June 15, 2014

Selarik Surat untuk Ayah




Ayah, apa kabar? Bagaimana kehidupan di sana, apakah menyenangkan, atau biasa saja? Idham harap, Ayah selalu tersenyum di sana...

Ayah, maaf jikalau surat ini kurang formal. Sebab, jujur saja, Idham menuliskannya dengan tergesa. Idham ingin Ayah merasakan euforia yang sama sekarang. Tentu, bukan perkara bola, bukan. Tapi soal Ibu.

Pasti Ayah bertanya-tanya ada apa dengan Ibu? Tenang, Ayah, Ibu baik-baik saja. Seperti janji Idham dulu di depan jasad Ayah, Idham akan jaga Ibu, juga Adik, dengan sebaik mungkin. Jadi, Ayah tak perlu khawatir.

Hanya saja, Ayah, Idham ingin menyampaikan sesuatu. Kemarin tanggal 14 Juni, hari Sabtu, ada yang berbeda. Benar, Sabtu ini tak seperti biasa. Kenapa? Karena Ibu tengah berulang tahun, Ayah. Tahun ini usia Ibu genap 52 tahun. Sudah lewat setengah abad.

Ayah... Ayah pasti sudah lama tidak melihat wajah Ibu. Sejak delapan tahun silam. Iya, sejak Ayah pergi untuk selamanya meninggalkan kami dengan alasan dipanggil Sang Pencipta. Alasan itu klise, Ayah. Namun, tiap manusia pasti memakluminya.

Oh ya, Ayah, waktu Ayah tiada, saat itu Idham masih kecil, masih duduk di bangku SMP. Malah, Adik lebih parah, masih di SD kelas 5. Tapi, ternyata tanpa Ayah, kami masih sanggup hidup. Meskipun keadaannya tidak lagi sama. Tak mengapa, segala kejadian di dunia pastilah menorehkan hikmah. Dan, Ayah mengajarkan kepada kami bahwa hidup adalah perjuangan.

Ayah, Idham selalu bingung apabila ingin menjadi seorang lelaki ideal. Ketidakberadaan sosok Ayah membuat Idham mencari-cari. Mencari seseorang yang layak dijadikan panutan. Kalau Ayah menyuruh Idham bertanya pada Ibu, tentu itu berbeda. Sebab Ibu itu wanita, sedangkan Ayah adalah lelaki.

Lelaki berpikir dengan nalar dan logika, meski diimbangi dengan sekelumit perasaan. Akan tetapi, wanita dominan menggunakan rasa. Maka, jangan salahkan Idham jika nanti tumbuh dewasa tidak seperti Ayah, tapi seperti cara Idham sendiri. Ayah tidak menuntut, kan?

Ayah, di sini sekarang tengah dirayakan Hari Ayah Sedunia. Entahlah, sejak kapan hari tematik ini ada. Dahulu, saat Ayah masih ada, Idham tak pernah mengucap ‘Selamat Hari Ayah’, terima kasih, apalagi frasa mohon maaf. Oleh karena itu, Idham ucapkan saat ini juga kepada Ayah, hanya saja lewat tulisan, "Ayah, Selamat Hari Ayah Sedunia, terima kasih, serta maaf untuk segala salah."

Ayah, kiranya sudah cukup Idham berkabar. Oh ya, Idham ingin memberitahu. Sebenarnya, Idham belum kasih kado untuk Ibu. Tapi, Idham mau menjadikan larik surat ini merupa kado itu. Mewujud ungkapan narasi rindu tentang Ayah terdahulu.

Jujur, Idham ingin membacakannya di depan Ibu. Idham mau menyaksi Ibu tersedu air matanya. Bukan bersebab sedih, tetapi bahagia sembari mengingat memoria lama bersama Ayah.

Ayah, Ibu masih cantik, secantik Adik. Ayah pasti tidak percaya, padahal tak pernah Ibu melakukan perawatan atau totok aura. Oh iya, Ayah, doakan kami agar tetap diberi keberkahan hidup dari-Nya, seperti kami senantiasa mendoakan amal baik Ayah agar diterima oleh-Nya.

Ayah, Idham pamit dulu. Idham sudah besar sekarang. Akan tetapi, Idham tetap mau bilang, Idham rindu Ayah. Masih pantas, kan?

Sampai jumpa, Ayah, Idham janji akan terus memberi yang terbaik untuk Ibu dan Adik... demi Ayah.

Selamat Hari Ayah Sedunia!
Ayah terus tersenyum ya di surga.

Salam,
dari anakmu tercinta, Idham P. Mahatma.

2 comments:

kiki said...

wah, jadi inget dulu pas ka idham bilang mau pulang ke surabaya karna ibunya ulang tahun :) . nangis baca nih tulisan ka,, salam kangen nih dari kiki, anak kecil temen kakak di talk more class :) salam buat kak widya

Idham P. Mahatma said...

Wah, Kiki masih ingat ya. Lho, jangan nangis atuh, kan ini cuma cerita.
Iya, sudah disampaikan :D

Post a Comment

Followers