May 05, 2014

Kamu Terlalu Cantik




Aku selalu bingung tentang bagaimana bersikap ketika berada di dekatmu. Ronamu yang indah itu, mewujud alasan sekaligus penyebab. Bagaimana mungkin hanya karena seraut wajah, membuat seorang lelaki tak bisa selayaknya bertingkah. Gugup. Gamang. Bimbang.

“Kamu sangat cantik. Terlampau cantik, bahkan...”

Itu opiniku saja, tetapi lelaki lain aku kira pasti mengatakan hal yang sama. Sulam alami kedua alismu tebal, menyelimuti kelopak mata yang berbinar. Mancung hidungmu, sungguh tiada yang menyangsikan. Kalau aku boleh berkelakar, barangkali itu ialah hidung paling indah di dunia.

Segala kecantikan itu tak seluruhnya kamu perlihatkan. Kamu terlalu pandai membuatku penasaran. Kerudung panjangmu membungkus mahkota wanita, menjadikannya tidak sembarang untuk dipandang. Oh, elok sekali segala yang kau punya.

Pernah aku membayangkan untuk memilikimu. Berharap kamu yang akan membuatkanku secangkir teh kala pagi nanti, menyiapkan sarapan untuk berdua, serta saat pulang kerja, hanya kamu yang kutuju sesegera, bukan yang lain.

Namun, justru aku takut untuk berkhayal lagi. Aku khawatir kecantikanmu itu akan merupa penghalang antara aku dan Tuhanku. Rautmu akan membayangi khusyukku dalam beribadah. Hingga, hanya karena tak mau kehilanganmu, maka hidupku kugantungkan padamu, bukan pada Sang Pencipta.

Aku sebegitu takut hal itu terjadi. Bagaimanapun aku berkelit, aku tetap tak bisa bohong bahwa kamu cantik. Sangat cantik. Terlampau cantik. Dalam lamunan, aku terenyak oleh kalimat, “Tuhan tiada menguji seseorang di atas batas kemampuannya. Apabila kecantikannya ialah ujian, maka Tuhan pasti tahu bahwa kamu bisa melaluinya. Bersyukurlah, semoga Tuhan memberikanmu nikmat yang melimpah.”

Aku masih duduk di sini, memandangimu dari jauh. Cantikmu mutlak, tekadku untuk mendekat kian bulat.

Tuhan, jikalau dia adalah jodohku maka dekatkanlah. Namun, jika bukan, maka jauhkanlah...

Bandung, Mei 2014

0 comments:

Post a Comment

Followers