May 06, 2014

Bertatap dengan Green Canyon




Ternyata bumi Tuhan itu luas...

Sehari lalu, aku berkunjung ke tanah lapang berdekat tenang perairan hijau. Masyarakat sekitar menyebutnya Green Canyon. Namun, aku tak seberapa peduli tentang makna nama tempat itu. Yang kutahu hanya ingin aku menghirup udara bebas, tanpa kungkungan gedung-gedung pencakar yang menyesakkan.

Perahu kayu bersayap di kedua sisi mengantarku ke tengah perairan. Lebih jauh, rutenya menepi ke arah muara dekat lautan. Ombak begitu kencang, sementara perairan cukup dalam. Oh, dari atas perahu tiada yang memakai life jacket. Rautku berubah khawatir. Akan tetapi, batinku kontras, tertawa cukup keras.

“Sehina inikah menjadi manusia? Saat datang sebuah bahaya, barulah ingat kepada Sang Pencipta,” aku tengah berbicara dengan diri sendiri.

Bibir ini berbisik pelan, ber-istighfar, sembari berdoa agar selalu diberi keselamatan. Kalau dipikir, begitu lemah raga ini dibandingkan segala cipta-Mu. Hati yang terlalu angkuh, hanya tertiup oleh angin kuat lautan langsung jatuh meluruh.

Kalau saja raga ini tertimpa suatu bencana di sana, tiada yang mengerti bagaimana nasibku kini. Aku mungkin akan menimbang tentang seberapa berat amalan baikku di dunia. Lalu, sekejap saja, angan itu sirna berganti bayangan hitam akan seberapa banyak perbuatan dosa yang senantiasa ditunaikan.

“Ya Tuhan, ampuni aku... Jika kau cabut nyawaku sekarang, niscaya aku termasuk orang yang merugi. Maka, beri hamba-Mu waktu untuk memperbaiki diri,” nurani mulai membuncah lagi.

Tak berlama, perahu kayu ini berpindah haluan. Ke arah ketenangan, air yang hijau, hingga gemuruh yang tak lagi bersuara. Buku catatanku sengaja kubuka, menuliskan kisah yang akan kuguratkan.

Tentu, sebuah pengalaman tersendiri menulis cerita di atas perahu yang tengah berlayar. Dikelilingi hutan hijau lestari, beberapa tumbuhan air di permukaan, terik mentari, serta kamu.

Oh, kamu sedang tidak berada di sana. Kamu di sini, di anganku. Hasratku berandai bagaimana jika suatu saat nanti kamu kumiliki. Barangkali, akan kuajak kamu ke mari. Berdua saja, tanpa yang lain. Jangan khawatir, aku akan persiapkan dua buah life jacket untuk kita.

Aku ingin tahu, apakah kamu akan mau mengenakannya, atau justru kamu ingin menyerahkan keselamatanmu kepada Tuhan kita saja...

Bandung, Mei 2014

0 comments:

Post a Comment

Followers