April 26, 2014

Tertawa Pada Diri Sendiri





“Mengapa takut berbagi cerita?” tanyaku kepada salah seorang teman.

Jawabnya, “Aku tak cukup berani apabila dunia menertawai kisahku.”

“Adakah yang lucu dari ceritamu?” balik aku bertanya.

“Tak tahu, hanya saja kisah pelikku terkadang menjadi bahan lelucon bagi seseorang, yang aku kira sama sekali tak ada sisi terlucunya...”

Pernahkah kita menertawakan diri sendiri, jauh sebelum menjadikan orang lain sebagai bahan tertawaan. Belajarlah pada para sufi, mereka terlampau mahir melihat kelucuan dalam diri hingga menertawai. Lebih keras, lebih lantang.

Sebab, kita memang tak bisa melihat tengkuk kita sendiri, bukan?
Lantas, mengapa tertawa keras dan lantang ketika melihat tengkuk orang lain berbeda dengan milik kita?
Adakah yang paling suci ialah kita, bukan mereka?

Bandung, April 2014

0 comments:

Post a Comment

Followers