July 17, 2014

Kamu itu Mirip Abdul Manan




Ada yang menarik ketika saya berbincang dengan teman perempuan saya yang tengah KKN di luar Pulau Jawa. Tepatnya, di Pulau Rote Ndao, Nusa Tenggara Timur. Barangkali, awal obrolan kami terkesan sekadar basa-basi, bertanya kabar, perihal bagaimana keadaan di sana, dan lain topik sebagai pelengkap.

Namun, pembicaraan datar itu berubah menarik ketika di tengah chatting via line, teman perempuan saya ini melempar topik tentang Anak Nelayan Tanjung Bajo. Sontak, saya menimpali dan bertanya, siapa mereka? Apa yang berbeda dengan anak nelayan lain di pesisir Indonesia?

Panjang saja, Pristy, nama teman perempuan saya ini menjawab, “Mereka itu anak-anak dari Suku Bajo. Di sini mereka migrasi dari Pulau Sulawesi. Orang tua mereka seorang nelayan. Namun, kondisinya teramat kasihan.”


“Oh, begitu,” pungkas saya. Akan tetapi, belum saja saya selesai berkomentar, saya melihat posting Pristy yang lain di akun Path pribadinya. Pristy mem-publish potret wajah enam orang Anak Nelayan Tanjung Bajo lengkap dengan background pesisir Pulau Rote.

Yang saya garisbawahi bukanlah foto Pristy dengan mereka, melainkan potongan kalimat caption di bawahnya. Isinya: Senyum, canda, dan tawa mereka begitu ikhlas walau dalam segala keterbatasan. Tidak ada yang tahu, bisa saja di antara mereka ada yang menjadi menteri 20 tahun mendatang. #Generasi Muda Harapan Bangsa #Anak2 Nelayan Tanjung Bajo.

Orang awam seperti saya, pasti penasaran. Sebenarnya, siapa Anak Nelayan Tanjung Bajo ini? Mengapa mereka memilih profesi sebagai nelayan? Mengapa mereka indentik dengan kemiskinan dan keterbelakangan tingkat pendidikan? Maka, seharian ini saya berselancar, bukan di perairan Rote yang kata Pristy bagus, tapi di depan layar laptop ini.

Hmm, ternyata cukup banyak artikel yang mengulas tentang Anak Nelayan Tanjung Bajo ini. Setelah melotot seharian, ulasan dari kacamata saya sebagai berikut.

Asal-muasal Suku Bajo (Bajau) Indonesia dari Teluk Bone, Sulawesi Selatan. Saya menyebut Suku Bajo Indonesia bukan tanpa alasan. Sebab, sebenarnya Suku Bajo ini terdapat juga di luar Indonesia. Misalnya saja, di Malaysia, Thailand, dan Filipina. Bahkan, lebih terkejut lagi, Suku Bajo ini telah membentuk sebuah wadah bernama The Bajau International Communities Confederation (BICC). Tujuannya satu: untuk memajukan Suku Bajo yang masih tertinggal oleh Suku Bajo lain yang sudah terlebih dahulu sukses. Mereka juga tercatat sebagai putra dunia di UNESCO, PBB. “Kita bukan suku milik suatu negara,” ujarnya.

“Mungkin ini miniatur suku modern pada abad 20,” batin saya berkelakar. Namun, seperti biasa, kabar negatif itu akhirnya datang juga. Ternyata, dari keempat Suku Bajo tersebut, Suku Bajo Indonesia ialah yang paling tertinggal. Mereka masih hidup dalam kondisi yang memprihatinkan.

Mengapa demikian?

Bayangkan saja, jika Suku Bajo Malaysia sudah berpikiran modern dengan menjadi nelayan maju dan bermodalkan peralatan lengkap untuk memburu ikan, Suku Bajo Indonesia masih memanfaatkan perahu kayu sederhana dan jaring untuk menyambung hidupnya.

Lebih maju lagi di Thailand. Suku Bajo di sana menjadikan Phuket, wisata terkenal di Thailand, sebagai salah satu bisnis yang mereka jalankan. Pendapatannya pun besar sehingga terlampau cukup untuk memajukan peradaban mereka.

Kontras dengan di Indonesia, Suku Bajo pribumi hidup nelangsa, tersebar di sekitaran Pulau Sulawesi, Lombok, dan Flores Timur. Bagi Suku Bajo, melaut adalah tujuan hidup. Profesi nelayan merupakan mata pencaharian utama yang turun-temurun. Bahkan, pendidikan belum dipandang sebagai prioritas hidup.

“Suku Bajo mampu bertahan melawan kerasnya hidup di lautan dengan menjadi nelayan,” papar Abdul Manan, Presiden Suku Bajo Indonesia, membincangkan betapa sulitnya Suku Bajo menghadapi kehidupan sosial yang dinamis.

Seperti pada Pulau Sama Bahari, di sana Suku Bajo mendominasi sekitar 364 keluarga. Rumah penduduk di sana terbuat dari bambu, dan lagi, mereka hanya bekerja sebagai nelayan.

Dari segi pendidikan, barangkali sudah kepalang jauh tertinggal. Di pulau yang sama, hanya terdapat satu Sekolah Dasar (SD). Apabila lulus dan ingin melanjutkan, maka mereka harus menyeberang ke pulau lain. Namun, realitanya, anak-anak Suku Bajo memang tidak didorong bersekolah oleh orang tuanya, sehingga fakta menunjukkan taraf pendidikan mereka tertinggal.

Kegelisahan Abdul Manan, yang juga merangkap sebagai Kepala Bappeda Wakatobi, Sulawesi Tenggara, nampaknya dirasakan pula oleh teman perempuan saya ini, Pristy. Bayangkan saja, Pristy menulis bahwa ‘siapa yang tahu Anak-anak Bajo tersebut bisa menjadi menteri 20 tahun mendatang’.

Dalam hati saya, “Mana mungkin?” Jabatan menteri itu untuk anak-anak pintar yang beruntung mengenyam pendidikan di universitas elit sewaktu muda. Lalu dengan kelihaian dan ketekunan menjadi seorang profesional. Selanjutnya, mereka terjun ke dunia politik dan alhasil, mungkin bisa menjadi menteri.

Sementara, untuk Anak-anak Bajo, bahkan urusan sederhana seperti membaca dan menulis saja masih terlampau rumit diselesaikan. Butuh usaha sangat, sangat, sangat keras untuk bersaing dengan anak-anak di Jawa yang notabene memiliki taraf pendidikan lebih baik.

Lalu, pertanyaannya sekarang, “Mau apa setelah ini? Cuma cukup tahu? Hanya berakhir di tulisan laman pribadi sebagai informasi?”

Jawabnya tidak. Rekan-rekan di UGM, bersama Pristy, teman perempuan saya, berinisiatif melakukan KKN di sana. Tidak hanya Suku Bajo yang dibantu, penduduk asli Rote Ndao juga menjadi sasaran mereka. Dua bulan itu sebentar, tapi tanpa inisiasi takkan bisa meruap perubahan.

Senada dengan Pristy, Abdul Manan juga tak berpangku tangan melihat Suku Bajo dalam kondisi sedemikian. Beliau turut serta membangun sekolah khusus di Kendari untuk memberikan kesempatan anak-anak Suku Bajo bersekolah gratis. Di pulau yang dihuni Suku Bajo, beliau juga memberikan sistem Kejar Paket untuk menanggalkan stigma pendidikan tertinggal.

Yang seperti ini justru jarang di-blow up ke publik sehingga massa tidak tahu. Mungkin, apabila orang seperti Abdul Manan ini tidak hanya satu, bukan tidak mungkin 20 tahun mendatang ada satu di antara jajaran menteri Indonesia yang berasal dari Anak Nelayan Bajo.

“Nanti, kalau aku jadi menteri sosial, pasti aku perhatikan rakyat Indonesia yang masih hidup dalam kondisi memprihatinkan, seperti di sini,” kata Pristy, di akhir obrolan singkat itu.

Kalau dilihat-lihat, kamu itu mirip Abdul Manan, tapi dalam wujud perempuan.
(IPM)

Surabaya, Juli 2014

0 comments:

Post a Comment

Followers