August 25, 2014

Membaca Kamu





“Tinggi seorang lelaki adalah ditambah dengan janjinya,” tercetak di halaman sekian pada buku kepribadian. Aku kira, ada benarnya juga kalimat itu.

Salah satu janji terlama yang baru bisa kutepati adalah ini: menulismu. Bahkan, tak seperti barang biasanya, jemariku sukar sekali menari dengan sesuka di atas tuts alfabet. Entah mengapa. Entah ada yang salah, atau bagaimana.

Yang kutahu, kamu suka melempar kata-kata berlarik sastra. Hanya itu. Tak kulebihkan. Juga tak kukurangkan. Maaf jikalau aku apa adanya.

Dengan bahan sesedikit itu, lantas aku harus mengguratmu dalam berbait kalimat yang panjang, yang bersajak, serta yang akan membuatmu tersenyum kala membacanya. Oh, betapa itu susah.

Bukan. Bukan kamu yang salah. Aku saja yang tidak cukup mengenalmu, Nafyza.

Namun, janji adalah janji, yang harus ditepati sebelum berubah maknanya mewujud ingkar. Maka, untuk melunasi, aku mulai tenggelam mencari tahu siapa kamu dan apa-apa saja karyamu. Tenang, tak ada maksud lain, hanya ingin menuntaskan piutang tulisan.

Kalau kamu bertanya apa saja yang sudah kuperbuat, jawabnya satu: membacamu.

Bukankah untuk menulis, kita harus membaca terlebih dahulu? Bukankah untuk mengerti, kita harus giat mencari? Dan, itu caraku untuk melukis aksara ini.

Kamu itu penunggu, ya kan? Aku memahami dari frasa pembuka di laman pribadimu. Ini bunyinya: sinar matahari yang selalu menanti hujan untuk mencipta pelangi.

Kalau boleh kuterjemahkan sendiri, tentu ini akan sangat subjektif, maka kuterka ‘sinar matahari’ itu kamu, lalu ‘hujan’ adalah sesiapa yang kamu tunggu, serta ‘pelangi’ ialah bahagia. Kuharap tebakanku tidak mengada-ada.

Gadis matahari, gadis matahari. Jangan terlalu lama menanti, carilah yang pasti-pasti.

Saat bosan membaca ‘slogan penantian’, mataku tertarik mencerna Tanpamu, Aku Tetap Berlalu. Guratan yang kamu buat di bulan Juni penghujan. Kini, kamu, gadis matahari penunggu, berubah menjadi gadis matahari yang tegar. Karena, meski tanpa dia, kamu masih kuasa berjalan melanjutkan arah.

Aku salah menamaimu gadis penunggu. Maaf.

Dan, selanjutnya, gerik mataku semakin liar membaca. Huruf-huruf kecil bertipe arial segera dilahapnya. Mulai dari Kita, Jiwa yang Terbelah Dua, Ini Musim Hujan Terlama: Tanpamu, Waktu: Mengajariku untuk Menunggu, hingga yang terbaru di sana, Mengenalmu Sesabar Waktu.

Tulisanmu itu puisi. Kadang sedih, lebih banyak perih. Namun, dari sekian larik yang kucerna, aku menyukai karya berjudul Menjadi Tanpa. Sederhana, tidak dibuat-buat, tapi terkesan elegan dan mahal. Bagaimana soal isi? Tentu berkisah tak jauh-jauh dari sendiri, serta kesendirian.

Mungkin itu ciri khasmu. Tak mengapa, coz being unique is better than being perfect.

Kamu bisa menulis, simpulanku setelah membaca. Kamu bisa bercerita, simpulanku setelah mencerna. Kamu bisa terus berkarya, kalau saja lamanmu itu terus kamu isi dengan berbagai kisah.

Kalau ibumu jadi orang pertama yang mempercayai bahwa bakat menulismu itu ada. Barangkali aku bersedia mewujud orang kedua yang menyaksinya.

Lunas ya... sah!

Salam, Tukang Cerita.
(IPM)

Bandung, Agustus 2014

0 comments:

Post a Comment

Followers