March 15, 2014

Air Putih





Tenanglah, tak perlu kau gundah akan pertemanan kita. Aku tidak pernah berniat menodai apa yang kausebut persahabatan. Dua orang yang dipertemukan untuk berbagi, baik cerita, tawa, suka, ataupun nestapa. Namun, tanpa bait cinta. Tanpa warna merah muda khas asmara.

Tentu aku tak mampu untuk tiba-tiba menghampirimu, mengajakmu duduk barang sejenak, dan bercerita tentang perasaan. Kau juga pasti bergumam dalam diam, terkejut, menerka-nerka perihal sebenarnya apa maksudku mengungkapkan rasa.

Tidak selugu itu aku memilih cara untuk mencintaimu. Aku menyukai keindahan, garis-garis artistik, frasa-frasa magis: tentang malam, bunga, senja, rembulan, hujan, air mata, juga kamu. Mengapa harus ‘kamu’ yang terlampir di sana?

Terlampau berhati-hati aku memandangimu dari dekat. Sejak keakraban kita menanjak, mewujud ruang kecil berdua untuk saling berkisah, aku perlahan memberi jarak. Tak bertujuan lain, hanya agar kau tak curiga.

Akan malu rasanya apabila aku tertangkap basah menyimpan rasa olehmu. Sementara, aku kau takzimkan merupa orang terdekatmu. Semacam pendengar, pemberi nasihat, juga teman pulang kala tak ada yang mengantar.

Sering kita menghabiskan waktu berdua. Akan tetapi, tiada seorangpun akan curiga. Tak ada dari teman kita yang menggoda kala dengan serius kau memandangku sembari mendongeng masa lalu. Kau akan bergeming, diam beberapa saat dan berkata, “Thanks, sudah menjadi telingaku,” sambil mengakhirkan perjumpaan. Oh ya, tak lupa pelukmu mengambang, ketika beban dunia terlalu berat kaupikul sendirian.

Selalu ada pundakku untukmu bersandar. Selalu ada saputanganku untukmu menghapus lelah di sisi wajah. Selalu ada jemariku untukmu membenarkan gerai rambut. Dan, selalu ada aku pada sarat harimu.

“Kau, masih mengingat ini?” tanyamu, sesaat setelah memperlihatkan potret masa orientasi mahasiswa baru di kampus.

Tentu, aku masih mengingatnya. Bahkan, hampir gila aku mencoba melupakannya. Mana mungkin hari spesial itu aku lupa. Perkenalan kita yang pertama, memoria kala aku tetiba bertanya, “Maaf, nama kamu siapa? Sedang menunggu siapa?” Secepat kilat kau menjawab pelan, “Aku Mona, kamu?” Kau pun lupa merespon pertanyaanku yang lain. Tak apa. Aku tak perlu tahu siapa yang kautunggu. Aku hanya butuh namamu.

Lewat keberanian menegurmu terlebih dahulu, terciptalah hari ini. Melalui obrolan kecil tanpa alur, terwujudlah kedekatan ini. Siapa bilang cinta tak butuh usaha? Aku begitu mensyukuri, barangkali kamu hanya menganggap tanpa arti.

Minggu kemarin, puncak kegelisahanmu. Terbaring tubuh lemasmu di atas dipan kamar. Melipat rona, menguak ketakberdayaan. Kau menghubungiku tengah malam. Saat itu deras hujan menghujam. Namun, selincah tupai melompat dari dahan ke pohon lain, aku mengetuk pintumu dan langsung menyisipkan isyarat khawatir.

Banyak sekali pertanyaan yang kuajukan. Sedikit sekali jawab yang kaucanangkan. Diammu menyimpulkan raga letih. Kamu mengapa?

Aku masih membenarkan bagian-bagian kamarmu yang berantakan. Menyiapkan air hangat untuk menyeka, mengambil selimut ekstra agar hangatmu kian terjaga, sampai dalam pelan kau berujar, Atma, temani aku hingga pagi ya, aku takut sendirian...”

“Kau butuh apa? Biar aku penuhi segera. Makan? Iya, kamu butuh makan? Minum? Kamu haus, bukan? Bilang saja, bilang...”

“Sudah, sudah... kau tak perlu berlebihan. Ambilkan aku air putih, aku haus,” katamu dengan suara serak.

Air putih dalam gelas ini hangat. Tanganmu dingin, seperti malam yang hujan. Aku membantumu duduk dari semula terlentang. Kini, wajah kita saling berhadapan. Sangat dekat, hampir tanpa sekat.

Aku memegangi gelas kaca itu sembari dilapis jemarimu. Ada getar yang nyata terasa. Ada irama detak yang tak biasa terbawa. Bersama air putih ini, aku berharap kamu sadari, jikalau ada dua yang sangat mengkhawatirkanmu: aku, dan hatiku.

“Dia tahu kamu sedang sakit?” tanyaku.

“Tidak, dia tengah sibuk. Aku tak berani beritahu dia.”

Oh, jangan salahkan aku bila terus mendoakanmu tak kunjung sembuh. Dengan keadaan seperti ini, justru aku mampu sedekat mungkin denganmu, menjaga lelapmu sembari terus memandangi, serta rela hariku tergadai hanya untuk menemani.

Kamu, jangan beritahu dia aku di sini...
(IPM)

Bandung, Maret 2014

4 comments:

Anonymous said...

Dasyat dam keren banget.

Idham P. Mahatma said...

Terima kasih atas apresiasinya.
Sayangnya, cuma pakai nama Anonymous, jadi tidak bisa diketahui siapa.

The DreamCatcher said...

Jadi inget cerpennya Dewi 'Dee' Lestari dalam Rectoverso yang judulnya "Curhat Buat Sahabat"

Idham P. Mahatma said...

Iya, terinspirasi dari cerpen itu lebih tepatnya.

Post a Comment

Followers