September 02, 2014

Calon Kekasih Sahabatku





Sahabatku tengah mencintai perempuan yang telah memiliki kekasih. Awam, hal ini akan terlihat salah, seperti tindakan bodoh membuang waktu percuma demi perkara yang tak seharusnya.

Dia, sahabatku, sudah barang tentu lebih dulu menemukan perempuan itu. Jauh sebelum kekasihnya datang dan bersambang. Namun, dia ragu-ragu. Terlalu banyak menimbang, mana benar, mana kurang.

Lalu, ketidaktegasannya meruapkan derita. Kala perempuan itu menerima permintaan lelakinya, untuk menjadikannya seorang kekasih, ia tak menunggu lama memberi jawaban, “Ya, aku juga suka.”

Seketika, wajah sahabatku tak serupa biasanya. Murung, ditekuk tak rapi, sedih, bercampur kalut akibat tiada sanggup memaknai. Dan... kalimat ini pun terucap, “Ya, kalau jodoh ya tidak lari ke mana,” belum sempat berhenti, ia menambahi, “Memang benar, cinta kan tak harus memiliki.”

Mungkin ada benarnya. Mungkin juga kalimat itu hanya ungkapanmu yang dengan tegas menerima kekalahan. Atau, dengan kata lain: menyerah.

Ah, cemen sekali kau! Perihal rebutan perempuan, yang terpenting bukan berebut untuk mendapatkannya. Lebih penting daripada itu ialah... memantaskan diri. Cobalah kau bangun dirimu. Berbicara lebih sopan. Belajar lebih giat. Berlaku lebih anggun.

Kalau dengan berubahnya dirimu menjadi lebih baik tak juga membuatnya tertarik kepadamu, tentu juga bukan masalah. Sebenarnya, Tuhan telah memakai konsep perempuan itu untuk menaikkan kelas pribadimu.

Dampak positifnya: kini, kau lebih berkelas.

Satu lagi, coba kau resapi ini: if she is not for you, you’re for somebody else, better. Selamat berjuang, Sob! Perempuan tidak hanya dia!
(IPM)

Bandung, September 2014

2 comments:

kaRtiKa tRianiTa said...

(y)

Idham P. Mahatma said...

Terima kasih atas 'jempol'-nya, Trianita :D

Post a Comment

Followers