February 09, 2014

Saat itu...





Saat itu...
Kuingat kau memakai celana kain panjang berwarna maroon. Atasanmu cukup kaos putih bergaris hitam, berlengan hingga jemari, terjulur menutupi sendi-sendi. Tudung penutup mahkotamu kurasa memantulkan violet, atau juga putih, sebab silau sekali pagi itu untuk memaknai.

Saat itu...
Kuterka kakimu tengah basah bercampur gigil. Sebagian telapakmu tertutupi pasir hitam pantai yang mengalir. Ombak menggerakkan. Ke sana. Ke mari. Membawa harap, sedih, duka, dan cita. Menggulungnya merupa satu, mewujud indah.

Saat itu...
Kutatap ronamu lekat-lekat. Senyum itu, kerling itu, masih saja membekas dalam angan. Semakin dalam, semakin sukar padam. Dalam hati, pernah aku bermimpi untuk membingkai. Agar tak lapuk. Agar tak termakan usia. Batinmu membuncah, menginginkan sesiapa singgah.

Saat itu...
Aku mengguratmu dalam piksel. Di atas cetak biru, yang hingga kini menjadi kenangan. Kau tahu, dengan modal potretmu, aku menggores rautmu utuh. Inilah hasilnya, semoga kau suka, Tya!


4 comments:

Hafian said...

Tya ini, nama cewek 'fiksi' apa 'non fiksi', Dham? So sweet banget kalau ditujukan untuk cewek yang non fiksi :D

Idham Mahatma said...

Tya ini, nama wanita non fiksi, Hafian.
Dia hidup, dan mengalir bersama cerita-cerita di lamanku.

Hafian said...

Owalah, pantes di karya Idham yang lain ada namanya Tya :). Kirain nama orang yang disamarin. Bikin buku kumpulan cerpen aja, lo.

Idham Mahatma said...

Iya, aku sering menulis tentang Tya.
Sebab, masih banyak celah untuk terus mengguratnya dalam karya.

Post a Comment

Followers