March 31, 2014

Senja Milik Noor




Noor tidak menyangka akan seperti ini jadinya. Bayang wajah terdahulu masih saja menggantung menggoda. Tatap itu meminta, sembari merayu untuk selalu diberi perhatian. Awalnya sebentar, akan tetapi, semakin hari, sorot matanya terus saja bergelayut membebani pandang. Noor tak berdaya menahan.

“Past is a nice place to visit, but certainly not a good place to stay,” katanya. Namun, tindakan Noor sama sekali tak mencerminkan hal itu. Dia masih terngiang memoria indah saat lampau. Lelaki beralis tebal, berhidung mancung, dan sebaya, berkuasa dalam alam pikirannya. Dia tak tahu bagaimana cara melepaskan, seperti yang dilakukan lelakinya.
***

Noor menyebut lelaki itu: Senja. Tentu bukan nama sebenarnya, sebab hingga kini, Noor ingin sekali melupa. Berusaha keras dia menghapus laras namanya, atau melakukan cara lain untuk berkelit dengan mengganti asma merupa Senja.

Apa bedanya mengganti nama, toh yang dimaksud adalah seorang yang sama?

Senja pernah mengajari Noor bagaimana melempar sapa ketika sorot pagi membangunkan. Senja pula yang memberi Noor pelajaran mengenai berbagi kasih di antara dua insan. Masih tentang Senja, dengan lihai, menawan hati Noor agar tak dapat lagi berpindah haluan. Noor belum siap, hingga saat keduanya tak bertemu, Noor meraba-raba sosok Senja yang begitu saja menguap.

Cerita tentang Senja bukanlah perihal lembar kemarin sore. Minggu depan, tepat empat puluh bulan Senja tak kembali. Namun, dalam hati terdalam, yang hanya Noor kuasa  membolak-balikkan, masih menanti Senja berpulang.

Aku tak mengerti bagaimana bisa seseorang sebegitu lamanya tak sanggup menggantikan posisi kehilangan. Seperti tak ada sosok lain yang lebih baik di luar sana. Atau, justru bukannya tidak ada. Akan tetapi, Noor sendiri yang mencipta sekat-sekat agar tak menemukan seseorang lain. Hati Noor untuk Senja. Ironisnya, Senja tak mengatakan hal yang sama.
***

Senja itu lelaki. Dan, Noor harus tahu bahwa lelaki itu mencintai ketidakpastian. Segala yang pasti tentu tak menarik lagi. Untuk itu, Senja pergi.

Noor itu wanita. Dan, Senja harus tahu bahwa wanita itu mencintai kepastian. Segala yang tak pasti tentu tak menarik lagi. Untuk itu, aku meminta Noor di sini, bersamaku, mencoba melupakan sosok Senja yang telah lama pergi.
(IPM)

Bandung, Maret 2014

2 comments:

Annur El Karimah said...

huk..huk.. senja milik Noor :)

Melupakan senja... oh No, mbak senja... nama pena temenku.. hehe.. keakraban senja dan Noor menghilang..

Idham P. Mahatma said...

Wah, kebetulan namanya sama.
Selamat membaca !!!

Post a Comment

Followers