February 20, 2014

Mika, Ibu Kepala Sekolah





Aku tengah membicarakan Mika, teman semasa putih abu-abu yang kini telah tumbuh dewasa. Darah seni mengalir indah dalam raganya, mewujud kreativitas yang tiada batas. Apabila berujar tentang Mika, tentu tak jauh-jauh dari buah stroberi, secangkir kopi, serta anak-anak.

Entahlah, kurasa setahun terlampau cukup untuk mengubah wajah seseorang. Dari tegas dan tegap, menjadi keibuan. Dari yang lurus, menjadi nyaman dan luwes diajak berdiskusi. Oh, semua bisa saja terjadi. Bahkan, dari Mika, aku belajar banyak hal. Salah satunya ialah menemukan apa yang disebut passion.

Mika kutahu sangat menyukai stroberi. Tentu dia jatuh cinta pula dengan buah asam berbintik hitam itu. Segala hal dibalut rapi, dari sampul buku, pernik meja belajar, hingga motif gorden kamarnya. Itulah yang dikerjakan Mika ketika menyukai sesuatu. Selalu mendekatkan diri dengan hal beraliran sama.


‘Mainan’ favorit Mika yang lain ialah anak-anak. Tak habis pikir aku akan apa yang Mika kerjakan. Begitu bersemangat dia saat bertemu dengan wajah-wajah kenes berumur hitungan jari. Baik bocah lelaki, atau pun perempuan, diajari Mika dengan sarat kesabaran. Mereka belajar matematika, bahasa, mengaji, juga norma-norma baik sebagai bekal kala menginjak remaja nanti.

Aih, anak-anak itu pasti tumbuh menjadi pribadi baik, sanjungku.

Apapun yang dikerjakan sungguh-sungguh pastilah akan menuai hasil. Dan, setiap kesungguhan sudah tentu diawali dengan niat yang terpuji. Mika membuktikan itu. Segala hal mengenai anak-anak dia pelajari. Total. Tak setengah-setengah. Kalau tak percaya, sila saja bersambang ke laman pribadinya. Kau, akan disuguhi bagaimana menariknya dunia anak-anak.

“Jikalau ingin belajar tentang bagaimana menjadi optimis, belajarlah pada anak-anak...”

Itu potongan kalimat, yang selalu kuingat, selalu kupegang kala beban hidup terlampau berat. Banyak dari kita terlalu pesimis mengenai nasib. Namun, anak-anak senantiasa memiliki apa yang disebut ‘rasa optimis’.

Coba kita tanya pada seorang anak mengenai cita-citanya di masa depan. Tentu anak itu akan menjawab ingin jadi seorang dokter. Atau, anak lain ingin menjadi presiden. Atau, untuk anak super optimis, akan menjawab ingin jadi astronaut.

Sudah mengerti maksudku? Namun, coba kita tanya ke diri sendiri tentang apa cita-citamu kini. Pastilah, jawaban seadanya muncul. Ingin jadi pegawai, ingin kerja di bank, ingin buka toko, dan frasa sederhana lainnya. Rasa optimis itu pudar, berganti pikiran realistis.

Akan tetapi, isi kepala anak-anak berbeda. Penuh rasa optimis, sarat kejutan tak terduga. Dan, Ibu Kepala Sekolah, panggilan Mika kini, pasti telah paham betul perihalnya.

Mika telah menemukan passion-nya. Bagaimana dengan kita?
––

2 comments:

Weka Puspita said...

Tau deh siapa 'mika'...

Idham P. Mahatma said...

Iya, makasih sudah berkunjung, Weka.

Post a Comment

Followers