April 09, 2014

Nyanyian di Hari Pernikahan






Aku selalu suka memandangnya. Terlalu suka bahkan. Apalagi ketika dengan nada sumbang dia bergumam akan tembang Passenger. Dia menggerakkan jemari, memainkan pena sembari berdendang lagi...

     staring at the bottom of your glass
     hoping one day you'll make a dream last
     but dreams come slow and they go so fast

     you see her when you close your eyes
     maybe one day you'll understand why
     everything you touch surely dies

“Apa yang kamu lihat? Dasar, sudah, sudah... kerjakan tulisanmu itu, jangan terus memandangi aku,” ujarnya, saat aku termenung di depan tatapnya.

Dia lantas bernyanyi lagi. Tidak keras. Tidak merdu. Akan tetapi, aku menikmati lengkung suaranya, membuatku terasa berada di rumah. Mungkin, aku akan sangat rindu jikalau suatu saat nanti dia pergi dariku.
***

Senja dan hujan. Gemericik dan lelap tatapan kamar. Jendelaku tertutup. Tirai kasaku sengaja terbuka. Air menetap di sisi-sisi kaca, seakan ingin tahu tentang nada-nada yang lepas tapi tak bertemu.

     staring at the ceiling in the dark
     same old empty feeling in your heart
     'cause love comes slow and it goes so fast

      well you see her when you fall asleep
      but never to touch and never to keep
      'cause you loved her too much
      and you dived too deep

Dan... lantun suaraku terhenti.
***

Masih tentang Passenger-nya. Masih tentang dia. Masih tentang senyumnya saat menyanyikan lirik-lirik magis tak kenal masa. Masih tentang perih, pedih, sedih, yang disaput tanpa arti.

     well you only need the light when it's burning low
     only miss the sun when it starts to snow
     only know you love her when you let her go

     only know you've been high when you're feeling low
     only hate the road when you’re missin' home
     only know you love her when you let her go
     and you let her go...

Dia tengah bernyanyi. Lebih merdu. Lebih harmonis dengan tambahan beberapa simfoni. Dia tak menghirauku, terus melantunkan liriknya tanpa ragu. Dia lupa, bagaimana tatapan lelaki terdahulunya menatap kala dia tengah bergumam.

Dia, tengah bernyanyi di hari pernikahannya. Didampingi seorang pria, yang dalam harap merupa aku. Tapi sayang, bukan aku.



2 comments:

Hafian said...

Nyesek sekali, Dham :"(

Idham P. Mahatma said...

Terima kasih, Hafian, atas apresiasinya.

Post a Comment

Followers