Tiap pagi tak pernah alpa kau mengucap kata mesra. Entah lewat alfabet, atau intonasi. Semua kau jalin indah, sarat metafora. Sejenak, aku menyenangi bangun tidur dan membenci ketika hendak pergi memejam. Alibiku satu: ingin selalu lekat dekatmu.

Kau, sudah pasti tak melihat bagaimana ekspresiku ketika pesan singkat darimu mengagetkan pada gelap malam. Melucuti setiap celah untuk kau tinggali. Geligi ini gemar mengering bersebab tawa. Air mata ini tak pernah tumpah. Kau, punya banyak cara untuk selalu membuatku jatuh cinta.

Ada saat di mana kita, kau dan aku, tak lagi berjarak, saat kita berada dalam situasi paling kompak, saat pelitaku tergambar cerah pada sorot matamu, serta saat aku menjadikanmu sosok tak terganti, justru pada saat itu, ya, aku ingat benar, pada saat itu... kau mengucap pergi.

Pergimu tak menghadirkan jalan kembali. Bahkan, janjimu untuk terus menghadap ke depan, sepenuh hati kau tepati. Sekali saja, tiada berlarik frasamu menyapa. Dalam kepalamu, kau menganggap aku apa? Sebuah persinggahan? Teman sebatas waktu untuk menggadai kesepian? Atau, hanya barang, yang bisa dipungut dan disaput semau kehendakmu?

Hey, Bung, aku ini hidup! Punya hati. Mataku kaca, mudah sekali berair dan pecah. Lantas, kau masih saja tak mengerti bagaimana sakitnya. Kalau saja pergimu itu untuk kita, aku tak akan meracau selayaknya ini. Namun, alasanmu pergi, tak bisa kuterima: mencari yang lebih baik.

Maaf, ada yang salah dengan alasan itu? Bukankah tiap insan diisyaratkan untuk ‘mencari yang lebih baik’? Tidakkah kau mengerti?

Kau, tak perlu lagi banyak berkata. Diamlah!

Kau tak apa?

Sudah, pergilah! Jangan pernah kembali datang! Aku benci padamu, amat sangat benci! Aku benci padamu, terlebih pada diriku, karena hingga sekarang, rasaku akanmu tak mampu kuhilangkan. Aku benci mengaku, bahwa bayangmu, masih setia mengisi malamku dengan potret kenangan masa lalu.

Kamu, jangan pergi...

0 comments:

Post a Comment

Followers