May 24, 2014

Memuji Masakanmu




Kamu kurang bisa memasak, itu yang aku tahu. Namun, aku akan tetap suka. Tak perlu kamu khawatir rasaku berubah. Resto dan warung nasi aku kira masih bisa mengenyangkan masing-masing dari kita.

“Apa kau tak ingin aku memasak hidangan untukmu?” dia bertanya.

“Ingin, tapi sebisamu saja, aku tak memaksa...”
***

Pernah suatu hari kamu membawakanku sepotong kue bolu. Darimu aku mengerti jika kue ini ialah hasil jeripayahmu tadi pagi. Kamu membungkusnya rapi, untuk kemudian tersaji di antara lilin-lilin meja makan.

“Ini untukmu, cobalah...”

Oh, betapa kue ini hambar. Manis tidak, legit tidak. Akan tetapi, siapa yang tega mencerca setiap pemberianmu. Dengan senyum terindahku, lantas aku berkata, “Buatkan aku lagi yang seperti ini lain kali.”

Kamu tersipu. Sejenak, kamu merasa begitu cocok untuk jadi seorang ibu.
***

Kue itu masih tersisa, barang secuil saja. Tak beruntung, ibumu mencicipi hasilnya.

“Ini kue dari mana? Hambar sekali,” tuturnya.

“Tapi, Bu, kata Atma kuenya enak. Bahkan, dia minta dibuatkan lagi lain kali.”
***

Sudah kubilang, kamu kurang bisa memasak, itu yang aku tahu. Namun, aku akan tetap suka. Sudah, tenanglah...

Bandung, Mei 2014

4 comments:

Anonymous said...

Atma? MahATMA? :)

Idham P. Mahatma said...

Wah, benar. Mirip ya namanya. :)

Anonymous said...

i did read some of your writting and i guess you're such one in million of guys out there who can see things in woman's view. Well done, you made me cry :')

Idham P. Mahatma said...

Terima kasih, Diego's, atas apresiasinya.
Terharu saya membaca komentar ini.

Post a Comment

Followers